SETELAH lama absen, Kardanis Mudawi Jaya kembali menerbitkan buku kumpulan puisi. Buku tersebut berjudul Belajar Mengaji Pada Ibu (Pustaka Ekspresi, Juni 2025). Buku setebal 108 halaman ini memuat 68 puisi dengan berbagai tema yang ditulis dalam rentang waktu 13 tahun, yakni 2012 hingga 2025. Dalam buku ini kita bisa mengikuti perkembangan kepenyairan Kardanis setelah penerbitan buku pertamanya yang berjudul Kalimah (2013) dengan nama Muda Wijaya.
Kardanis Mudawi Jaya adalah nama pena dari Muda Wijaya. Nama pena itu diberikan oleh Presiden Malioboro, Umbu Landu Paranggi. Kardanis telah aktif dalam kegiatan sastra dan teater semenjak tahun 1998.
Kardanis lahir di Dusun Kecicang Islam, Karangasem, Bali, 1974. Sebagai penyair, puisi-puisinya telah terangkum dalam sejumlah antologi, seperti Tuhan Langit Begitu Kosong (2005), Maha Duka Aceh (2005), Roh (Penyair Bali-Jawa Barat) (2005), Jogja 5,9 Skala Richter (2006), Herbarium (2007), Akulah Musi (2011), Senyum Lembah Ijen (2018), Mengunyah Geram (2017), Ijen Purba: Tanah, Air dan Batu (2024), Like (2024). Selain itu, puisi-puisinya juga dimuat di sejumlah media massa, seperti Media Indonesia, Bali Post, Warta Bali, Majalah Budaya Jejak, GM-Independen, Kendari, Suara Merdeka, Indonesia Pos, Pos Bali, Bali Politika, Tatkala.co, dan basabasi.co.
Puisi-puisi dalam buku Belajar Mengaji Pada Ibu menarik untuk dinikmati, baik secara bentuk dan isi. Buku ini dibuka dengan puisi yang berjudul Pada Puisi Aku Kembali. Puisi ini bisa dibaca sebagai pernyataan dan sikap Kardanis dalam memandang puisi, bahwa puisi masih mengaliri hidupnya.
Jika rasa sakit menjadi salah satu sebab kelahiran sebuah puisi, maka Pada Puisi Aku Kembali menjadi cerminan rasa sakit itu. Pada bait terakhir puisi ini, Kardanis berupaya menepis segala rasa sakit akibat pengalaman menjalani kehidupan. Dari bait terakhir itu kita paham, bahwa bagi Kardanis, puisi adalah obat untuk batin yang terluka atau didera pengalaman pahit kehidupan.
Puisi-puisi dalam buku ini sebagian besar berbicara tentang penderitaan, kehilangan, depresi batin, kematian. Namun penderitaan-penderitaan itu tidak hanya dialami oleh si penyairnya, namun lebih meluas lagi menjadi penderitaan umat manusia. Dari sinilah mencuat renungan bahwa kehidupan ini memang fana.
Jika membaca buku ini dengan seksama, kita bisa merasakan nuansa-nuansa penderitaan itu, misalnya, pada puisi Iman, Menerima dan Melepas Penderitaan, Puisi Burung yang Terkapar, Menguatkan Diri di Musim Nyeri Pandemi, Membaca Berita Duka Merasakan Kehilangan, Melepaskan Diri dari Suara-Suara Pandemi, Monolog Membaca Dunia Tersakiti, Rumah Tua, Kepergian. Kardanis mengolah tema-tema penderitaan tersebut tidak dengan melodrama, melainkan dengan sikap tegar dan menyelipkan renungan-renungan kehidupan.
Namun, buku ini tidak hanya menyajikan penderitaan yang dituangkan dalam puisi. Buku ini juga berisi tentang puisi-puisi yang berbicara tentang sosok ibu, kemanusiaan, sosial-politik, eksistensi diri, spiritualitas, cinta kasih, ekologi, dan tema lainnnya.
Secara bentuk, puisi-puisi dalam buku ini cenderung naratif dengan permainan tipografi yang unik. Kadang, karena permainan jeda baris dan tipografi, pada beberapa bait puisi terkesan seperti puisi polifonik, puisi yang saling bersahutan (dua atau lebih narator). Misalnya, hal itu terlihat pada beberapa bait puisi Pitutur, Panggung Puisi di Teater Remaja, Menghalau Racun, Iman, Menerima dan Melepas Penderitaan, Pada Suatu Hari, dan beberapa puisi lain. Bagi saya, hal ini menjadi kelebihan Kardanis dalam menyusun komposisi puitiknya.
Dalam menyusun komposisi puitiknya, Kardanis banyak memanfaatkan perangkat puitika yang dikuasainya. Dia memainkan sejumlah majas, seperti metafora, simile, personifikasi, repetisi, dan sebagainya, dengan memaksimalkan imajinasinya. Dia juga memainkan irama, rima, ritme, nada untuk memperkuat daya sugesti puisi-puisinya.
Saya tertarik dengan cara Kardanis menggunakan dan memainkan diksi untuk menyusun puisi-puisinya. Dia seperti terpukau pada kata atau mabuk kata-kata. Pada beberapa puisi, dia tanpa beban menggunakan diksi-diksi yang oleh banyak penyair mungkin dianggap kurang puitis, seperti signal, familiar, menavigasikan, sensasi, artefak, barbie, puzzle, modis, seksi, propaganda, kebudayaan, reshuffle, diplomasi, birokrasi, ego. Di sisi lain, dia juga memasukkan diksi-diksi dari bahasa Bali, misalnya mimih, masolah, ngigel, pada puisi berjudul Men Tanjung. Dan, tentu saja diksi-diksi Islami tak ketinggalan ikut meramaikan sejumlah puisinya. Diksi-diksi yang terkadang saling bertabrakan bisa menjadi ramuan ajaib pada puisi-puisinya, bisa mengagetkan dan menyegarkan. Tapi, pembaca awam mungkin akan kesulitan menikmati sejumlah puisi Kardanis, karena dianggap kurang jernih atau rumit.
Salah satu puisi yang menarik dalam buku ini adalah puisi yang berjudul Belajar Mengaji Pada Ibu yang sekaligus menjadi judul buku kumpulan puisi ini. Puisi ini mengandung tema tentang sosok ibu dan spiritualitas. Puisi ini memberikan renungan mendalam tentang proses pembelajaran, bukan semata membaca atau mengaji, tapi memahami makna hidup, iman, dan keteguhan, melalui sosok ibu.
Ibu digambarkan sebagai seorang sosok yang mengajarkan kebajikan dengan keteladanan dan gerak tubuh. Pada baris “Tilawah ibu percakapan sunyi” menyiratkan bahwa ibadah dan tindakan ibulah yang menjadi pelajaran bagi kehidupan. Ibu diibaratkan sebagai Hajar (Siti Hajar), sosok perempuan mulia dalam sejarah Islam yang dengan tabah mencari air di padang pasir untuk anaknya Ismail.
Kita juga merasakan kesabaran dan ketekunan pada sosok Ibu yang digambarkan sebagai pribadi yang “tidak hirau penjuru mata angin”, yang menunjukkan ketegaran dan kekuatan spiritual dalam menghadapi badai kehidupan.
Puisi ini mengandung pewarisan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Sang aku lirik belajar mengaji bukan hanya dalam pengertian membaca Al-Qur’an, tetapi mengaji hidup dan iman dari ibunya. Seperti Ismail yang menggali air, aku lirik pun diajarkan menggali makna dari tindakan ibunya, sebuah pewarisan spiritual yang mendalam. Diksi-diksi seperti Shofa, Marwah, Zamzam, Jumrah menjadi simbol perjalanan spiritual dan perjuangan yang sakral. Tilawah, zikir, dan sujud memperkuat atmosfer religius puisi ini.
Perjuangan seorang ibu dalam puisi ini dapat kita rasakan pada baris “Buliran keringat / Menjelma butir-butir kerikil tajam.” Atau pada baris “Kau memeluk ragamu sendiri” menandakan kesendirian dalam keteguhan, perjuangan spiritual yang sangat personal.
Puisi ini tidak terikat oleh bentuk konvensional, tapi justru kebebasan tipografi memperkuat kontemplasi dan jeda emosional tiap baitnya. Penempatan baris secara berjarak, bahkan melompat, memberikan ruang pembaca untuk merenung dan menginternalisasi puisi tersebut.
Kita bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan puisi tersebut. Bahwa keteguhan iman tidak selalu diajarkan secara eksplisit, tapi lewat tindakan. Seorang ibu adalah madrasah pertama yang membentuk spiritualitas anak melalui kehidupan sehari-hari.
Puisi ini berhasil menyatukan pengalaman religius, kekuatan seorang ibu, dan proses pewarisan nilai dalam bentuk yang indah dan simbolik. Ia tak hanya bicara tentang “belajar mengaji” secara harfiah, tapi tentang membaca kehidupan melalui iman, perjuangan, dan kasih sayang seorang ibu.
Selain penyair, Kardanis juga seorang pemain dan pelaku teater. Ia mengajar teater di sebuah SMA di Denpasar. Pada puisi Panggung Puisi di Teater Remaja, kita bisa mendapatkan pandangan-pandangannya tentang dunia teater yang digelutinya dan dikaitkan dengan dunia puisi.
Selain itu, dalam puisi ini kita mendapatkan makna dan refleksi mendalam tentang peran puisi dalam kehidupan, khususnya di tengah kerasnya realitas sosial. Di sini puisi menjadi ruang kesadaran, perlawanan, dan pencarian jati diri dalam menjalani kehidupan. Panggung puisi digambarkan bukan sekadar tempat berkesenian, melainkan sebagai ruang spiritual, eksistensial, dan bahkan politis, tempat individu melawan keraguan, kekerasan, dan keterasingan.
Puisi ini menggunakan gaya bahasa reflektif dan metaforis, dengan diksi yang padat makna. Metafora seperti “ruang teater itu terminal persiapan keberangkatan untuk seluruh tujuan” mencerminkan teater sebagai titik awal pencarian makna hidup. Pada baris “puisi lahir melatih kelenturan”, menunjukkan bahwa puisi juga berperan mendidik jiwa manusia.
Sintaksis puitik disusun seperti kepingan pikiran, tapi saling terhubung secara tematis dan emosional. Puisi ini bernuansa fragmentatif namun kohesif. Tidak ada rima tetap atau pola metrum konvensional, sehingga memberikan kesan bebas namun penuh tekanan batin. Penggunaan tipografi juga mengesankan pertarungan antara pikiran dan perasaan, antara kekakuan struktur dan kelenturan isi.
Puisi ini mengajak pembaca merenungkan makna kehadiran diri di tengah dunia yang penuh tekanan dan ketidakpastian. Menjadikan puisi dan teater bukan sekadar ekspresi seni, melainkan ruang pencarian kebenaran, spiritualitas, dan ketahanan hidup. Ini adalah puisi yang tidak hanya bicara tentang seni, tapi menjadikan seni sebagai cara bertahan dan bertumbuh dalam kehidupan yang makin keras. Penuh kesadaran sosial, spiritual, dan eksistensial. Puisi ini merefleksikan bahwa panggung dan puisi adalah tempat menyatakan hidup, bukan pelarian darinya.
Ketika membaca buku ini, saya menemukan beberapa puisi Kardanis yang terbebani baris-baris pernyataan mirip pamflet sehingga mempersempit ruang imajinasi pembaca. Bukan berarti hal ini buruk. Sublimasi puisi selalu berkaitan dengan pengalaman, pengetahuan dan imajinasi yang diolah dengan perangkat puitika. Puisi yang ideal adalah menggabungkan kekuatan pikiran dan perasaan sehingga mampu membangun komposisi puitik yang utuh, sarat renungan, tidak mencekoki pembaca dengan pernyataan-pernyataan pikiran semata.
Puisi-puisi dalam buku ini tidak bertitimangsa dan tidak ada lampiran data kronologis penulisan. Hal ini membuat pembaca kesulitan melacak dan mendapatkan data pembuatan puisi yang berkaitan dengan proses kreatif penyairnya. Apalagi buku ini berisi puisi-puisi yang ditulis sepanjang tiga belas tahun.
Selain itu, tantangan Kardanis ke depan adalah bagaimana dia mampu mengolah sintaksis puitiknya menjadi lebih jernih (bukan berarti harfiah) dengan menggunakan perangkat puitika yang dikuasainya. Kejernihan membuat puisi menjadi lebih fokus pada tematik yang ingin disampaikan. Kardanis harus lebih berani memangkas hal-hal yang tidak perlu dalam puisinya.
Namun, di luar semua itu, saya ucapkan selamat untuk kelahiran anak rohani kedua Kardanis. Petikan baris pembuka pada puisi Men Tanjung, menarik direnungi: Siapa berani bercermin pada diri? Ya, bagi saya, menulis puisi adalah keberanian bercermin pada diri sendiri. Dan, Kardanis telah melakukannya.*
BIODATA
Wayan Jengki Sunarta, lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Pernah kuliah Seni Lukis di ISI Denpasar. Mulai menulis puisi sejak awal 1990-an. Kemudian merambah ke penulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel.













