LAMPU monitor memantul pucat di wajah Sarma. Di kamar sempit, di bagian belakang rumah dengan jendela menghadap ke dapur dan tempat cucian, hanya suara kipas angin yang berputar pelan sambil sesekali berdecit seperti orang menggigau. Dari seberang tembok yang tidak terlihat, seekor anjing menyalak pendek lalu diam. Mungkin tidak ada sesuatu yang dapat memantik nalurinya untuk menyalak lebih kencang seperti biasanya. Juga motor yang biasa lewat gang sebelah rumah. Sejak sore tidak terdengar suara mesin atau klakson. Sepertinya seluruh alam telah bersepakat dengan pikiran Sarma.
Ya, Sarma sedang membutuhkan keheningan. Biasanya, di tengah keheningan, tangannya bergerak otomatis mengikuti pikirannya. Namun sejak sore, tepatnya selepas Isya, belum ada kalimat yang bisa ditulis. Layar komputernya membeku. Jari-jari tangannya hanya bergerak di atas meja, berpindah ke atas papan ketik, lalu mengetuk pelan seakan sedang menghitung sesuatu yang tak ada ujungnya.
Sarma mengamati krusor yang berkedip tanpa henti. Mengingatkan kesibukan di ruang redaksi koran tempatnya bekerja. Andai tidak tutup, pada jam-jam begini, ia pasti masih di sana. Menjadi orang terakhir yang pulang. Saat para redaktur sudah selesai mengedit berita yang dikirim wartawan, dan pulang ke pelukan keluarganya, Sarma tetap duduk di depan komputer sambil menunggu telepon berdering mengabarkan berita kematian yang sudah dihafal. Kadang menjelang tengah malam. Bahkan pernah ketika koran hampir naik cetak.
Ia hafal betul suasananya. Saat staf bagian layout sedang mengerjakan penataan halaman per halaman, Sarma hanya bisa menunggu. Menghabiskan kopi dingin dan rokok yang terus mengepulkan asap. Sesekali ia masuk ke ruang pracetak, hanya untuk memastikan satu kolom kosong di halaman belakang belum diisi berita lain. Kolom obituari itu hanya akan dihilangkan dan diganti dengan berita jika sampai pukul dua dinihari tidak ada yang menelpon atau mengirim berita kematian. Dari hasil survei yang dilakukan bagian pemasaran, kolom advertorial kematian menduduki peringkat tertinggi yang ditunggu pelanggan.
“Orang selalu ingin tahu siapa yang mati hari ini,” kata Pemimpin Redaksi sambil tertawa kecil dalam rapat umum yang juga diikuti bagian iklan dan kepala biro dari berbagai daerah.
Sarma adalah orang yang menuliskan berita kematian itu. Bukan berita duka biasa. Bukan iklan hitam putih penuh ucapan belasungkawa yang dingin dan kaku. Koran mereka menawarkan sesuatu yang lebih mahal berbentuk obituari. Kisah kecil tentang orang yang meninggal. Masa mudanya, pekerjaannya, kebiasaannya minum kopi, kesukaannya memelihara binatang atau sekedar peristiwa kecil yang sangat berkesan di mata keluarganya, semisal memasak mi instan untuk seluruh keluarga di tengah malam yang dingin. Peristiwa-peristiwa personal yang menyentuh dan layak dikenang oleh keluarganya, kerabatnya, atau rekan-rekan kerjanya.
Keluarga-keluarga kaya menyukainya. Mereka merasa orang tuanya, atau saudaranya, menjadi lebih penting ketika kisah hidupnya ditulis di koran. Beberapa orang bahkan datang sendiri ke kantor membawa foto terbaik almarhum. Sarma menulis semuanya. Tentu dengan kecepatan seorang wartawan senior yang biasa bekerja di bawah tekanan.
Sarma tersenyum kecil ketika kembali mengingat beberapa nama yang pernah ia tulis obituarinya. Pensiunan guru yang mati mendadak setelah tiga puluh tahun mengajar matematika. Mantan lurah yang gemar memelihara ikan koi. Pengusaha toko bangunan yang setiap pagi berjalan kaki mengelilingi alun-alun. Juga perempuan tua pemilik rumah makan yang resep opornya terkenal sampai kota sebelah.
Pada awalnya Sarma berusaha sungguh-sungguh. Ia mewawancarai keluarga, mencatat detail-detail kecil, mencari sudut yang manusiawi. Namun lama-kelamaan semua kematian terasa memiliki bentuk yang sama. Belakangan ia menulis orang-orang yang tak pernah dikenalnya, menggunakan naluri dan mengulang beberapa kalimat yang pernah ditulis saat data yang diberikan pemesannya sangat minim.
Pria baik hati. Pekerja keras. Mencintai keluarga. Dikenal rendah hati.
Kalimat-kalimat itu terus berulang. Seperti template yang sudah menyatu di kepalanya dan tinggal mencetak saat dibutuhkan. Pernah ada kejadian ketika ia salah menulis nama salah satu kerabat si mati. Ia sudah siap meralat pada edisi berikutnya. Namun ternyata pihak pemesannya tidak mengetahui. Apakah mereka tidak membaca obituarinya? tanya Sarman dalam hati. Antara senang dan kecewa. Setelah diam-diam melakukan pengumpulan informasi, ternyata keluarga-keluarga kaya di kota hanya ingin ada foto dan nama si mati di media. Semacam penghormatan terakhir bagi seseorang yang pernah hidup dan kematiannya dianggap cukup penting untuk dikabarkan dalam kolom koran.
Belasan tahun berlalu. Koran tempatnya bekerja akhirnya bangkrut seperti banyak koran lain. Orang-orang tak lagi menunggu berita pagi. Kematian sekarang datang lebih cepat lewat layar telepon genggam. Tak ada lagi yang ingin membaca obituari panjang di atas kertas kusam.
Sarma pensiun tanpa isak tangis. Tanpa ucapan selamat dari rekan-rekannya karena mereka sudah lebih dulu meninggalkan ruang redaksi. Juga tidak ada plakat. Hanya doa singkat dari pemiliknya, agar Sarma segera mendapat pekerjaan di tempat lain. Tempat itu ternyata ruang kecil di sebelah dapur rumahnya. Setiap hari ia masih berhadapan dengan komputer. Bedanya, ia bisa meninggalkan kapan pun untuk tidur atau sekedar mengitari kompleks perumahan. Kadang mengobrol sejenak di warung dekat rumah. Lain waktu melihat sopir angkot bermain catur di pasar. Tidak ada yang ditunggu. Tidak ada pula yang menunggu. Istrinya hanya mencari jika ingin ditemani kondangan. Sementara anak-anak, ah, mungkin sudah lupa punya bapak, katanya getir. Mereka sudah dewasa dan memiliki kesibukan sendiri. Si bungsu bekerja dengan jadwal yang tidak tentu. Sementara kakaknya ikut suaminya ke kota lain.
Awalnya Sarma cukup menikmati. Jam kerjanya bisa ia tentukan sendiri, dan bisa menulis apa saja. Kadang esai panjang, kadang puisi. Karyanya kemudian diposting di akun Facebook. Sesekali ia juga mengunggah foto saat sedang bermain bersama cucunya. Mendapat banyak like dan komentar dari teman-teman lama, juga teman-teman baru di internet yang belum pernah dijumpai. Namun lain waktu akunnya sepi. Sarma tidak terlalu memikirkan. Baginya, yang penting orang-orang di luar masih mengingat dan menganggap kehadirannya.
Akun Facebook-nya semakin ramai saat Sarma menulis obituari. Hal itu terjadi secara tidak sengaja. Awalnya Sarma menulis status panjang tentang kematian mantan redaktur pelaksana di medianya dulu. Namanya Rudi. Sarma tidak sekadar mengabarkan, tetapi menuliskan kebiasaannya mengunyah permen karet saat rapat, caranya melipat lengan baju, juga suara baritonnya. Tulisan itu mendapat sambutan luas. Orang-orang tidak hanya mengucapkan duka cita, namun juga memuji statusnya yang, kata netizen, sangat indah untuk mengenang seseorang.
Sejak itu Sarma mulai menulis obituary, siapa saja. Bukan hanya teman-teman lama yang memang dikenal, namun juga teman-teman baru yang dikenal di dinding media sosial. Saat temannya tidak ada yang mati, Sarma menulis obituari tokoh, artis, pejabat atau siapa saja yang terlintas di kepala atau kebetulan dibaca di media online. Ia menulis tentang mantan penyiar radio yang pernah diteror surat cinta, guru SMP yang selalu membawa pot kecil karena terobsesi ingin selalu dekat dengan pohon, atau tentang wartawan kriminal yang takut gelap.
Kebiasaannya itu mengundang perhatian. Teman di Facebook semakin banyak dan setiap hari ada yang mengirim kabar orang mati, lengkap dengan datanya, melalui WA atau Messenger. Sarma merasa bangga karena masih bisa melakukan sesuatu dan orang-orang meghargainya.
Hanya saja kadang ia heran melihat banyak yang memberikan ucapan belasungkawa di kolom komentar padahal mereka tidak mengenal orang itu. Misal mantan kepala proyek di pedalaman Papua yang mati terkena peluru nyasar. Komentar yang ditulis hampir seragam seperti doa, dan ucapan turut belasungkawa. Tidak ketinggalan husnul khatimah, kadang RIP. Sarma membacanya seperti membaca iklan duka cita di koran. Cepat, pendek, dan segera tenggelam oleh unggahan lain.
Aneh sekali, piker Sarma. Kematian membuat semua orang terdengar baik. Tak ada yang menulis pelit. Tak ada yang menulis kejam. Bahkan saat Sarma mencoba bereksperimen dengan menulis obituari koruptor, komentarnya netizen tetap sama. Tidak ada satupun komentar yang menghujat atau mendoakan masuk neraka.
Pujian seperti apa yang akan diberikan teman-teman di Facebook andai membaca obituariku? Pertanyaan itu tiba-tiba menggoda dirinya di tengah malam. Mengetahui sesuatu yang akan terjadi pasti lebih menyenangkan. Bukankah jika nanti aku mati, tidak ada yang menulis obituari? Juga tidak bisa membaca komentar teman-temannya. Tidak bisa merasakan kehangatan doa-doa dan pujiannya.
Sarma berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Menjelang kokok ayam pertama, Sarma sudah sudah bulat dengan keputusannya. Ia kembali duduk dan mulai menulis namanya sendiri. Ia tidak butuh referensi. Tidak butuh wawancara atau data dari Messenger. Menulis tanggal lahirnya, tempat-tempat favoritnya. Menikmati status sebagai wartawan saat koran masih dicetak ribuan eksemplar setiap pagi. Ia menulis bagaimana dirinya selalu pulang paling akhir dari kantor.
“Sarma merupakan pria yang tekun bekerja dan penuh tanggung jawab. Selama lebih dari tiga puluh tahun ia mengabdikan hidupnya di dunia jurnalistik, terutama sebagai penulis obituari di sebuah surat kabar harian yang kini sudah berhenti terbit. Ia dikenal sebagai pribadi pendiam, lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Di luar pekerjaannya, Sarma menjalani kehidupan sederhana. Ia menyukai kopi pahit, hujan malam, dan aroma kertas koran yang baru dicetak. Pada masa tuanya, ia tetap menulis obituari kecil di media sosial untuk mengenang teman-temannya yang lebih dahulu meninggal dunia.”
Tanpa ragu, Sarma menekan tombol kirim. Obituari dirinya sendiri kini mengangkasa di jagat maya. Tidak butuh waktu lama. Hanya dalam hitungan menit, kolom komentarnya meledak. Notifikasi ponselnya bergetar tanpa henti. Sarma bersandar di kursinya, mengamati layar monitor dengan tatapan datar dan kosong.
Satu per satu komentar seragam bermunculan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga husnul khatimah.”
“RIP Pak Sarma, jurnalis senior yang hebat.”
“Turut berduka cita yang mendalam.”
“Sugeng tindak, pak Sarma.”
“Semoga dilapangkan jalannya. Surga menanti Anda.”
Mereka semua berduka untuk pria yang saat ini sedang duduk di depan komputer sambil membaca berita kematiannya sendiri. Tidak ada yang meragukan unggahan itu. Atau sekedar mempertanyakan. Bukankah aneh seseorang yang sudah mati tetapi bisa menulis obituari?
Sebuah letupan geli mendadak muncul. Sarma tersenyum kecil yang perlahan berubah menjadi kekehan, lalu menjelma jadi tawa berderai. Suara tawanya memenuhi ruangan. Itulah tawa paling lepas yang pernah ia lakukan, terutama setelah berhenti bekerja. Namun itu juga menjadi tawa terakhirnya.
Setelah tawanya reda dan ruangan hanya menyisakan kesunyian, Sarma mematikan monitor komputer. Bersamaan dengan itu, sisa-sisa kehidupan di dalam dirinya seolah ikut tercabut. Ia tidak peduli lagi pada komentar yang terus bertambah. Bahkan tidak peduli lagi apakah besok pagi ia masih akan terbangun atau tidak. Baginya, ia sudah selesai.
Jakarta, 18 Mei 2026
BIODATA
Yon Bayu Wahyono adalah penulis kelahiran Jakarta, 4 Mei 1971. Karya-karyanya berupa cerita pendek tersebar di berbagai media massa seperti Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, The Jakarta Post, Tabloid NOVA, dll. Karya fiksi yang sudah diterbitkan: Surat Buat Bunda (kumpulan cerpen, 1996), Calon Gubernur (novel, 2008), PRASA: Operasi Tanpa Nama (novel, 2023), KELIR (novel, 2023), [Bukan] Pasaran Terakhir (novel, 2024), dan 1982 (novel, 2025), Prapti Pergi ke Malaysia (kumpulan cerpen, 2025). Peraih Best in Opinion Kompasiana 2017 dan Kompasianer of the Year 2023. Pernah menjadi wartawan Mitra Dialog (Pikiran Rakyat Group), SKH Lampung Ekspres plus, Medan Pos, dan Majalah Misteri. Saat ini berkegiatan di TIM sambil mengelola website pojoktim.com.













