KLUNGKUNG, Balipolitika.com– Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Klungkung angkat bicara soal sosok Ida Rsi Mundi yang viral di media sosial (medsos) lantaran meminta welas asih umat dengan alasan untuk bayar utang, biaya pendidikan anak, beli beras, usaha, hingga membangun Griya Pasraman Loka Natha Giri Pedoman, Nusa Penida.
Ketua PHDI Klungkung, Ida Bhawati Pasek I Putu Suarta menjelaskan bahwa Ida Rsi Mundi tidak menempuh upacara Diksa Pariksa, yakni upacara pengecekan dan verifikasi administratif serta kesiapan mental serta spiritual calon sulinggih sebelum upacara Padiksan atau Dwijati melalui PHDI Klungkung.
Upacara Diksa Pariksa ini bertujuan untuk memastikan kelengkapan persyaratan administrasi, kesiapan calon dalam membimbing umat, dan mendapatkan pengakuan dari keluarga, lembaga, serta masyarakat.
“Terkait Ida Rsi Mundi yang sedang viral, bukan Diksa Pariksa dari PHDI Klungkung. Dari abhiseka-nya saja sudah memakai agni. Itu menandakan Beliau adalah bagian dari Vedha Poshana Ashram, sehingga kami dari PHDI tidak bisa berbuat banyak. Nabenya juga sampun lebar. Kocap nabenya itu adalah Ida Pedanda Sebali Tianyar,” ucap Ida Bhawati Pasek I Putu Suarta, Selasa, 7 Oktober 2025.
PHDI Klungkung jelas Ida Bhawati Pasek I Putu Suarta sudah berusaha menghubungi Pasemetonan Bujangga terkait sosok Ida Rsi Mundi.
“Tiang hubungi untuk memberikan nasihat kepada Beliau, tapi tidak bisa karena yang bersangkutan bukan rekomendasi dari pasemetonan,” ungkap Ida Bhawati Pasek I Putu Suarta.
PHDI Klungkung menggarisbawahi ritual Diksa Pariksa bukan perkara mudah karena menuntut kesiapan sekala niskala untuk lepas dari urusan keduniawian.
“Kalau kami di PHDI melakukan Diksa Pariksa sudah barang tentu pertama yang kami tanyakan adalah kesiapan dari yang bersangkutan dan keluarga dekatnya. Administrasi juga tidak kalah pentingnya. Kita juga menanyakan kesiapan daripada nabenya. Kita pastikan yang bersangkutan mempunya nabe, yaitu Tri Angga Nabe: Nabe Napak, Nabe Saksi, dan Nabe Waktra karena inilah yang akan bertanggung jawab kepada Nanak yang dilahirkan,” ungkapnya.
Ida Bhawati Pasek I Putu Suarta menekankan bahwa Tri Nabe yang merupakan sebuah konsep dalam ritual Dwiksya (penyucian) pada agama Hindu Bali yang terdiri dari tiga guru suci, yaitu Nabe Napak, Nabe Saksi, dan Nabe Waktra atau Guru Putra berperan masing-masing sebagai guru utama, guru saksi atau pengawas, dan guru yang memberikan petunjuk atau wacana keagamaan.
“Sampai saat ini, keberadaan Beliau (Ida Rsi Mundi, red) tidak terdaftar di PHDI,” tegas Ida Bhawati Pasek I Putu Suarta.
Terkait perilaku meminta-minta Ida Rsi Mundi yang salah satunya disampaikan melalui akun media sosial alias medsos, PHDI Klungkung mewanti-wanti bahwa itulah pentingnya proses Diksa Pariksa yang ketat.
Seseorang yang sudah memutuskan “Melinggih” tidak dibenarkan berlaku seperti seorang walaka atau umat biasa.
“Makanya harus ada garis ekonomi yang kuat menopangnya, terutama oka-oka (anak-anak, red) yang bersangkutan. Siap tidak mempunyai seorang sulinggih? Sekarang ini banyak yang diabaikan. Pokoknya Malinggih dulu. Seharusnya sudah siap sekala niskala sebelum Malinggih.Pertama, kesiapan yang bersangkutan. Kedua, kesiapan yang menopang. Jangan sampai nanti setelah Malinggih lagi mencari pekerjaan sebagai petani, sebagai pedagang, dan lain sebagainya. Tidak boleh itu. Harus sudah lepas dari keduniawian. Yang namanya Sulinggih, maknanya duduk dengan tenang; duduk dengan indah,” tutup Ida Bhawati Pasek I Putu Suarta. (bp/ken)













