SAN JUAN, PUERTO RICO, Balipolitika.com– Meski tengah berada jauh dari tanah air untuk bekerja di kapal pesiar dan mengarungi samudra lintas benua, semangat aktor teater sekaligus penyair Moch Satrio Welang dalam berkarya tak sedikit pun surut.
Bertepatan dengan bersandarnya kapal di San Juan, Puerto Rico, pada 1 April 2026, Satrio meluncurkan dua karya perdananya secara virtual: buku puisi berjudul “Kalamuning Sunya” dan kumpulan cerita pendek “Gumelaring Geni”.
“Kalamuning Sunya” memuat 43 puisi pilihan yang lahir dari proses kontemplasi mendalam selama bertahun-tahun.
Sementara itu, “Gumelaring Geni” menghadirkan 14 cerita pendek dengan beragam tema dan pendekatan.
Salah satu cerpen yang bertajuk “Gayatri” bahkan disajikan dalam bahasa Bali hasil terjemahan Ni Komang Ari Pebriyani, yang kian memperkaya nuansa budaya dalam buku tersebut.
Kedua buku ini dibuka dengan esai pengantar oleh kritikus sastra Arif Bagus Prasetyo.
Menurutnya, dalam kumpulan cerpen tersebut, Satrio menunjukkan kepiawaian meramu gaya bertutur dengan menggabungkan unsur lirisisme yang lembut dan realisme yang cenderung gelap.
Penggunaan simbol-simbol alam serta budaya yang kuat menjadi ciri khas yang memperkaya setiap narasi, sekaligus mencerminkan dinamika batin para tokohnya.
Dunia yang dibangun dalam cerita-cerita tersebut digambarkan sebagai ruang yang retak, namun tidak sepenuhnya kehilangan harapan.
Di balik nuansa getir yang dihadirkan, tetap terselip nilai spiritualitas dan kesadaran diri.
Pembaca diajak menyelami sisi rapuh kemanusiaan sekaligus menemukan secercah cahaya di dalamnya.
Menariknya, kedua buku ini memiliki keterkaitan yang erat. Beberapa cerpen dalam “Gumelaring Geni” memuat puisi-puisi yang juga terdapat dalam “Kalamuning Sunya”.
Hal ini menunjukkan kemampuan Satrio dalam menjembatani dua genre sastra—prosa dan puisi—menjadi satu kesatuan estetika yang utuh.
Arif menilai bahwa karya puisi Satrio memiliki kekuatan besar dalam membangun lanskap puitik yang reflektif.
“Satrio Welang membangun lanskap puitik yang mencerminkan perjalanan manusia dari penderitaan menuju kesadaran. Buku puisi ini seolah membentangkan riwayat luka bangsa dan jiwa manusia,” tulis Arif.
Peluncuran ganda ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan kreatif Satrio.
Kedua karya tersebut merupakan buah dari proses panjang selama kurang lebih 17 tahun, terhitung sejak 2008 hingga 2025.
Rentang waktu tersebut menjadi ruang bagi Satrio untuk mengolah pengalaman, perenungan, serta eksplorasi artistik hingga akhirnya dituangkan dalam bentuk literatur.
Sebagai langkah awal, Teater Sastra Welang telah menyiapkan program lanjutan untuk memperkenalkan kedua buku ini kepada publik secara luas.
Melalui Festival Seni Kalamuning Sunya – Gumelaring Geni 2026, berbagai kegiatan dan kompetisi seni sastra akan digelar sepanjang tahun sebagai bentuk publikasi dan apresiasi terhadap karya-karya tersebut.
Profil Singkat
Moch Satrio Welang adalah aktor teater dan penyair kelahiran Surabaya, 14 April 1982.
Ia memulai debutnya di Teater Orok Universitas Udayana (2003) dan Kelompok 108 pimpinan Giri Ratomo (2004), sebelum akhirnya mendirikan Teater Sastra Welang pada 2010.
Satrio merupakan penerima penghargaan Aktor Terbaik Gelar Teater La Jose 2010.
Ia juga dikenal sebagai penggagas Sawma Awards (penghargaan teater monolog di Bali), sayembara sastra Sawtaka Nayyotama Award, serta anugerah buku sastra Siwa Nataraja Literary Award. (jk/ken/bp)










