Konsisten
Jam dinding berteriak,
“setiap detik punya makna,” katanya.
Ia menggiring waktu seperti gembala,
menuntun langkahmu tanpa henti,
meski tak ada mata yang memandang.
Batu di pinggir jalan mengajarimu diam.
Ia menanggung hujan tanpa mengeluh,
menyimpan kesetiaan di pori-porinya.
Sunyi pun ikut bekerja:
menjahit luka dengan benang tabah.
Ada kemenangan
yang tak memerlukan sorak-sorai,
hanya hati yang menyalakan lentera
meski gelap menolak reda.
Dan kelak,
tanah mencatat jejakmu diam-diam,
seperti pena menulis sejarah
di halaman waktu.
Cengkareng, Oktober 2025
Fokus
Cermin di meja kerja menatapmu tanpa berkedip.
Ia tahu: bukan wajah yang penting,
melainkan cahaya kecil di balik pandangan.
Lampu meja ikut berpikir,
“aku hanya sekadar menerangi,
tapi kau kau sedang menyalakan makna.”
Air di gelas menahan kata,
jernih tanpa perlu menjelaskan dirinya.
Sementara di luar,
lampu-lampu jalan sibuk berdebat tentang cahaya.
Kau tetap di sini,
menjadi lilin kecil
yang cukup untuk satu ruang batin.
Dan suatu hari,
ketika dunia lelah bersuara,
diam yang kau rawat
akan jadi bahasa paling lantang.
Cengkareng, Oktober 2025
Tenang
Kursi kayu menopangmu dengan sabar.
Ia tak protes,
meski retak di dalam,
meski tubuhnya menyimpan beban yang tak disebutkan.
Badai menepuk jendela,
tirai menolak panik,
bergoyang lembut seperti doa menenangkan udara.
Kopi di cangkir menunggu dingin,
belajar sabar sebelum disentuh bibir dunia.
Jam di dinding berjalan dengan langkah tenang,
mengajari waktu agar tak sombong pada cepat.
Sebab ketenangan
adalah keberanian yang duduk bersila,
tak berteriak,
tapi bertahan.
Cengkareng, Oktober 2025
Produktif
Pena di tanganmu bermimpi jadi akar.
Ia menembus halaman demi halaman,
mencari air makna di kedalaman kata.
Kertas putih membuka dirinya,
seolah ladang yang siap ditanami sabar.
Dunia di luar berisik oleh alasan,
namun meja kerja menunduk dan berdoa:
“semoga setiap tetes tinta
menjadi doa yang tumbuh.”
Orang lain mencari pintu,
kau menciptakan kunci.
Dan di bawah cahaya redup,
kerjamu berubah jadi nyanyian
yang hanya bisa didengar oleh kejujuran.
Cengkareng, Oktober 2025
Tidak Butuh Pengakuan
Tanah bekerja dalam diam,
menyimpan benih tanganmu seperti rahasia.
Angin menjadi saksi,
menyapu lembut setiap langkah sabar.
Cangkir teh di sudut meja
menyimpan panasnya tanpa pamer,
seperti hatimu menyimpan syukur tanpa nama.
Kau menulis tanpa ingin dikenal,
dan pena tahu:
ketulusan tak butuh tanda tangan.
Cahaya sejati tak perlu berteriak,
cukup hadir,
dan gelap pun akan paham.
Cengkareng, Oktober 2025
Disiplin
Jam bekerjasama dengan matahari,
membangunkanmu dari mimpi yang nyaris malas.
Alarm menepuk bahumu pelan,
“ayo, janji hari ini menunggu ditepati.”
Kau menyapa tugasmu seperti menyapa doa,
dan kertas kosong menatapmu
dengan keyakinan lembut:
“aku percaya padamu.”
Tak ada paksaan,
hanya ritme kecil menari di dada,
menyebut cinta pada keteraturan.
Dan ketika orang bertanya
bagaimana kau bisa seteguh itu,
pena di tanganmu tersenyum kecil
ia tahu rahasianya:
kau tak pernah menunda hidup.
Cengkareng, Oktober 2025
Dunia yang Sibuk Meniru
Kota berdengung dengan salinan.
Gedung-gedung meniru awan,
manusia meniru bayangan.
Namun kau tetap seperti pohon tua di trotoar:
akar menulis kesetiaan di bawah aspal,
daun-daun tetap berdoa pada cahaya.
Mereka sibuk mengganti warna,
sementara hatimu tetap setia pada keaslian.
Cermin-cermin di toko mode berdebat soal siapa paling indah,
kau justru menatap langit
yang tak pernah meniru siapa pun.
Ketika semua suara berpura-pura jujur,
ketulusanmu berbicara paling nyaring
seperti daun kering jatuh perlahan,
namun bunyinya benar-benar dari bumi.
Cengkareng, Oktober 2025
Sabar
Payung di pojok pintu menunggu hujan,
tak pernah mengeluh meski lama dilupakan.
Ia tahu, setiap kesetiaan
punya waktunya sendiri untuk dibuka.
Angin datang membawa kabar basah,
payung tersenyum kecil
akhirnya dibutuhkan bukan karena indah,
tapi karena setia menunggu.
Kau belajar darinya:
tak semua yang diam
berarti berhenti.
Kadang sabar hanyalah cara lain
untuk terus berjalan,
tanpa langkah.
Cengkareng, Oktober 2025
Tanggung Jawab
Sepatu di depan pintu berdebu,
namun tak pernah menolak perjalanan.
Setiap luka di sol-nya
adalah catatan dari tanah yang pernah disinggahi.
Kau memakainya lagi,
dan sepatu itu berbisik pelan,
“bawalah aku ke arah yang berarti.”
Langit menunduk,
memberi jalan bagi langkah yang tahu arah.
Tanggung jawab bukan beban,
ia bentuk kesetiaan
yang berjalan tanpa suara.
Cengkareng, Oktober 2025
Rendah Hati
Pohon pisang di halaman menunduk,
buahnya berat, tapi ia tetap lembut pada angin.
Daun-daunnya berdoa dalam gesek lembut,
agar hijau tak menjadi kesombongan.
Tanah di bawahnya ikut berbicara,
“akulah yang menahan semua akar,
tapi tak pernah ingin disebut kuat.”
Kau belajar dari mereka
bahwa tinggi bukan alasan untuk meninggi,
dan memberi tak perlu nama di batu nisan.
Di dunia yang sibuk meninggi,
kerendahan hati adalah puncak yang sepi,
namun paling dekat dengan cahaya.
Cengkareng, Oktober 2025
BIODATA
Emi Suy lahir di Magetan, Jawa Timur, pada Februari 1979 dengan nama Emi Suyanti. Hingga saat ini, ia telah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal: Tirakat Padam Api (2011) serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), dan Api Sunyi (2020), serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022). Selain itu, ia juga menulis buku kumpulan esai sastra berjudul Interval (2023). Ia juga menulis naskah opera (libretto) I’m Not For Sale, yang menceritakan perjuangan tokoh anti-perdagangan perempuan Auw Tjoei Lan, diiringi oleh musik dari pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Di kancah internasional, puisinya pernah dimuat dalam majalah sastra berbahasa Inggris Porch Litmag. Ia mengelola blog pribadinya di emisuy.id. Ia dapat dihubungi melalui email [email protected], Instagram @emisuy, dan Facebook Emi Suy.













