PUISI sering lahir dari ruang paling sunyi dalam diri manusia. Ia adalah rekaman batin, pengalaman, pergaulan, renungan, bahkan protes yang terpendam. Demikian pula “Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham”, buku puisi perdana Annisa Resmana, yang hadir sebagai semacam arsip emosional dan intelektual. Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, tetapi juga menjadi dokumen perjalanan seorang perempuan yang lahir dari latar akademik, musik, sekaligus keseharian yang berkutat dengan dunia karir dan domestik.
Annisa Resmana lahir di Bandung, 24 April 1994. Dia menamatkan kuliah di Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung (2016) dan melanjutkan studi Kajian Ketahanan Nasional di Universitas Indonesia (2019). Dia kemudian menjelajahi dunia akademik dan perkantoran tanpa meninggalkan puisi dan musik. Selain itu, dia juga mendirikan grup musikalisasi puisi “Estuari”.
Buku ini tidak mencantumkan nama penulisnya di sampul, hanya inisial “AR”. Entah apa alasannya. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit WR, Yogyakarta dengan cetakan pertama Agustus 2025. Diberi pengantar oleh Tatang Pahat (seorang sutradara teater dan penikmat puisi) dan penulisnya sendiri. Lukisan sampul dan isi oleh Jessica Puteri Wilhelmina. Ada sembilan nama beken yang memberikan testimoni di buku ini, antara lain Afrisal Malna, Halim HD, Shinta Febriany.
Buku ini memuat 75 puisi yang dibagi dalam tiga bab, yakni “P”, “?”, dan “Pena”. Bab-bab tersebut tidak secara spesifik membagi puisi-puisi ke dalam tematik atau pembahasan tertentu. Namun setiap bab membaurkan puisi-puisi yang membahas tentang perempuan, baik dalam kaitannya dengan dunia domestik, maupun dengan dunia karir, sosial, budaya, sejarah dan politik. Hal ini membuat pembaca agak kesulitan menikmati puisi-puisi Annisa terkait dengan pembagian bab tersebut.
Ditinjau dari tahun pembuatan, puisi-puisi berangka tahun 2022 berjumlah 4 buah, tahun 2023 berjumlah 3 buah, tahun 2024 berjumlah 13 buah, tahun 2025 berjumlah 54 buah. Ada 1 puisi buatan sepanjang rentang tahun 2022 – 2025 berjudul “Pelabuhan Sorong”. Berdasarkan data tersebut, masa subur Annisa dalam menulis puisi terjadi pada tahun 2025. Sedangkan masa pacekliknya terjadi tahun 2022 dan 2023.
Secara umum, puisi-puisi Annisa cenderung rapi, terstruktur/terpola. Secara rasa, nada, gaya ucap nyaris seragam. Hal itu, misalnya, bisa dibaca pada puisi buatan tahun 2025 berjudul “Mesin Kasir dan Langit di Kepala Kita” (hal.45) dan “Pabrik dan Mimpi yang Dikerutkan Mesin” (hal. 47).
Di sisi lain, kemampuan Annisa meramu dan mengolah kata-kata kekinian menjadi majas dan kalimat puitik tampak pada puisi-puisinya. Bahkan ramuan-ramuan kata tersebut pada sejumlah puisi cenderung absurd. Misalnya: Di dalam lift yang selalu naik / Aku mendengar seseorang mengetuk angka-angka / Matanya seperti loyang, tangannya seperti kuitansi / Ia berbicara tentang emas, tentang gedung tumbuh dari dahi manusia. (10 Detik di Lift; hal. 31). Atau pada bait ini: Sebuah kursi pindah agama / Meja menolak bersuara / Ada bayangan tertinggal di cermin / Yang enggan pulang ke tubuh. (Yang Aku Sematkan; hal. 56).
Pada sejumlah puisinya, Annisa juga melontarkan sindiran pada dunia patriarki yang cenderung mendominasi ruang-ruang kehidupan. Hal itu, misalnya bisa dibaca pada puisi “Cermin Aku-aku” (hal. 7). Mari simak bait ini: Namanya dulu disebut / dengan nada datar dalam rapat yang padat, / di mana perempuan dihitung / bukan dari isi kepalanya, / tapi berapa cepat bisa menghapus air mata. Atau pada puisi “Di Antara Kubikel” (hal.9), yang salah satu baitnya berbunyi: Saya datang ke kantor setiap pagi / dengan tubuh yang ditata seperti lembar presentasi / Lelaki di ruangan itu memakai dasi / tapi tidak bisa mengeja tanggung jawab.
Annisa banyak menggunakan diksi-diksi kekinian yang akrab dengan Gen Z pada puisi-puisinya. Misalnya, pembaca dengan mudah menemukan kata algoritma, grafik, draft, exel, statistik, email, inbox, presentasi, power point, spreadsheet, spreisel, keyboard, HRD, CEO, seminar, headline, ponsel, instagram, google calendar, kubikel, macbook, geboy, reklame, plastik, wifi, store manager, dashboard, selfie, google maps, microwave, dan sejenisnya. Penggunaan diksi-diksi kekinian untuk membentuk majas dan kalimat puitik menjadikan puisi-puisinya terkesan formal dan beraroma intelektual. Hal ini dapat dimaklumi sebab Annisa berlatar belakang akademik dan pekerja kantoran.
Annisa menggunakan diksi-diksi kekinian atau diksi-diksi era digital tersebut sebagai gaya ucap untuk menyampaikan kegelisahan pikiran dan perasaanya berkaitan dengan berbagai fenomena sosial, budaya, politik yang terjadi belakangan ini. Namun, dalam beberapa puisinya, Annisa mampu menghadirkan imaji yang halus dan mengiris, terutama ketika dia menyinggung relasi intim antara ibu dan anak, kehidupan domestik, serta dinamika perempuan dalam ruang sosial yang lebih luas. Hal itu, misalnya, bisa dinikmati pada puisi “Antara Grafik dan Gendongan” (hal. 2), “Nanti Ketika Aku Jadi Ibu” (hal. 16), “Meja Makan dan Jarak di Antara Kita” (hal. 43).
Tema perempuan menjadi benang merah buku ini. Namun, Annisa tidak sekadar menampilkan perempuan sebagai korban atau simbol perjuangan, melainkan sebagai manusia yang utuh, yang mencintai, bekerja, bergulat dengan identitas, dan sekaligus terikat dengan ruang sosial, politik serta sejarah. Dalam buku ini, pembaca bisa menyimak bagaimana perempuan memandang dunia domestik, karir, persoalan sosial, budaya, politik, ekonomi, hingga negara.
Di satu sisi, ada puisi yang lahir dari ruang domestik: meja makan, percakapan sehari-hari, pekerjaan rumah. Di sisi lain, ada pula puisi yang mencatat denyut ruang publik: dunia kerja, pendidikan, bahkan percikan geopolitik. Perpaduan ini memperlihatkan betapa pengalaman perempuan tidak bisa direduksi, melainkan terjalin dari banyak lapisan yang saling silang.
Buku ini juga menunjukkan gerak dari personal menuju universal. Ada puisi yang berangkat dari momen sehari-hari, lalu meluas menjadi refleksi tentang bangsa, tentang pasar, bahkan tentang bagaimana tubuh perempuan berhadapan dengan logika kapitalisme. Bahkan, judul buku ini sendiri menjadi metafora tentang pentingnya menjaga kemanusiaan di tengah dunia yang semakin mengukur nilai manusia berdasarkan keuntungan material.
Namun, yang menarik, Annisa tidak menggurui. Ia memilih menyampaikan kegelisahannya dalam bentuk refleksi tenang, bukan teriakan lantang. Suara perempuan dalam buku ini adalah suara yang kontemplatif, suara yang sering kali berupa bisikan, tetapi justru karena itulah ia mampu menyentuh lapisan terdalam pengalaman manusia.
Secara estetik, gaya Annisa cenderung memadukan dua kutub, yakni diksi-diksi keseharian dan kekinian dan imaji yang subtil. Pada beberapa puisi, ada bait-bait yang nyaris terasa prosaik, seolah catatan harian, tetapi di situ terselip ironi atau kegetiran yang membuat pembaca berhenti sejenak. Di sisi lain, ada puisi yang berlapis metafora yang cenderung absurd, menyingkap kegelisahan eksistensial maupun politik. Kesadaran musikalitas juga terasa pada puisi-puisinya, mengingat Annisa adalah juga seorang pemusik.
Dalam lanskap puisi Indonesia kontemporer, karya Annisa bisa menempati ruang yang menarik. Dia tidak bermain dengan bahasa yang eksperimental seperti penyair avant-garde, juga tidak mengulang pola klasik. Dia memilih jalannya sendiri, menulis puisi yang komunikatif, reflektif, dengan muatan sosial dan gender yang kuat tetapi tetap personal.
Hal tersebut membuat buku ini dapat dibaca oleh kalangan luas, baik dari akademisi sastra, aktivis perempuan, hingga pembaca awam yang baru mengenal puisi. Bukunya bukan hanya untuk “menikmati bahasa,” tetapi juga untuk merenung tentang kehidupan sehari-hari dan hubungan manusia dengan dunia sosial-politik yang melingkupinya.
Meski demikian, buku ini tidak lepas dari kelemahan. Misalnya, konsistensi estetik belum sepenuhnya terjaga. Ada puisi yang kuat dengan metafora tajam, tetapi ada pula yang terasa datar dan terlalu deskriptif. Hal ini kemungkinan karena buku ini menghimpun karya dari rentang waktu cukup panjang (2022 – 2025), sehingga memperlihatkan perbedaan kualitas antar puisi.
Pemilihan judul buku “Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham” (diambil dari salah satu judul puisi) terkesan provokatif dan menjebak pembaca. Seolah seluruh isi buku akan membongkar kritik terhadap kapitalisme dan pasar. Namun kenyataannya, tidak semua puisi menyentuh tema itu secara mendalam.
Keberanian Annisa dalam mengedepankan suara perempuan memang patut diapresiasi. Tetapi terkesan penyampaian tersebut pada puisi-puisinya cenderung bermain di wilayah aman. Semoga suatu saat nanti, Annisa mampu melahirkan puisi-puisi yang lebih tajam dalam menyampaikan suara perempuan, mengingat latar akademik dan pengalamannya sebagai aktivis.
Sebagai karya perdana, buku ini adalah langkah awal yang menjanjikan. Buku ini menunjukkan kekuatan pada penggunaan bahasa kekinian, refleksi, dan perspektif perempuan. Terlepas dari beberapa kelemahannya, buku ini berhasil menegaskan bahwa puisi bukan hanya tentang permainan kata, melainkan tentang keberanian merekam pengalaman manusia yang kompleks. Buku ini patut dibaca untuk menyelami bagaimana puisi bisa menjadi ruang teduh sekaligus perlawanan, menjadi renungan lembut sekaligus teguh dalam menegaskan kemanusiaan.
Begitulah. Annisa tidak menjual telinganya di pasar saham. Di tengah dunia yang jarang mendengar, Annisa berusaha menggunakan telinganya dengan baik dan benar. Dia menyimak berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya. Dan, dari telinga itu, seperti Dewi Kunti yang melahirkan Karna, dia melahirkan puisi-puisi sebagai anak-anak rohaninya. Puisi-puisi yang akan terus hidup mengusik benak pembaca.***
*penyair, menetap di Bali.













