SERPIHAN mentari pagi menyembul dari punggung timur, beberapa kilatan sinar berani menembus tirai tipis jendela. Ia merayap pelan ke ranjangku seperti tangan tak dikenal datang meraba. Geramnya cahaya, menghantam kulitku tanpa kasih, seolah ia adalah tuan atas segenggam hidupku. Rasa sakitnya menusuk hingga ke relung hati membuat emosi dalam diriku membara. Aku memaksa diriku bangun dari pelukan mimpi. Barangkali, itu adalah sebuah tanda perlawanan terhadap kobaran sinar yang tak sabar membangunkanku.
Tidak. Jangan bilang kejadian itu sesuatu yang wajar. Mentari ini kurang ajar. Tanpa sopan santun merampas kegembiraanku untuk setidaknya berlama-lama dalam kehangatan selimut pagi. Aku membencinya. Aku harus melawan karena ia sungguh mengganggu.
Kebencian itu merayap menyelimuti jiwa, membuat pagi kian getir. Takut, geram dan barangkali gelisah berpadu.
“Nak… bangun! Ini sudah hampi siang!” Teriak ibu dari ruang tamu. Suaranya bergema saat merapikan sisa-sisa makanan semalam. Piring dan gelas berserakan setelah semalam menikmati moke[1] merah pemberian Om Tinus, saudara ibu, dan tolakan se’i babi Timor[2] buatan ibu. Teriakan itu melengking di telinga, seperti cambuk yang melecut di punggung. Tak satu kata pun keluar dari mulutku menjawab teriakan itu. Aku tak gubris dengan ibu. Malahan, aku tambah nyaman dalam hangatnya selimut bulu domba. Pikiran pun membeku dalam keheningan, seraya tak mampu merangkai alasan. Kehangatan itu pun sepnuhnya menguasai pagi.
Ranjang terus menggoda. Hangatnya memikat seperti rayuan iblis yang memadamkan segala ketakutan akan dunia luar. Itulah sebabnya tiap kali ada suara memanggil aku begitu acuh.
“Hei… cepat! Bangunlah! Jangan kalah dengan rayuan ranjang ini,” teriak Ibu kedua kalinya. Rupanya ia tak sabar membangunkanku. Ia menyusup masuk, melewati pintu kamar yang hanya dipalang dengan sehelai kain gorden usang. Tiba-tiba suaranya mendekat. Mulutnya nyaris mencium telingaku.
Teriakkan ibu semakin keras, memukul gendang telinga seperti gelombang tak terbendung. Bisa saja telingaku jadi tuli. Aku tak sanggup lagi mendengar teriakan itu. Tanpa rasa bersalah, aku bangkit tergesa.
Anak pemalas, tak tahu diri, tak berguna. Demikian kata-kata yang siap aku terima bila mengabaikan panggilan ke sekian itu. Meski aku tahu, teriakan Ibu adalah wujud sederhana dari berbagai cinta.
Perhatian ibu tak pernah dan tak akan lekang oleh waktu.
“Iya, bu…..” Jawabku lirih. Kaki perlahan turun menyentuh lantai.
“Ayo nak. Cuci muka dulu, atau sekalian mandi saja biar semangat dan segar kau jalani hari ini,” pinta ibu sambil mengaduk kopi arabika dalam cangkir kaca. Aromanya menyeruak. Tanpa ragu, aku menurut. Langkah kakiku mendekat ke kamar mandi, meninggalkan keengganan dari pelukan ranjang.
Lima menit kemudian, air mengalir membersihkan sisa kantuk. Di mata ibu, tak ada lagi yang kurang beres. Sarapan siap saji telah menanti di meja. Hidangan sederhana menggoda selera dan mengaduk gejolak lapar. Aku tak bisa menahan diri dengan aroma masakan itu. Dengan tergesa-gesa, aku melahapnya.
“Selamat makan nak,” ucap ibu lembut. Selepas menyendok makanan ke piring kaca, tangannya membelai rambutku. Aku balas dengan anggukan penuh syukur, sebab masih banyak anak di luar sana yang tak mendapat perhatian dari seorang ibu.
Seketika, aku teringat berita tangisan seorang gadis cilik di Palestina. Di tengah puing-puing bangunan megah sisa perang, ia sendirian dalam kelaparan. Ia seolah mengadu ke pemilik langit; ingin berjumpa dengan ibunya dan kembali menikmati keindahan cintanya. Tangisannya barangkali rindu yang belum berlabuh, bahwa ia tak bisa hidup tanpa sosok ibu.
Ibu serupa jantung teruntuk anak. Tiap detik ia berdetak kepada anak, mengalirkan cinta dan kehangatan. Aku sungguh beruntung masih merasakan cinta dari ibu. Aku memiliki jantung penuh cinta yang selalu mendetakkan kasih.
“Bu, enak sekali. Boleh aku habiskan semua?” Pujiku, berharap ibu memberikan tambahan seporsi lagi. Ibu tersenyum, matanya berbinar.
“Nak, ibu bahagia melihatmu tumbuh besar, menjadi pemuda tangguh yang siap bertarung dengan masa depan.”
Sehabis sarapan, aku pamit. Seperti biasa, saat beranjak atau pulang kerja, bibirku selalu mencium tangan ibu. Kali ini, ciuman itu lebih dalam, penuh kelembutan.
“Bu…., aku berangkat kerja dulu ya.”
Kata-kata itu mengalir. Langkah membawaku keluar rumah, meninggalkan bekas ciuman hangat di tangan ibu. Mungkin dengan harapan, sepulang kerja aku masih melihatnya girang seperti saat aku berangkat kerja.
Pukul dua belas siang, terik matahari menyengat laksana pedang api. Lembut menikam kulit dan keringat mengguyur seluruh tubuh. Biar begitu, aku tak mengalah. Langkah tetap tegar melawan panas yang membakar.
Di persimpangan jalan saat kembali menuju rumah, mataku tertarik pada seorang ibu tua yang meromok. Ia merangkul tas besar sambil menangis. Isak tangisnya membiarkan air mata mengalir di hamparan pipi. Tubuhnya kaku bagai pohon tua yang diterpa angin musim. Tangannya gemetar seperti daun di musim gugur. Ia tampak kesakitan. Atau mungkin sekedar pelipur lara.
Seketika langkah terhenti. Aku mengamati dia dengan teliti dan tanpa ragu suara hati berbisik; dekati ibu itu. Jaraknya tak jauh, membuat langkahku cepat menyusurinya.
“Bu… mengapa menangis? Siapa yang menyakiti hatimu?” Tanyaku lembut. Tanganku membelai pundaknya, berharap membuka pintu cerita. Pertanyaan itu terasa naif saat ia bungkam. Kami berdua pun tenggelam dalam keheningan.
“Ceritakan padaku. Mungkin aku bisa bantu,” desakku lagi. Rasa penasaran membara menanti kisahnya.
Tiba-tiba, wajahnya terangkat pelan. Tatapannya kosong ke depan. Ia pun mulai menceritakan kisah masa lalu dengan suara lirih; “Dulu, aku adalah seorang wanita paling cantik yang memikat hati banyak lelaki. Bahkan orang asing datang memaksa, ingin meminangku sebagai kekasih. Tapi orang tuaku menolak. Mereka berpikir, orang asing hanyalah penikmat tubuh semata. Lalu, mereka menjodohkan aku dengan lelaki tanah air, agar bisa melahirkan keturunan pribumi yang tangguh. Dan, puji Tuhan, kami dikaruniai sepuluh anak.”
“Mereka di mana?” tanyaku
Lewat senyuman yang terbersit di bibirnya, ia ingin menjawab. Tapi, air matanya lebih dahulu tumpah membasahi pipinya.
“Semuanya merantau nak, tak tahu ke mana,“ jawabnya sambil mengusap sebagian air mata.
Ibu itu sudah renta. Usia semacam itu mesti butuh belaian tangan anak-anak untuk merawat.
“Aku rindu wajah mereka. Rindu masa lalu bersama mereka. Rindu adanya kebahagian.“
Hening kembali menyelimuti, tapi iba membuncah di dadaku. Aku enggan untuk menjauh darinya. Dilema memikat hati; merawat atau membiarkannya pada takdir?
“Mungkin, sesama mereka pun tak saling mengenal apalagi berbagi kasih,” ungkap ibu itu, sambil mengenang sepuluh orang anaknya.
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Kasihan pada ibu tua itu. Bukankah ibu adalah mahkota yang mesti dimuliakan? Dari rahimnya mereka bisa mengenal dunia. Dan, dari air susunya mereka bisa hidup. Semuanya ibu itu ikhlaskan, meski perih mencengkam hati. Itulah sebabnya di bawah telapak kaki ibu ada surga. Tapi, kenapa masih ada anak yang tega membuang surganya?
Keterangan:
[1] Moke: Minuman tradisional yang memiliki kandungan alkohol
[2] Tolakan se’i babi Timor: Daging babi yang dibakar dan dimakan untuk campur dengan moke
BIODATA
Krisogonus Kusman, biasa disapa Gonsi atau Gogon, adalah seorang mahasiswa Filsafat semester VI pada Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Selain sebagai mahasiswa, ia merupakan seorang calon imam misionaris religius dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Selama di Ledalero, ia suka membaca dan menulis sastra, khususnya cerpen.













