“I dream my painting, and then I paint my dream.” (Vincent van Gogh)
LUKISAN TERAKHIR Vincent van Gogh, “Tree Roots“, selesai pada Juli 1890 di Auvers-sur-Oise, Prancis, sesaat sebelum ia tiada. Seperti dilansir dari BBC, lukisan ini menggambarkan akar-akar pohon yang terjalin di lereng bukit dan dianggap sebagai representasi visual dari perjuangan hidupnya yang keras. Lukisan ini ditemukan di lokasinya pada tahun 2020. Saat ini berada di Van Gogh Museum di Amsterdam.
Vincent van Gogh cenderung populer karena gemerlap kuning bunga matahari, dan langit malam yang berputar gila. Namun sebaliknya, kali ini ia menyelam ke dalam kegelapan, menyuguhkan sebuah pemandangan yang menggetarkan: akar-akar pohon yang kusut, bergumul, dan berlekuk-lekuk di tepi gundukan tanah. Lukisan tersebut adalah sebuah ‘studi tentang kekacauan’.
Akar-akar tebal dan terpilin itu bukan sekadar fitur botani; mereka adalah pahatan dari kuas yang gelisah, diwarnai dengan sapuan yang tebal. Tidak ada garis horizon yang jelas, tidak ada langit yang damai, hanya intensitas pergulatan di antara tanah dan kehidupan. Van Gogh menempatkan mata kita langsung pada fondasi yang tersembunyi, menuntut kita untuk mengakui tugas berat yang terjadi di bawah permukaan.
Jika bunga matahari adalah tentang puncak kegembiraan dan kecerahan, maka akar-akar ini adalah tentang eksistensi yang keras kepala. Mereka adalah simbol dari perjuangan tanpa henti yang menopang seluruh entitas. Di tengah bayangan, di dalam kelembapan dan kegelapan yang sunyi, akar tersebut mencari, menjangkau, dan berpegangan erat. Mereka mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati seringkali tidak berada pada hasil yang terlihat indah, melainkan pada daya juang dan daya tahan yang tak kenal menyerah di zona tertentu yang tidak diperhatikan orang lain.
Kali ini lukisannya bukanlah sekadar pemandangan alam. Ia adalah sebuah visual testament dari pergulatan hidup yang intens, diabadikan dalam goresan kuas tebal dan liar. Dibuat di hari-hari terakhir sang seniman, karya ini tidak menampilkan kemegahan batang atau rimbunnya dedaunan, melainkan fokus pada apa yang tersembunyi, yang berjuang di bawah permukaan bumi.
Kanvas itu ‘meledak’ dengan palet warna biru kobalt, kuning, dan hijau tua yang ‘berbenturan’ secara ekspresif. Konon Van Gogh menggunakan teknik impasto secara brutal, menumpuk cat seolah-olah ingin memahat emosi di atasnya. Akar-akar yang kusut, membelit, dan menyebar itu menyerupai urat nadi bumi yang telanjang, atau mungkin, benang-benang saraf yang tegang, yang akhirnya menemukan jalannya menuju ekspresi. Dalam benturan warna dan pahatan cat, kita mencerap gejolak batin yang tidak dilenyapkan, melainkan diabadikan.
Lukisan tersebut merupakan manifestasi dari energi yang tak tertahankan; sebuah ‘kekacauan yang berstruktur’ yang barangkali hanya dapat dipahami melalui perasaan. Inilah inti dari daya tarik lukisan ini: ia memaksa kita untuk mengakui keelokan yang ada dalam disorganisasi dan ketidaksempurnaan.
Secara metaforis, ia berbicara tentang fondasi eksistensi kita. Dalam kehidupan, kita cenderung mengagumi penampakan yang indah, kesuksesan, gelar, atau penampilan luar, sementara mengabaikan akar yang berada di kegelapan dan berliku. Akar Van Gogh adalah reminder bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada apa yang dipamerkan, melainkan pada ketahanan yang terjalin erat dalam keheningan dan kesulitan. Setiap bengkokan dan simpul akar adalah catatan sejarah (historical notes) tentang pencarian air, penghindaran aral, dan perjuangan untuk mempertahankan kehidupan.
Karya ini abadi bukan karena kejelasan bentuknya, namun karena kejelasan emosinya. “Tree Roots“ adalah perpisahan yang jujur dan berani, menantang kita untuk melihat diri kita sendiri sebagai bagian dari lanskap yang kacau tetapi gigih. Seolah ia mengajarkan kita bahwa eksistensi kekacauan yang mendasari, keraguan, perjuangan, atau trauma, adalah justru sumber dari seluruh pertumbuhan. Di akhir hayatnya, Van Gogh tidak melukis keindahan yang tenang, melainkan keanggunan dari daya tahan yang tak pernah usai.
Konsep “perjuangan di balik layar” menyingkap ilusi tentang kesempurnaan instan. Sebagian kita memandang kesuksesan sebagai puncak yang dicapai tanpa upaya berarti. Namun, justru ini mengingatkan bahwa setiap pencapaian, setiap ketenangan, adalah hasil dari pertarungan yang tak terucapkan.
Sama seperti pohon yang memperkuat akarnya untuk menghadapi badai yang akan datang, manusia berjuang dalam keheningan: melawan keraguan diri, menanggulangi rasa sakit, dan memproses kegagalan. Ini adalah perjuangan personal yang membentuk karakter, memberikan resiliensi, dan menjadi fondasi yang tak terlihat. Perjuangan inilah akar yang semestinya diakui dan dihargai.
Mengapresiasinya adalah ibarat menatap cermin yang merefleksikan jiwa, yang telah melewati badai, dan entah bagaimana, mengakar. Jiwa yang terawat dan didera luka barangkali menunjukkan bahwa mengakar bukan berarti kekakuan, melainkan kemampuan untuk menancapkan identitas dan keyakinan diri jauh ke dalam bumi kesadaran, menarik nutrisi justru dari kesulitan masa lalu. Keuletan ini, yang divisualisasikan oleh setiap goresan kuas.
Hal ini menolak pasivitas, dan mewujud menjadi energi yang membuncah. Ia memilih jalur berliku tempat mekarnya bunga-bunga keunikan. ‘Kemantapan yang hidup dan liar’ adalah keberanian untuk survive, dan melestarikan keindahan (internal). Ini bagai seruan abadi untuk nantinya bertumbuh ke atas dan ke luar, bahkan ketika dunia di sekitar terasa hambar, diam, kelam, senyap, dan ‘membeku’.
*penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.










