BULELENG, Balipolitika.com– Deni Nur Zackia Putri, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), belakangan ini ramai menjadi perbincangan.
Hal itu lantaran Deni –sapaan akrab Deni Nur Zackia Putri– dikenal kritis, tangguh, dan berani menyuarakan hak-hak wanita dalam aksi demonstrasi.
Ia juga konsisten menjuarai berbagai kompetisi ilmiah dan terbaru proposal yang diajukannya berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) tahun 2026.
Perjalanan Deni di dunia kepenulisan ilmiah dimulai sejak bangku SMA, namun ia baru benar-benar menemukan ruang fokus dan gairahnya saat memasuki perkuliahan semester dua.
Berpegang pada prinsip “jika namamu ingin abadi, maka menulislah,” ia terus memacu diri.
Meski sempat didera kegagalan hingga delapan kali sebelum akhirnya berhasil membawa pulang piala, Deni menganggap kegagalan bukanlah akhir, melainkan sebuah proses untuk menempa potensi diri.
Ketekunan tersebut berbuah manis ketika ia bersama Riska berhasil mendapatkan Juara 2 Internasional dalam ajang Call for Paper yang diselenggarakan oleh UIN Syekh Ali Hasan Ali Ahmad Kediri pada November 2025.
Riska mengaku sangat bangga bisa berkolaborasi dengan Deni, yang ia kenal melalui organisasi PMM Al-Hikmah Undiksha sebagai sosok mahasiswa muslim yang sangat menonjol dan berprestasi.
Julukan “wanita karier” atau mahasiswa yang sangat ambisius pun sering disematkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Menanggapi hal itu, Deni hanya tersenyum dan memilih tidak ambil pusing, karena fokus utamanya adalah untuk terus berkarya dan membagikan ilmunya ke sesama.
Jiwa kritis Deni tidak hanya tertuang di atas kertas, tetapi juga membara di jalanan.
Sisi aktivisnya pertama kali teruji ketika ia turun ke jalan dalam aksi demonstrasi pada November 2024 di depan Kantor DPRD Buleleng untuk mengkritisi revisi RUU Pilkada yang dinilai terburu-buru dan menyalahi undang-undang terkait batas usia pencalonan presiden dan wakil presiden.
Ia juga sempat mengikuti aksi serupa di Yogyakarta pada Februari 2024 saat momen pemilihan presiden.
Bagi Deni, mahasiswa memiliki tanggung jawab besar sebagai agen perubahan (agent of change), kekuatan moral (moral force), dan penjaga nilai (guardian of value) yang berfungsi sebagai jembatan penyampai aspirasi rakyat kepada pemerintah.
Untuk mengatasi rasa gugup saat berbicara di depan massa, ia menyiasatinya dengan membiasakan diri tampil di publik melalui kepanitiaan organisasi internal kampus maupun organisasi eksternal seperti HMI Cabang Singaraja di mana ia aktif mengisi kelas menulis karya tulis ilmiah tiga kali dalam sebulan.
Kini, memasuki tahun 2026, Deni memilih rehat sejenak dari lomba-lomba KTI demi memfokuskan seluruh energinya pada program PKM-RSH yang didanai langsung oleh Kemendikbudristek.
PKM-RSH dimaksud berupa Program Kreativitas Mahasiswa dari Kemdiktisaintek yang mewadahi penelitian ilmiah untuk mengkaji fenomena sosial, budaya, perilaku manusia, dan interaksi kemasyarakatan.
Pengumuman pendanaan tersebut ia terima secara daring pada 23 Mei 2026 lalu.
Melalui skema riset sosial ini, Deni dan timnya mengangkat penelitian krusial berjudul “Eksploitasi Lumba-lumba dalam Ekowisata Lovina: Analisis Pelanggaran Prinsip Kesejahteraan dan Etika Hewan dengan Pendekatan Kerangka Sosiologis”.
Riset ini dipicu oleh temuan lapangan yang memprihatinkan di Desa Kalibukbuk (Lovina), di mana terdapat sekitar 900 hingga 1.000 perahu wisata beroperasi setiap harinya.
Aktivitas perahu yang mengejar lumba-lumba tanpa mematikan mesin serta melanggar batas jarak aman minimal 100 meter ini dinilai sangat mengganggu ekosistem laut dan melanggar etika kesejahteraan hewan (animal ethics).
Melalui studi pustaka dan observasi ini, Deni berharap dapat menyusun rekomendasi kebijakan serta Standar Operasional Prosedur (SOP) pariwisata yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, sehingga perekonomian masyarakat lokal tetap hidup tanpa harus mengorbankan kesejahteraan lumba-lumba.
Pencapaian besar ini didedikasikan penuh oleh Deni untuk kedua orang tuanya, para dosen pembimbing yang senantiasa mendampingi, serta rekan-rekan tim yang solid.
Tidak ingin maju sendirian, target Deni berikutnya setelah merampungkan PKM-RSH adalah membangun sebuah platform mentoring kepenulisan untuk mendampingi sesama mahasiswa yang ingin belajar membuat karya tulis ilmiah dan esai.
Sebagai penutup perbincangan sore itu, Deni meninggalkan sebuah pesan mendalam bagi generasi muda yang masih takut untuk melangkah atau bersuara.
“Hidup itu harus dinamis. Capek boleh, tapi menyerah jangan. Karena yang namanya hidup harus ada perubahan dalam diri kita,” tegas Deni ditemui Minggu, 7 Juni 2026. (bp/Dani Kurniawan/4C/PBSI/Undiksha)













