“Mesin, berikan kartu nasibku hari ini”
(Sungai Mississippi, Frans Nadjira)
Ada masa ketika puisi hanya lahir dari keheningan. Dari malam yang panjang, dari tatapan kosong ke jendela, dari perasaan yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari. Puisi adalah cara manusia menyampaikan sesuatu yang paling halus dari dirinya, sesuatu yang tak sanggup diucapkan dalam percakapan biasa. Kini, masa itu belum sepenuhnya pergi, tetapi telah berubah wajah.
Puisi tidak hanya duduk diam di lembar buku, koran, atau majalah sastra. Kini, ia melompat ke layar ponsel, menari di video, dan muncul di tengah lalu lintas notifikasi. Dunia digital mengubah cara kita berjumpa dengan puisi. Dan di tengah arus itu, muncul sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya: kecerdasan buatan (artificial intelligence), mesin yang bisa menulis, berbicara, bahkan berpuisi. Lalu, kita pun mulai bertanya: masihkah puisi menjadi milik manusia?
Puisi hari ini hidup di dunia yang sangat sibuk. Ia muncul di antara jeda scroll, di antara pesan singkat, di sela iklan dan video hiburan. Bentuknya pun ikut menyesuaikan, yakni lebih pendek, lebih padat, lebih ringkas, lebih langsung. Kadang hanya tiga atau empat baris, tapi mampu membuat seseorang berhenti sejenak, berpikir, dan merenung.
Namun, dalam kecepatan itu, puisi menghadapi dilema. Ketika segala sesuatu ingin segera dibaca dan dilupakan, bagaimana nasib kata-kata yang seharusnya direnungkan? Puisi yang dulu membutuhkan waktu untuk dibaca dan direnungkan, kini harus bersaing dengan durasi perhatian yang makin pendek. Puisi yang dulu disusun dengan kesunyian, kini berhadapan dengan kebisingan algoritma.
Perubahan ini tentu tidak buruk sepenuhnya. Justru, di situlah bukti bahwa puisi mampu beradaptasi. Ia tidak menolak zaman, ia menyesuaikan dirinya. Puisi kini bukan hanya karya sastra. Puisi kini menjadi bentuk komunikasi yang lebih lentur. Selain tampil sebagai teks, puisi juga tampil sebagai gambar, video, musik, suara, bahkan percampuran berbagai elemen seni.
Kecerdasan buatan (AI) kini mampu menulis puisi dengan cepat dan nyaris akurat. Ia bisa meniru gaya ucap penyair terkenal, memilih diksi, menyusun irama, bahkan menciptakan majas yang terdengar indah. Tapi di balik keajaiban itu, ada sesuatu yang hilang: pengalaman dan rasa.
Kecerdasan buatan bisa menulis tentang rindu, tapi ia tidak pernah bisa merindukan siapa pun. Ia bisa menggambarkan kehilangan, tapi ia tak pernah benar-benar merasa kehilangan. Puisi yang lahir dari mesin atau kecerdasan buatan adalah pantulan dari pola, bukan dari perasaan.
Namun menariknya, kehadiran kecerdasan buatan justru membuat kita kembali merenungkan: apa sebenarnya yang membuat puisi itu hidup? Yang membuat puisi terasa bernyawa bukan hanya karena pilihan kata yang tepat dan indah, melainkan kehadiran kedalaman batin di baliknya. Sebuah kejujuran dari kedalaman batin yang tak bisa direkayasa. Dengan begitu, mesin tidak membunuh puisi; ia mengingatkan kita bahwa puisi yang sejati bukan hanya soal kata-kata, melainkan kesadaran dan pengalaman batin di baliknya.
Walau banyak yang khawatir, sebenarnya AI tidak menjadi pesaing atau musuh bagi penyair. Ia bisa menjadi alat bantu kreatif, semacam cermin yang memantulkan ulang gagasan kita dalam bentuk baru. Mesin bisa membantu menemukan kata-kata yang terlupakan, merangkai struktur, atau memperkaya inspirasi dan imajinasi. Tapi makna dan rasa tetap lahir dari manusia.
Di sinilah terjadi perubahan peran. Penyair kini bukan hanya penulis, tapi juga kurator makna. Ia memilih, menyaring, dan memberi jiwa pada puisi yang dihasilkan oleh mesin. Puisi menjadi proses dialektika antara intuisi dan kecerdasan manusia dengan kecerdasan buatan.
Daripada “copas” mentah-mentah, puisi hasil buatan mesin harus diedit, diolah, bahkan ditulis ulang. Hanya dengan dengan metode ini, penyair yang menggunakan AI, masih bisa menghargai pengetahuan, pengalaman, perasaan, pikiran dan kecerdasannya.
Apakah ini berarti puisi kehilangan keasliannya? Tidak juga. Puisi justru memperluas batas-batas dirinya. Hal ini membuktikan bahwa kreativitas bukan tentang menolak alat, melainkan bagaimana menggunakannya tanpa kehilangan hati nurani.
Di tengah banjir puisi yang dihasilkan mesin, keaslian memang menjadi nilai yang paling langka. Kita mudah menemukan puisi yang manis dan cepat viral, tapi sulit menemukan puisi yang benar-benar jujur. Puisi yang jujur mungkin tidak memikat banyak pembaca, tapi ia menyentuh sisi terdalam manusia, sesuatu yang tak bisa diukur dengan “like” atau “view”.
Kita hidup di zaman ketika kata-kata bisa diproduksi tanpa melibatkan perasaan. Karena itu, tugas penyair dan pembaca bukan sekadar menciptakan atau menikmati, tapi menjaga makna agar tidak larut menjadi sekadar data dan rangkaian kata-kata hampa. Puisi tetap harus menjadi ruang refleksi, tempat manusia kembali belajar merasa, merenung, dan menemukan kembali dirinya.
Kecenderungan puisi mutakhir juga memperlihatkan pergeseran tema. Puisi kini banyak berbicara tentang kehidupan digital, tentang kesepian di tengah konektivitas, tentang identitas yang terpecah antara dunia nyata dan maya. Bahasa teknologi bisa menjadi metafora kehidupan sehari-hari. Misalnya, sinyal yang hilang menjadi lambang kehilangan, pesan yang tak terkirim menjadi tanda penyesalan.
Pada titik ini, teknologi tidak lagi sekadar alat, tetapi bagian dari pengalaman emosional manusia. Puisi menjadi cara manusia berdamai dengan dunia yang semakin artifisial, mencoba menjaga sisi lembutnya di tengah kehidupan yang serba cepat dan dingin.
Mungkin, inilah fungsi puisi di zaman ini, menjaga agar manusia tetap manusia. Ketika banyak pekerjaan bisa digantikan mesin, ketika bahasa bisa direplikasi algoritma, maka yang tersisa hanyalah kemampuan kita untuk merasa, meragukan, atau mencintai. Puisi tidak menyaingi teknologi, ia menyeimbangkannya dengan cara-cara tertentu yang lebih lentur dari mesin.
Puisi membuat kita ingat bahwa di balik semua kecerdasan buatan, masih ada sesuatu yang tidak bisa direkayasa: empati, kesedihan, harapan. Dan selama manusia masih mampu menulis dari hal-hal seperti itu, maka puisi akan selalu menemukan rumahnya, apa pun bentuknya nanti.
Puisi tidak akan hilang, ia hanya berganti wujud. Mungkin nanti kita akan lebih sering membaca puisi lewat layar hologram, atau mendengarnya dibacakan oleh suara sintetis. Tapi esensinya tetap sama: keinginan manusia untuk memahami dirinya sendiri melalui bahasa.
Selama masih ada manusia yang mau berhenti sejenak dari kesibukan, yang masih mau mendengarkan kata-kata dengan hati, selama itu pula puisi akan terus hidup. Bukan hanya sebagai karya sastra, tapi sebagai jejak kemanusiaan di tengah dunia yang semakin canggih.***
*Tulisan ini pernah disampaikan dalam bentuk orasi sastra pada peluncuran buku puisi “Share” terbitan Bali Politika di Dalam Rumah Community Hub, Denpasar, 1 November 2025.
BIODATA
Wayan Jengki Sunarta lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Ia menamatkan pendidikan Antropologi Budaya di Fakultas Sastra, Universitas Udayana (1994-2000). Ia juga pernah kuliah seni rupa di ISI Denpasar (2002; tidak tamat). Selain dikenal sebagai sastrawan, ia adalah penulis dan kurator seni rupa serta menekuni hobi melukis. Ia pernah mengikuti workshop Penulisan Seni Rupa di Jezz Gallery, Denpasar (2002), pembicara dalam seminar Membangun Dinamika Seni Rupa Indonesia di Galeri Nasional Jakarta (2007), pembicara dalam diskusi seni rupa Art Making: Potensi dan Tantangan Seni Rupa Bali Kini di Bentara Budaya Bali (2013).
Sejak 2001, ia rajin menulis ulasan/kritik seni rupa yang dimuat di berbagai media massa, seperti Kompas, Media Indonesia, Jawa Post, Bali Post, The Jakarta Post, Sinar Harapan, Majalah Gatra, Majalah Gama, Majalah Visual Arts, Majalah Arti, Majalah Gong, Majalah Warisan Indonesia, Majalah Sarasvati. Sejak 2005, selain menulis pengantar untuk katalog pameran seni rupa, ia juga sering menjadi kurator. Tulisannya yang berjudul Pita Maha dan Sanur School, Dua Terminal Seni Lukis Modern di Bali menjadi nomine Lomba Penulisan Kritik Seni Rupa yang digelar Dewan Kesenian Jakarta tahun 2005.













