DENPASAR, Balipolitika.com– Duta Kota Denpasar siap tampil dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 dengan mengusung konsep yang sarat makna filosofis dan budaya.
Usung tema besar “Atma Kerti” bermakna memuliakan jiwa yang paripurna, Duta Kota Denpasar menghadirkan garapan berjudul “Tattwa Parisudha Vasudhaiva Kutumbakam”.
Garapan ini menitikberatkan pada hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Koordinator Lapangan Duta Kota Denpasar, Ida Bagus Eka Haristha atau yang akrab disapa Gus Eka menjelaskan bahwa konsep tersebut merupakan respons terhadap tema yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Bali.
“Tatwa Parisuda berbicara mengenai kebenaran dan hakikat kehidupan, serta bagaimana membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam. Konsep ini berlandaskan Tri Hita Karana sebagai jalan menuju jiwa yang paripurna,” ujarnya saat diwawancarai, Sabtu, 6 Juni 2026.
Melalui pawai budaya tersebut, Kota Denpasar akan menampilkan beragam identitas budaya yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Bali.
Busana adat, uperengga, gebogan, hingga berbagai elemen budaya khas Denpasar akan hadir dalam satu kesatuan narasi yang utuh.
Tidak hanya itu, sejumlah kesenian Bali yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO juga turut ditampilkan.
Legong, Sanghyang Dedari, Barong, dan sejumlah kesenian tradisional lainnya menjadi bagian dari rangkaian pawai yang akan memadukan unsur tradisi dengan pesan filosofis yang mendalam.
Menjelang pelaksanaan PKB yang akan berlangsung pada Sabtu, 13 Juni 2026, persiapan Duta Kota Denpasar disebut telah mencapai tahap akhir.
Gus Eka menerangkan seluruh rangkaian latihan telah hampir selesai dan hanya menyisakan beberapa pertemuan terakhir sebelum penampilan.
“Saat ini persiapan kami sudah mencapai seratus persen. Tinggal latihan pengingat dan gladi bersih sebelum tampil,” katanya.
Mengelola pawai dengan jumlah peserta yang sangat besar menjadi tantangan tersendiri bagi Gus Eka.
Ia menyebut jumlah talent yang terlibat mencapai sekitar 700 orang, sementara total keseluruhan tim pendukung hampir mencapai 800 orang.
Tantangan terbesar ungkap Gus Eka bukan hanya pada teknis pelaksanaan, tetapi juga bagaimana menyampaikan ide dan konsep yang dibawakan kepada seluruh peserta.
“Yang paling penting adalah komunikasi yang jelas. Ketika arah dan tujuan dipahami bersama, semua orang akan tahu apa yang harus dilakukan dan kapan harus melakukannya,” jelasnya.
Untuk menjaga semangat dan kedisiplinan peserta, pihaknya menerapkan budaya latihan yang konsisten.
Latihan yang dimulai sejak 5 Mei 2026 dilakukan dengan jadwal yang relatif singkat, namun tetap mengedepankan kedisiplinan dan tanggung jawab setiap peserta.
Di tengah kesibukan mempersiapkan PKB, Gus Eka juga menaruh perhatian besar terhadap regenerasi seni tradisi Bali.
Ia menilai perkembangan teknologi yang begitu cepat harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendekatkan generasi muda dengan budaya lokal.
Melalui Naluri Manca yang didirikannya, Gus Eka mencoba membangun ruang kreatif yang dekat dengan dunia anak muda.
Pendekatan tersebut dilakukan dengan menghadirkan berbagai aktivitas yang relevan dengan keseharian generasi saat ini sebelum memperkenalkan mereka lebih jauh pada seni tradisional Bali.
Menurutnya, strategi tersebut cukup efektif dalam menarik minat generasi Z dan Alpha untuk terlibat dalam kegiatan seni dan budaya.
Hingga saat ini, 650 anak dan remaja tercatat aktif mengikuti berbagai kegiatan di sanggar tersebut.
Lebih jauh, ia mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak pada budaya serba instan yang berkembang seiring kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan.
Gus Eka menyebutkan bahwa ada 5 prinsip yaitu, penggalian, pelestarian, pemanfaatan, pengembangan, dan pembaharuan.
Baginya, proses belajar, berlatih, dan berjuang tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter.
“Kalau hanya berorientasi pada hasil, mungkin kecerdasan meningkat. Namun, tanpa menghargai proses, etika dan kesadaran bisa perlahan berkurang. Itu yang perlu kita jaga di tengah perkembangan teknologi saat ini,” pungkas Gus Eka.
Ke depan, Gus Eka berharap Pesta Kesenian Bali tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga wadah dialog atau forum diskusi antar seniman dari berbagai daerah di Bali.
Dengan demikian, PKB dapat terus berkembang sebagai ruang bersama untuk menjaga sekaligus memperkuat keberlanjutan seni dan budaya Bali di tengah perubahan zaman. (bp/Ida Ayu Kade Sintya Kumala Dewi/4A/Basindo/Undiksha)













