KLUNGKUNG, Balipolitika.com– Klungkung tak hanya dikenal sebagai daerah penyimpan jejak sejarah Kerajaan Bali, melainkan juga dikenang melalui warisan seni yang hidup dari generasi ke generasi, yaitu Wayang Kamasan.
Karya seni tradisional asli Desa Kamasan ini menjadi salah satu identitas budaya Klungkung yang memiliki keunikan tersendiri melalui gaya lukisan klasik, pewarnaan alami, serta kisah-kisah epos Ramayana dan Mahabharata.
Di balik setiap garis dan warna yang terpahat dalam lembaran kain, Wayang Kamasan tak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan nilai filosofi dan sejarah.
Keberadaan Wayang Kamasan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Klungkung.
Oleh sebab itu, seni lukis tradisional ini diwariskan secara turun-temurun dan tetap dipertahankan sebagai simbol jati diri masyarakat Bali.
Menurut I Gede Eka Wedasmara, sejarah Wayang Kamasan bermula dari perkembangan seni lukis klasik Bali yang berkembang pada masa Kerajaan Klungkung dan mendapat pengaruh kuat dari tradisi pewayangan.
“Lukisan Wayang Kamasan merupakan seni lukis tradisional asal Desa Kamasan, Bali, yang telah berkembang sejak abad ke-14 pada masa Kerajaan Waturenggong. Pada awalnya, seni lukis ini berfungsi sebagai pembuat ornamen-ornamen di berbagai pura dan kerajaan di Bali. Lukisan ini memiliki keunikan khusus pada penggunaan warna alamnya, salah satunya memanfaatkan batu feri yang hanya ditemukan di Pulau Serangan. Selain warna khasnya, motif lukisan ini selalu mengangkat tema mitologi Hindu Bali serta cerita-cerita epik seperti Ramayana, Mahabharata, maupun Tantri,” ujar I Gede Eka Wedasmara, Senin,15 Juni 2026.
Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, Wayang Kamasan juga menghadapi tantangan di era modern.
Perkembangan zaman dan perubahan minat generasi muda menjadi salah satu alasan pentingnya upaya pelestarian seni tradisional tersebut.
Mengenai cara menjaga keberlangsungan Wayang Kamasan, I Gede Eka Wedasmara menyampaikan bahwa pelestarian dapat dilakukan melalui pendidikan, pengenalan kepada generasi muda, serta dukungan masyarakat terhadap para seniman lokal.
“Agar Wayang Kamasan tetap eksis, kami sebagai seniman membuat produk turunan bergaya modern, seperti tempat tisu yang dilukis dengan motif Wayang Kamasan, kipas, bokor, tumbler, dan lain-lain. Selain itu, kami juga mendirikan sanggar agar anak-anak bisa berlatih sejak dini,” tuturnya.
Tak hanya itu, keterlibatan anak-anak dan generasi muda dalam mengenal serta mempelajari proses pembuatan Wayang Kamasan menjadi langkah penting agar warisan budaya ini tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang di masa depan.
Saat ditanyakan mengenai harapan untuk keberlangsungan Wayang Kamasan, I Gede Eka Wedasmara mengungkapkan bahwa seni ini perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan lokal maupun mancanegara.
“Saya berharap sih ada generasi muda nantinya bisa mengolaborasikan antara lukisan Kamasan dengan gaya abstrak ataupun yang lainnya, itu boleh-boleh saja. Tapi, dia tidak masuk dalam kategori indikasi geografis. Karena yang masuk kategori indikasi geografis adalah harus sesuai dengan pakem yang sudah kita sepakati di MPIG itu sendiri. Itu sih sebenarnya,” harapnya.
Bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin melihat secara langsung keindahan dan proses pembuatan Wayang Kamasan, Suar Gallery Traditional Painting menjadi salah satu tempat yang dapat dikunjungi.
Galeri ini menghadirkan berbagai karya Wayang Kamasan yang dibuat oleh para seniman lokal dengan tetap mempertahankan pakem dan teknik tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pengunjung tidak hanya dapat menikmati detail lukisan yang penuh makna, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenal proses pembuatan Wayang Kamasan, mulai dari pembuatan sketsa, penggunaan warna alami, hingga makna cerita yang terkandung dalam setiap karya.
Keberadaan galeri seperti Suar Gallery Traditional Painting menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan menjaga karya yang telah ada, tetapi juga dengan terus mengenalkan dan menghidupkan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Wayang Kamasan merupakan bukti bahwa Klungkung memiliki kekayaan budaya yang tidak sekadar dikenal sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dikenang melalui keindahan dan makna yang terkandung di dalamnya.
Melalui tangan para seniman, dukungan masyarakat, serta rasa cinta generasi muda terhadap budaya daerah, Wayang Kamasan akan terus menjadi warisan yang hidup dan membanggakan bagi Bali maupun dunia. (bp/I Gede Anom/4C/PBSI/Undiksha)













