BADUNG, Balipolitika.com – Nasib apes memang tak ada di kalender. Demikian yang Asran alami. Bocah 4 tahun itu, harus meregang nyawa usai hanyut terbawa arus lalu tenggelam dan meninggal dunia.
Kejadiannya pada Rabu, 26 November 2011 petang. Asran terbawa saluran irigasi di daerah Jumpayah, Mengwitani, Badung.
Berdasarkan keterangan warga sebagai saksi mata di lokasi, awalnya Asran dengan ayahnya bermain di depan halaman rumah.
Sang ayah kemudian hanya meninggalkan sebentar Asran, karena ada yang hendak berbelanja dan ia melayani pembeli.
Sayang sekali, lokasi itu dekat dengan parit, sehingga membuat ayah Asran tak sadar akan bahaya yang mengintai anaknya.
Benar saja, tragedi terjadi tatkala ayahnya kembali untuk melihat sang anak. Sayang sekali, anaknya sudah tidak terlihat.
Ia segera memeriksa CCTV, dan ada rekaman video bahwa Asran terjatuh ke parit lalu terbawa aliran hingga tak terlihat.
Perkiraan waktu kejadian kurang lebih pada pukul 16.30 Wita, pihak keluarga bersama warga sudah berupaya melakukan pencarian hingga ke gorong-gorong, akan tetapi hasilnya nihil.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar baru menerima informasi pada pukul 18.20 Wita dari Polres Badung, untuk meminta bantuan pencarian. Segera hadir 7 orang personel dari kantor yang berlokasi di Jimbaran.
Saat personel dalam perjalanan, ada informasi bahwa korban atas nama Asran sudah ketemu. Secara kebetulan ada warga melintas dan menemukan jenazah korban di aliran sungai Desa Kekeran.
“Lokasi penemuan berjarak 1,25 Km arah barat daya dari lokasi kejadian. Tim SAR gabungan pada pukul 19.00 telah mengevakuasi target dalam keadaan meninggal dunia,” kata Kadek Adi Yudana, selaku Koordinator Tim Pencarian di lapangan.
Hal tersebut langsung warga laporkan kepada kepolisian setempat, yang ketika itu turun langsung melakukan pencarian.
Selanjutnya korban terbawa menuju RSUD Mangusada Badung menggunakan mobil patroli Polsek Mengwi. Unsur SAR gabungan lainnya yang ikut terlibat dalam operasi SAR adalah Polsek Mengwi, Babinkaptimas, Pol Air Polres Badung, Kepala Desa Kekeran, pihak keluarga korban dan masyarakat setempat. (BP/OKA)







