LELAKI itu membuka jendela rumahnya setiap pagi layaknya orang yang baru keluar dari kegelapan.
Dia tinggal di dalam rumahnya sepanjang hari dan hanya memeriksa keadaan d luar dari gawai gadget. Bertahun dia menjalankan hidupnya sendiri dan cuma jendela itu yang menjadi perhatiannya.
“Manusia lebih sulit keluar dari kegelapan di era terbuka sekarang ini dimana informasi dan jaringan meluas,” ucapnya sambil membuka jendelanya hati-hati.
—–888—–
Orang memanggilnya Pak Besar. Lantaran tubuhnya yang besar di antara orang-orang yang terlanjur ikut membesarkan namanya.. Tapi itu sepuluh tahun yang lalu. Kini tak lagi. Tak ada lagi orang yang memanggilnya Pak Besar- bahkan tak ada seorang pun yang sudi memanggilnya. Namanya tiba-tiba seperti air yang dimasak hangus. Habis dengan wajan penuh cemong.
Segalanya tiba-tiba berubah. Hdupnya tinggal kekosongan. Dan dia merasa tak lagi beririsan dengan waktu. Tidak masa lalu. Tidak sekarang. Apa lagi masa depan. Dia tak pernah lagi menatap waktu. Hanya jendela itu yang selalu mencoba membawanya bertemu dengan waktu.
Waktu seketika bukan lagi detik menit jam yang membawa dirinya pergi untuk berangkat ke kantor atau menghantar dirinya pulang ke rumah. Waktu bagai sesuatu yang berlarian dalam kekosongan.
Di tengah kesenyapan yang hebat itu segalanya membawanya kepada kegelapan. Kegelapan tak terperi. Sudut-sudut ruang yang singgah dan diabaikan. Percakapan yang dulunya hidup menjadi tumpukan-tumpukan memori dan diabaikan. Perasaan dan hasrat yang muncul dalam gelora dan tulus dan diabaikan. Puisi yang memberi nafas panjang atas rindu suara hujan hampir pasti diabaikan. Semua menunggu daftar masuk ruang kegelapan.
—–888—–
Pak Besar tokoh kita ini dahulunya bisa dibilang seperti magnet. Dimana orang selalu ingin dekat dan menempel kepadanya. Itu dikarenakan dia dianggap punya kharisma dan pesona. Pribadinya yang sederhana dan orang merasa senang juga nyaman, merasa diayomi, dididik, diopeni, dinasehatkan, dikasihi dan dimanusiakan.
Kharismatik Pak Besar tertanam dalam kemampuan dan kecerdasan. Dia pandai dan mumpuni dalam membuat riset, menulis segala bentuk tulisan, memainkan alat musik sampai kepada keahliannya di bidang kuliner. Dan yang lebih disegani kawan-kawanya, serta koleganya yang aktivis atau elit politik adalah Pak Besar sebagai sosok penasehat spiritual, dimana dirinya dapat membaca masa depan. Dan yang disukai banyak orang, Pak Besar pandai memainkan situasi atau pun membuat dan mengucap kata yang aneh dimana dalam sekejap orang satu ruangan bisa meledak dalam tawa. Dan yang tak bisa dilupakan kawan atau kolega, Pak Besar ahli dalam berpidato dan retorikanya dapat memperpanjang orang duduk secara tekun mendengarkan dan menyimak setiap ucapannya.
Hanya dari segala kehebatannya itu, dia kurang pandai dalam bercinta. Dan ini yang menjadikan celaka tiga belas!
Semua perempuan yang menjadi kekasihnya sering dibuatnya kecewa cuma karena hal yang sepele. Sulit memang memahami kenapa itu bisa terjadi. Dia pandai memikat perempuan sekaligus mengecewakannya. Hingga akhirnya terbelenggu dan dirinya masuk dalam mitos lelaki yang mengecewakan perempuan.
Mungkin kalian pembaca bertanya-tanya ada masalah apa sesungguhnya pada Pak Besar tokoh kita ini?
Yang pasti, ini bukan perkara seks. Sebagai lelaki jantan Pak Besar libidonya atau hasrat seksnya sangat besar bisa dibilang melebihi tokoh James Bond dalam film yang menjadi kegemarannya. Dia bukan seorang Don Juan, tokoh yang juga diidolakannya. Dia ingin seperti idoanya itu, namun tak bisa, malahan tak mungkin. Dia pernah mencoba tapi selalu gagal dan gagal.
Pembaca mungkin ingin tahu apa hal sepele itu? Tapi masalahnya reputasi Pak Besar terburu jatuh oleh para perempuan yang dikecewakannya. Dan tak mudah atau tak sebanding kekecewaan itu dengan reputasi dirinya. Hingga Pak Besar akhirnya memutuskan menghilang dari kehidupan sosialnya. Tinggal di rumah saja sepanjang hari dan membuka jendela rumahnya setiap pagi selama bertahun-tahun.
—–888—–
Pada suatu hari Pak Besar tiba-tiba dikejutkan oleh kiriman paket pos. Dia segera meloncat ke luar dan jantungnya hampir copot. Instingnya seolah ingin mendahului insiden buruk apa lagi yang bakal datang kepadanya? Karena sudah sepuluh tahun dia tak pernah menerima secarik surat, kartu pos, apalagi sebuah paket.
Paket pos itu ternyata dari mantan kekasihnya.
Dia heran, ternyata masih ada di dunia ini perempuan yang pernah dikecewakan laki-laki dan masih mengingat hari ulang tahunnya? Paket ucapan selamat ulang tahun itu tiba sore hari saat dia sedang menutup jendela rumahnya.
Sebuah paket kecil yang dibungkus begitu rapih dengan kertas minyak merah jambu. Di atas paket tertulis nama pengirimnya Sharafah, perempuan yang tergila-gila padanya di usia 17 tahun. Dia perempuan pertama yang meninggalkannya. Tapi sesungguhnya dia tak pernah pergi. Dia hanya ingin menjadi perempuan pertama yang pergi dan seolah dikecewakan. Dia yang mencipta mitos kekecewaan perempuan pada Pak Besar. Dan sungguh mitos kekecewaan membuktikan bahwa Pak Besar telah membuat kesalahan besar karena berani menjalin hubungan dekat dengan perempuan sinting seperti Sharafah.
Dengan hati-hati dibukanya paket itu. Sempat berpikir jangan jangan paket itu akan mengeluarkan gas beracun atau membawa segala hal yang dapat merusak atau menghancurkan tubuhya. Perempuan sinting seperti Sharafah dapat berbuat apa saja demi kepuasannya.
Tapi, untung dugaannya itu tak terjadi. Sharafah tetap Sharafah, dia tak segila yang dibayangkan. Dia hanya perempuan yang ingin menunjukkan bahwa antara cinta dan benci ada garis hubung dan dia selalu mencari titik tengahnya.
Sharafah memberi Pak Besar sebuah syal sebagai kado ulang tahun. Sebuah syal dari Paris tertanda dari merek yang juga dikenal akrab oleh Pak Besar. Syal biru dan elegan. Dalam syal itu terserak secarik kertas bertulis: “Mungkin kamu akan memerlukan syal ini bila keluar rumah di malam hari. Selamat ulang tahum, Pak Besar. I love you.”
Pak Besar tersenyum membaca kalimat surat itu. Dia teringat Sharafah yang baru 17 tahun menyatakan cinta kepadanya: I love you. Sekarang usianya sudah 27 tahun.
Sharafah, anak seorang pengusaha besar ini suka bikin kejutan. Ayahnya kawan dekat Pak Besar. Dan di depan ayahnya pada usia 17 tahun dia menyatakan jatuh cinta pada Pak Besar. Meski kelakuannya rada sinting begitu, tapi Sharafah punya pengaruh yang besar di pergaulan lingkungannya yang elit.
Pak Besar mencoba berpikir. Tiba-tiba dirinya jadi bertanya-tanya lagi, tanda-tanda apa ini? Apa yang akan terjadi setelah ini? Pak Besar jadi berpikir dan bertanya, bertanya dan berpikir. Hingga dia kesulitan tidur dan baru dapat memejamkan matanya setelah pukul tiga pagi, setelah merasa lelah.
—–888—–
Hingga pagi itu Pak Besar terlambat bangun. Matahari telah menclok ke puncak, dan jendelanya masih tertutup. Dia baru membukanya setelah mendengar suara orang memanggil-manggil ke dalam.rumahnya.
“Paket! Paket! Pak Besar ada paket untuk anda.”
Pak Besar segera keluar dan mengahmpiri si tukang paket. “Ada apa ya? Kemarin kan sudah saya terima paketnya,” tanya Pak Besar.
“Iya, ini ada lagi buat Pak Besar.”
Pak Besar kaget dan merasa aneh. Bagaimana ini bisa terjadi? Sudah sepuluh tahun dia tak pernah lagi menerima pos, terlebih kiriman paket. Sekarang dia menerima kiriman paket kedua. “Ada maksud apa lagi?” ucapnya bertanya-tanya dalam hati.
“Ini paketnya Pak Besar,” kata si tukang paket sambil menyerahkan paket kepada Pak Besar. Pak Besar kembali kaget. Karena tidak hanya satu paket, melainkan dua kiriman sekaligus. Dia menimbang-nimbang apa dia tolak semua paket ini?
“Pak Besar! Pak Besar!” si tukang paket memanggilnya. Pak Besar kaget lagi sampai tak memperhatikan orang di depannya. “Sudah ya saya pamit Pak Besar,” ucap si tukang paket melintas pergi. Pak Besar menganga mulutnya tak menjawab. Karena dia tak percaya dua paket yang diterimanya itu berasal dari dua mantannya yang lain yang pernah dikecewakannya.
Yang satu dari Yuni Kartika, mantan kekasih Pak Besar yang paling pintar dalam soal masak-memasak dan banyak mengajarkan Pak Besar tentang kuliner. Paket yang kedua dari Sari Endah, mantan kekasihnya yang pemalu dan sopan, seorang putri keraton. Pak besar memegang paket itu dengan perasaan was-was. Dia seperti diteror dua hari ini oleh perempuan-perempuan kekasihnya. Dia masuk ke dalam rumahnya sambil menerka-nerka apa yang diinginkan para perempuan ini.
Yuni Kartika memberinya kaos Jersey Menchester United asli dari London. Di dalam suratnya yang tertulis dalam kertas kecil biru muda dia bilang: Kaos jersey ini mungkin akan menumbuhkan semangat kamu untuk berolah raga biar tak lekas lupa dan tua. Selamat ulang tahun Pak Besar. I love yo so muaahhh.
Sedang Sari Enda memberinya topi sofball. Juga diiringi ucapan: Men Sana et Corpore Sano. Topi ini mungkin akan mengingatkanmu untuk terus bergerak dan lari. Selamat ulang tahun Pak Besar. I love you, Darling.
Pak Besar mencoba menetralisir keadaan dengan berhenti bertanya-tanya. Dia mencoba bersikap positif saja dorongan untuk berolah raga. “Mungkin mereka ingin mengingatkan, dan tak ada yang salah bagi dirinya kembali berolah-raga,” pikirnya. Meskipun begitu dia hanya akan berolah raga di dalam rumah saja.
Dia teringat sesuatu dan kemudian berjalan ke pojok ruangan rumahnya dimana tampak di sana sepatu dan peralatan olah raganya tergeletak begitu saja dan tak pernah disentuhnya lagi.
Dia sekilas tersenyum menatap benda-benda itu. “Waktu seperti barisan kenangan yang hilang dan sekali muncul untuk menyadarkan bahwa kita benar-benar telah banyak kehilangan,” desisnya pada benda-benda itu. Kemudian dia kembali ke kamar, kembali pada pikirannya dan kembali kepada perempuan-perempuan itu: Sharafah, Yuni Kartika, Sari Endah.
Dan itu belum selesai. Keesokanya lagi tukang paket itu datang kembali dan memanggil-manggilnya.
“Pak Besar! Pak Besar!
Pak Besar segera keluar.
“Ada apa lagi ya Dek? Kan sudah saya terima semua paketnya dua hari berturut-turut,” kata Pak Besar tak dapat menahan kesal merasa dipermainkan.
“Iya Pak Besar, ini ada paket kiriman lagi buat Bapak,” jawab tukang paket.
Kali ini dia tak ingin kaget lagi. Dia sudah tak peduli dan langsung menerima saja. Tapi dia tak kunjung bisa menerima paket-paket tanpa kaget. Dua paket lagi yang datang dari dua perempuan lain yang juga pernah dikecewakannya: Sumiati, kekasihnya yang aktivis buruh dan Sophia, juga mantan kekasihnya, anak seorang penjaga pintu air Katulampa.
Sumiati memberinya kado ulang tahun sebuah kaca mata hitam. Dan pada kartu ucapannya dia bilang: “Kamu mungkin berpikir sudah saatnya keluar untuk jalan-jalan santai dan kaca mata ini akan menemanimu. Selamat ulang tahun Pak Besar. I love you my hero. Sebagai aktivis buruh Sumiati lama ditempa Pak Besar dan dia berada duduk di kursi parlemen sekarang.
Sophia memberinya kado ulang tahun sebuah lukisan dimana Pak Besar dalam lukisan itu tampak sedang berenang di kali Ciliwung, di tengah orang ramai yang sibuk meminta pertolongan padanya sebagai korban banjir.
Pak Besar berpikir tentang sesuatu yang terjadi, belum terjadi dan tidak terjadi. Semuanya sebagai rentetan waktu yang absurd dalam kesendirian hidupnya. Kehadiran perempuan perempuan mantan kekasihnya itu seperti benang yang ingin mengukur kelurusan perasaannya. Pak Besar sadar dari ke lima mantan kekasihnya dan kata-kata mereka yang tertulis dalam selembar kertas ucapan ulang tahun itu sebagai monolog yang siap dimainkan.
Mereka pasti tahu alamat email dan nomor WhatsApp Pak Besar, di sana dia dapat membuka dialog, kenapa memilih dengan surat dan secarik kertas. Pak besar berpikir tentang siasat? Bermain-main dengan monolog? Bermain-main di tengah kesendirian. Apakah ke lima perempuan mantan kekasihnya itu sedang memainkan monolognya masing-masing, atau dia yang justru harus memainkan? Di panggung yang kosong, monolog adalah senjata yang ampuh bagi aktor untuk menyerang sekaligus bertahan. Tapi dia hanya berupa kekosongan panggung itu.
Belum tuntas Pak Besar berpikir tentang siasat, datang lagi si tukang paket..
“Paket! Paket! Pak Besar ada paket buat anda.”
Pak Besar tergopoh-gopoh ke luar dan mulai kalut dengan permainan sinting ini. Pak Besar dibuat jadi awuta-awutan.
“Ada apa lagi ya Dek?” Kan sudah saya terima semua.”
“Iya Pak Besar. Ini ada lagi paket untuk anda.”
Pak Besar mencoba menetralisir perasaannya yang kalut, kali ini dengan mengunyah permen Fox yang diambil dari sakunya. Dia menerima paket itu. Dua paket dari dua mantan kekasihnya yang lain: Rini Damayanti, kekasihnya yang peneliti dan dosen, dan Puspaningrum, mantan kekasihnya yang penari. Pak Besar benar-benar merasa apa yang terjadi ini sebagai yang tak mungkin. Bagaimana mungkin seorang peneliti dan akademisi yang super sibuk masih sempat mengingat ulang tahun laki-laki yang pernah mengecewakannya. Juga penari seperti Puspaningrum yang gemar ke daerah-daerah dan pedalaman untuk meneliti dan mengamati gerak dan tari suku-suku pedalaman masih menyempatkan mengucapkan ulang tahun kepada laki-laki yang pernah mengecewakannya.
Rini Damayanti memberi kado ulang tahun sebuah buku berjudul: “Derita Hidup Homo Safiens.”. Puspaningrum, perempuan dimana hati besar Pak Besar merasa terpikat, memberinya kado ulang tahun dalam paket dus besar berisi 10 bungkus biji kopi terbaik di Nusantara.
—–888—–
Pagi itu setelah membuka jendela rumahnya Pak Besar duduk di teras sambil menikmati minuman kopi dan pancake yang dibuatnya sendiri dengan baluran coklat yang lebih. Coklat baik untuk membawa mood perasaan senang. Kemudian dia mengambil hp dan seperti biasa memeriksa email yang masuk. Dia selalu berlaku begitu memeriksa email-nya setiap pagi seolah-olah dia orang yang masih sibuk dan penting sebagaimana di waktu dulu sepuluh tahun yang lalu dia menghabiskan waktu paginya dengan membaca dan menjawab ratusan email yang datang kepadanya. Padahal dalam kesendirian sekarang tak ada satu pun email yang datang kepadanya. Mungkin hanya sebuah kenyataan dalam dirinya setiap pagi memeriksa email ini sebagai menunjukkan bentuk post power sindrom kecil yang terus melekat dalam dirinya.
Tapi pagi itu segalanya muncul kembali. Teman dan koleganya ramai-ramai menyapanya hangat dan memberinya ucapan selamat ulang tahun. Ada Hardiman, Theo Kafka, Parangin Sihombing, Dedy Makassar, Paulus Rumbettu, Henry Jangkung, dan banyak lagi yang lainnya. Hampir seratus kawan dan koleganya menyambang email-nya pagi itu dengan nuansa penuh keakraban, seperti sepuluh tahun ini hubungan mereka tak pernah terputus.
Hardiman terutama, koleganya yang pengusaha besar dan ayah Sharafah menyapa: Hei Pak Besar! Selamat ulang tahun bro. Nanti kita akan berkunjung ke rumah. Aku, Theo, Henry Jangkung. Sampai Jumpa. Salam, Hardiman.
Bagi Pak Besar, Hardiman salah seorang kolega yang baik dan istimewa. Hubungan mereka terjalin lama dan selalu baik. Sempat menjadi aneh sewaktu Sharafah, anak Hardiman yang baru berusia 17 tahun, suka dan jatuh cinta pada Pak Besar. Hardiman dan istrinya ternyata terlalu sayang kepada putri satu-satunya itu. Mereka bilang kepada Pak Besar agar diterima saja cinta Sharafah, jangan ditolak, anggap saja Sharafah sedang terkena demam cinta monyetnya. Pak Besar antara menolak dan tak bisa menolak, kemudian menuruti kemauan Hardiman dan istrinya, demi menjaga perasaan Sharafah.
Pak Besar dan Sharafah akhirnya berpacaran, dan benar-benar berpacaran sebagaimana umumnya orang berpacaran. Seorang Pak Besar, laki-laki dewasa berusia 40, berpacaran dengan yang 17, memang terlihat aneh dan lucu. Tapi Sharafah selalu bilang: urusan cinta tak ada yang aneh dan lucu.
Pak Besar memaklum keinginan Sharafah untuk berpacaran serius dan all out. Pak Besar pelan-pelan membawanya kepada kedewasaan. Mereka suka bicara tentang hidup dan kehidupan. Hubungan mereka berlangsung selama dua tahun. Karena Sharafah menjadi cepat dewasa secara yakin dan tiba-tiba tanpa kompromi lagi dengan orang tuanya meminta Pak Besar untuk menikahinya. Proses memaklumi segala keinginan Sharafah akhirnya berakhir di sini.
Pak Besar dan Hardiman mengatur siasat agar Sharafah menjadi kecewa dan memutuskan Pak Besar. Pak Besar berpura-pura menjalin hubungan dengan perempuan lain dan foto-foto kemesraan Pak Besar dengan perempuan itu dikirimkan Hardiman kepada Sharafah berupa surat kaleng. Sharafah terprovokasi dengan isi surat kaleng itu dan marah besar kepada Pak Besar. Tanpa pikir panjang dengan emosi meluap-luap dia memberikan kata putus kepada Pak Besar. Pak Besar mengaku salah dan memohon maaf kepada Sharafah, dan menerima keputusan Sharafah memutuskan hubungan mereka berdua.
Pak Besar kemudian pergi menjauh dari Sharafah, dan banyak terlibat dalam pekerjaan riset di masyarakat pedalaman. Tapi Sharafah tak pernah pergi meninggalkan Pak Besar. Dia selalu memantau kemana pun Pak Besar pergi atau berada, banyak orang suruhannya yang menyelidiki aktivitas Pak Besar.
—–888—–
Sharafah tiba-tiba muncul dalam email-nya: Hallo Pak Besar. Bagaimana Sudah Terima paketnya?”
Pak Besar langsung menjawab: Terima kasih ucapannya. Terima kasih juga kadonya.
Sharafah membalas: Kita sedang bertujuh di sini.
Pak Besar membalas: Bertujuh?
Sharafah membalas: Iya. Aku, Yuni, Sari, Sumiati, Sophia, Rini dan Puspa.
Pak Besar membalas: Oh ya. Kok bisa?
Sharafah mengirim foto dan video singkat mereka bertujuh ke Pak Besar.
Pak Besar membalas: Waduhhh…speacheless.
Mereka bertujuh membalas: haha….wkwkwkk.
Pak Besar membalas: Tuhan maafkan hamba.
Mereka bertujuh membalas dengan emoticon gambar orang tertawa ngakak sebanyak tujuh kali. Setelah percakapan berhenti, Pak Besar sadar bahwa apa yang terjadi atas semua ini adalah ulah Sharafah.
Sejenak terdiam. Dan jari-jemarinya menuliskan sesuatu di sana.
Perempuan, jangan sedih perempuan
Karena dunia tak pernah peduli dengan kesedihan
Perempuan, jangan takut perempuan
Karena kata-kata lebih kuat dari ketakutan
Perempuan, jangan marah perempuan
Karena pikiran tak bisa penuh dengan kemarahan
Perempuan, tersenyumlah
Seperti pagi tersenyum saat pertama merasakan
Jatuh cinta
******——******
Sorenya Hardiman datang bersama Theo Kafka dan Henry Jangkung. “Pak Besar, apa kabar? Akhirnya kita jumpa!” Hardiman dan kawan-kawan datang memeluk Pak Besar. Tamu-tamu ini memang orang yang selalu hangat dalam percakapan dan pergaulan. Sementara Pak Besar masih tampak kaget dan canggung.
Hardiman yang tahu nuansa hati Pak Besar berusaha membesarkan perasaannya. Hardiman dan kawan-kawan meminta Pak Besar berbicara dengan berpidato menceritakan hal dirinya yang menghilang selama ini. Dengan berpidato di depan orang-orang keyakinan Pak Besar bangkit tumbuh.
Tanpa ragu dan sungkan Pak Besar langsung mulai pidato:
“Terima kasih atas kunjungan dan ucapan dari kawan kolega semua. Senang dan bahagia rasanya dapat berjumpa dan dikunjungi kalian semua. Hari ini seperti hari spesial bagi hidup saya, mendapat perhatian yang besar pada hari jadi saya dari banyak orang.
Kawan-kawan dan kolega semua, mungkin ingin bertanya apa yang saya lakukan selama 10 tahun belakangan? Sama sekali tak ada yang saya lakukan, kawan-kawan kolega semua, kecuali satu: Membuka jendela rumah setiap pagi.
Membuka jendela rumah sebagai membuka pandangan mata, dan mungkin juga harapan. Sebagai laki-laki saya tentu tak pernah berpikir hidup sendiri seperti sekarang ini. Tapi saya menyadari bahwa hidup tak linear, sejurus yang kita bayangkan dan inginkan. Terkadang ada kelokan, teka-teki dan kejutan.
Sebagaiman saya hidup sendiri dan sepanjang hari hanya tinggal di rumah, Kesepian dan kesunyian mengarungi waktu hidup saya hingga tidur. Tapi hari ini saya dikunjungi oleh kawan-kawan kolega saya yang baik dan murah hati. Dan tak terlupa juga dari mantan kekasih. Bahwa ini semua memberi arti bahwa saya masih ada.
Dan sekarang dengan kerendahan hati saya memohon kepada kawan-kawan kolega semua, izinkan saya menghadirkan mereka ke hadapan kawan dan kolega. Mereka akan hadir dan bicara lewat video live streaming ini.
Sharafah bertujuh muncul dalam layar dan bicara: Selamat sore om-om semua. Sebelumnya kita bertujuh di sini ingin mengucapkan sekali lagi selamat ulang tahun buat Pak Besar, sosok yang kita hormati dan kita kagumi semua. Pak Besar memang orang Besar. Terbukti beliau telah mengasihi, membawa dan mendidik kami bagaimana menjadi perempuan sejati, perempuan yang independen.
Kami bertujuh mengucapkan terima kasih dan merasa senang Pak Besar dalam keadaan bugar dan sehat. Dan kami berharap beliau selalu sehat dan kembali rajin berolah raga.
Udah ya om-om semua. Selamat ngumpul. Sekali lagi, makasih Pak Besar. Happy Birthdays.
Video live streaming tertutup seketika mereka menghilang.
Pak Besar kembali melanjutkan pidatonya:
Kawan-kawan bisa lihat tadi, betapa perempuan-perempuan itu begitu tampak charming dan lincah-lincah. Sedang kita sudah sebagai laki-laki perbatasan dalam hal usia dan tampilan, antara dewasa dan lanjut usia. Dan Sharafah, putri pak Hardiman itu seperti bidadari yang jenius. Sedang enam kawannya sebagai dayang-dayang yang setia. Saya merasakan drama hidup yang sehidup-hidupnya. Dalam arti kata saya nyaris tak dapat berbuat sesuatu keluar dari drama ini. Saya hanya terpaku menatap hidup dari jenndela yang saya buka setiap pagi.
Begitulah perempuam. Daya kasih dan kecewa dapat menjadi dua sisi mata uang di matanya. Tapi terus terang saya mencintai mereka. Cinta laki-laki yang tak pernah berhenti memahami arti perempuan, hasrat dan kekecewaan.
Saya tak tahu apa yang terjadi esok pada diri saya. Hanya saya percaya hari ini saya bahagia. Dan saya ingin keluar dari mitos kekecewaan perempuan.
Demikian Pak Besar mengurai dan mengakhiri pidatonya. Disambut tepuk tangan dan pelukan oleh ketiga koleganya. Hardiman membuka botol wine dan menuangkannya dalam gelas memberinya kepada Pak Besar. Mereka berempat saling tos dan minum bersama. “Drama sudah selesai, Pak Besar. Kita akan selalu bersama dan takkan pernah berpisah. Mitos kekecewaan itu sudah dikubur Sharafah sejak kemarin saat dia berikan syal pada Pak Besar sebagai rasa kasih,” kata Hardiman dan disambut gelak tawa dan rangkulan pada Pak Besar oleh Theo Kafka dan Henri Jangkung. “Dan, Sharafah sangat mencintai Pak Besar. Saya sebagai ayahnya hanya bisa memaklumi perasaannya itu. Tapi segalanya sudah selesai, kekecewaannya sudah menjadi bentuk kerinduan baru yang dia buat. Katanya, kita semua sudah menjadi keluarga besar. Dan dalam keluarga besar itu hanya ada cinta dan kerinduan. Seperti yang selalu Pak Besar ajarkan kepada mereka semua: cinta dan kerinduan kepada manusia.”
BIODATA
Muhammad Solihin Oken lahir di Jakarta, 26 Oktober 1970. Pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, dan mengikuti Program Course Paska Sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Aktif bersastra sejak mahasiswa. Pernah menekuni profesi wartawan sejak 1996 hingga 2013. Sejak 2009 ia rajin menulis puisi di media sosial. Buku puisi terbarunya berjudul “Sajak Selikur” (2022).













