BULELENG, Balipolitika.com- Bermula dari ajakan guru saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Rety Wijayanti atau akrab disapa Rety kini berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih juara 1 dalam perlombaan puisi tingkat nasional yang diselenggarakan Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Sabtu, 23 Mei 2026
Sebelum dinobatkan sebagai kampiun, Rety yang saat ini duduk di semester IV Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Ganesha berhasil lolos 5 besar bersaing dengan 108 peserta yang dari sejumlah kampus ternama, yakni Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng.
Rety mengaku bahwa kecintaannya terhadap dunia puisi tumbuh secara tidak sengaja.
Saat masih di sekolah dasar, ia diajak oleh sang guru untuk mengikuti lomba puisi yang akan diadakan kala itu.
Dari pengalaman tersebut, ia mulai mengenal dan menyukai dunia sastra, khususnya puisi.
“Awalnya saya hanya iseng diajak guru mengikuti lomba puisi. Lama-kelamaan saya merasa dunia puisi itu seru, sehingga saya semakin tertarik dan sering mengikuti berbagai perlombaan,” ungkap Rety diwawancarai, Senin, 8 Juni 2026.
Kecintaannya terhadap puisi menjadi alasan utama dari dirinya untuk terus aktif mengikuti berbagai kompetisi.
Menurutnya, puisi telah menjadi hobi yang memberikan ruang untuk mengekspresikan diri sekaligus mengembangkan kemampuan yang dimiliki.
Dalam perlombaan tingkat nasional tersebut, Rety membawakan puisi berjudul Ibu karya penyair terkenal D. Zawawi Imron.
Puisi tersebut mengisahkan kerinduan seorang anak perantau kepada ibunya, terutama melalui penggambaran kasih sayang ibu yang tak pernah surut meskipun terpisah jarak.
Puisi tersebut yang mengantar Rety untuk memperoleh juara pertama tingkat nasional.
Meski berhasil meraih juara pertama, Rety mengaku persiapannya terbilang sangat singkat.
Setelah dinyatakan masuk lima besar, ia hanya memiliki waktu sekitar tiga hari untuk berlatih secara intensif.
Bahkan, puisi yang akan dibawakan baru dipastikan sehari sebelum keberangkatan setelah berdiskusi dengan seniornya untuk mengetahui puisi apa yang benar-benar cocok untuk dirinya.
“Saya benar-benar tidak menyangka bisa menjadi juara satu karena persiapannya sangat minim. Makanya saat pengumuman, saya benar-benar tidak berekspektasi,” katanya.
Keberhasilan tersebut juga mendapat respons haru dari dosen pembimbingnya, yang mengaku sangat bangga hingga meneteskan air mata ketika mengetahui prestasi yang diraih Rety.
Dalam perjalanan mengembangkan kemampuan berpuisi, Rety menilai peran pelatih dan pembimbing sangatlah penting.
Ia sering meminta masukan dari berbagai pihak, termasuk seniman yang dikenalnya, untuk meningkatkan kualitas penampilannya.
Selain puisi, Rety juga aktif mengikuti berbagai perlombaan di bidang seni dan sastra, seperti teater, drama monolog, baca berita, dan voice over yang menunjukkan bahwa kecintaannya dengan sastra sangat lah nyata
Di akhir wawancara, Rety memberikan pesan kepada generasi muda yang masih ragu untuk mencoba hal baru.
“Cobalah selagi masih ada kesempatan. Kalau tidak sekarang, kapan lagi akan memulai,” pesannya.
Prestasi yang diraih Rety membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba dan konsistensi dalam mengembangkan minat dapat mengantarkan seseorang meraih pencapaian yang membanggakan, bahkan hingga tingkat nasional. (bp/Anastasya Putri Bungsu/4A/Basindo/Undisha)













