BISNIS, Balipolitika.com – Perumda Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung, mulai memaksimalkan pengolahan air laut untuk menjadi air baku.
Pengolahan air laut atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) saat ini sedang Studi kelayakan atau Feasibility Study (FS).
SWRO itu jadi solusi terakhir untuk menyelesaikan masalah air bersih di Badung Selatan. Mengingat kini debit air permukaan yang Perumda kelola masih sangat minim, dengan kebutuhan masyarakat di Gumi Keris.
Meski sudah melakukan study tiru di SWRO Gili Terawangan, Lombok, namun penerapan di Badung membutuhkan waktu. Ada beberapa kendala yang menjadi pertimbangan salah satunya yakni harga air pasti lebih mahal.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama, I Wayan Suyasa tidak menampik hal tersebut. Pihaknya mengaku SWRO ini saat operasi akan menggunakan air laut sebagai sumber utama atau bahan baku. Setelah proses melalui sistem air tersebut akan dapat langsung jadi minuman.
Diakui selain itu, dalam.sistem perpipaan, mestinya harus baru, mengingat air SWRO kondisi airnya sangat bagus dan bisa langsung di minum. Hanya saja di Badung sistem perpipaan selama ini telah berumur cukup tua.
“Terlebih hasil pengolahan air laut, 30-40 persen saja. Untuk itu perlu FS lanjutan yang mencakup keseluruhan sistem SWRO,” ucapnya.
Saat ini sedang penyusunan perencanaan. Bahkan persiapan nanti akan tergambar lokasi, kemana alirannya, dan harganya berapa.
Sementara Direktur Teknik Perumda Air Minum Tirta Mangutama, I Made Suarsa meyampaikan, SWRO ini pelaksanaan kerjasama pada pihak ketiga.
Hal itu pun seperti hasil kunjungan. Namun tetap memerlukan studi kelayakan sebelum akhirnya pembangunan.”Kami benar-benar akan matangkan, supaya SWRO ini secara FS supaya tidak keliru,” ucap Suarsa.
Studi kelayakan ini perlu lantaran biaya pembangunan SWRO sangat mahal. Jika bebannya kepada masyarakat atau pelanggan PDAM Badung maka akan ada kenaikan tarif.
Kemudian teknisnya penyaluran air harus menggunakan sistem perpipaan baru. Di sisi lain juga harus ada pertimbangan lokasi pembangunan SWRO.
Perbedaan kondisi ini pun kemudian menjadi bahan pertimbangan. Sehingga bentuk kerjasama dalam pembangunan SWRO ini pun akan berbeda. Hanya saja Suarsa mengaku, studi kelayakan atau FS akan terselesaikan pada 2026. (BP/OKA)













