KOTA itu dipenuhi wajah-wajah yang lupa cara menatap. Orang-orang berjalan terburu-buru di trotoar, memegang telepon genggam seperti jimat kecil yang menyelamatkan mereka dari kesepian. Lampu-lampu toko menyala sampai larut malam, memantul di kaca-kaca gedung yang tinggi dan dingin. Di perempatan jalan, hujan semalam masih menyisakan genangan air yang memantulkan langit pucat seperti cermin retak.
Dan di antara semua keramaian itu, Bram memotret bayangan manusia. Bukan wajah. Bukan tubuh. Tetapi Bayangan. Ia percaya bayangan jauh lebih jujur daripada manusia itu sendiri. “Wajah bisa belajar berbohong,” katanya suatu ketika kepada seorang wartawan lokal yang mewawancarainya. “Tetapi bayangan selalu membawa bentuk asli ketakutan manusia.” lanjutnya. Wartawan itu tertawa kecil, mengira Bram sedang bercanda. Padahal tidak.
Bram adalah fotografer yang cukup menikmati pekerjaannya. Dia memiliki studio foto jadul yang antik. Studio foto milik Bram berada di lantai dua bangunan tua dekat rel kereta. Tangga kayunya berderit setiap kali diinjak. Cat dinding mengelupas. Bau lembap bercampur aroma cairan pencuci foto memenuhi ruangan seperti kenangan lama yang tidak selesai dikuburkan.
Di dinding studio tergantung ratusan foto hitam-putih. Semua hanya berisi bayangan. Bayangan seorang perempuan membawa koper. Bayangan anak kecil memegang balon.
Bayangan lelaki tua duduk sendirian di halte. Bayangan seorang pengemis di bawah jembatan.
Semuanya hanya bayangan. Tidak ada wajah. Tidak ada identitas. Hanya gelap yang menyerupai manusia.
Orang-orang kota menganggap Bram aneh. Sebagian menyebutnya gila. Sebagian lagi menyebutnya seniman. Tetapi Bram tidak terlalu peduli. Sejak istrinya meninggal tujuh tahun lalu, ia memang berhenti merasa perlu menjelaskan dirinya kepada siapa pun.
Namanya Raina. Perempuan yang gemar menanam melati di halaman rumah kontrakan mereka. Perempuan yang selalu tertawa kecil sebelum hujan turun. Perempuan yang suatu malam pergi membeli obat dan tidak pernah pulang lagi. Motor yang dikendarainya ditabrak truk di jalan lingkar utara ketika hujan deras mengguyur kota.
Sejak malam itu, Bram mulai membenci wajah manusia. Di rumah sakit, ia melihat terlalu banyak ekspresi palsu. Wajah belasungkawa yang kosong, mata yang pura-pura sedih,
mulut yang mengucapkan doa sambil tergesa ingin pulang. Tetapi ketika ia berdiri di lorong rumah sakit dan melihat bayangan orang-orang jatuh memanjang di lantai keramik karena cahaya lampu neon, ia merasakan sesuatu bahwa bayangan-bayangan itu tampak lebih sedih daripada pemiliknya. Sejak itulah ia mulai memotret bayangan. Bayangan yang membayang kejujuran.
Malam biasanya menjadi waktu favorit Bram berjalan mengelilingi kota. Ia membawa kamera analog tua yang talinya mulai rapuh dimakan usia. Langkahnya pelan menyusuri gang-gang sempit, trotoar basah, taman kota yang lengang, dan stasiun kereta yang hampir tertidur.
Ia berburu bayangan. Kadang ia memotret pantulan tubuh manusia di genangan air. Kadang bayangan seseorang yang memanjang di bawah lampu jalan. Kadang siluet penumpang bus yang samar di balik kaca berkabut. Dan anehnya, semakin lama ia memotret, semakin ia merasa semua bayangan itu saling mengenal. Dan seolah gelap memiliki bahasanya sendiri.
Suatu malam di bulan Desember, hujan turun tipis seperti kabut air. Bram sedang memotret bayangan seorang perempuan di halte tua dekat taman kota ketika sesuatu membuat tangannya gemetar. Bahwa bayangan itu terasa familiar.
Perempuan itu mengenakan sweater abu-abu longgar. Rambutnya panjang.
Tubuhnya kurus. Ia berdiri diam di bawah lampu jalan sambil memegang payung hitam. Bram mengangkat kamera perlahan. “Klik.” Cahaya lampu berkedip kecil. Perempuan itu menoleh.
Dan untuk sesaat, Bram merasa jantungnya berhenti. Wajah itu. Bukan. Bukan. Bukan. Bukan karena mirip Raina, melainkan karena terasa seperti wajah seseorang yang pernah hadir dalam mimpi yang terus berulang. Mata perempuan itu tenang. Terlalu tenang. Sangat tenang.
“Maaf,” kata Bram gugup.
“Saya fotografer.” mencoba memberikan penjelasan. Perempuan itu tidak tampak terkejut.
“Hanya bayangan yang difoto?” kata perempuan itu.
Bram mengangguk.
“Kenapa?” lanjut perempuan itu.
“Karena manusia sering pergi,” jawab Bram pelan.
“Tetapi bayangan tinggal lebih lama.” perempuan itu tersenyum kecil.
“Hujan juga begitu.” tegas perempuan itu. Kalimat itu membuat tengkuk Bram meremang. “Hujan?” tanya Bram.
“Kadang manusia mengira hujan turun dari langit,” katanya lirih.
“Padahal sebagian datang dari kenangan.” lanjutnya.
Angin dingin bertiup pelan. Daun-daun basah bergerak di trotoar seperti sesuatu yang sedang merangkak. Bram ingin bertanya siapa perempuan itu. Tetapi sebuah bus melintas di jalan depan halte, memercikkan air hujan ke mana-mana. Dan ketika bus itu pergi, perempuan itu sudah tidak ada. Hilang begitu saja. Yang tersisa hanya bangku halte kosong dan suara hujan kecil di atap seng.
Malam itu Bram mencuci hasil fotonya di studio. Lampu merah redup menggantung di langit-langit ruangan seperti mata yang lelah. Satu demi satu foto muncul perlahan di atas kertas basah. Bayangan anak kecil. Bayangan penjual koran. Bayangan pasangan kekasih.
Lalu foto perempuan di halte itu muncul. Bram membeku. Karena di foto itu, bayangan perempuan tersebut tidak jatuh ke belakang mengikuti arah lampu. Bayangannya justru mengarah ke depan. Seolah cahaya datang dari dalam tubuhnya sendiri. Dan yang lebih aneh,
di dekat bayangan itu tampak siluet samar seorang perempuan lain. Perempuan berambut panjang. Memegang buku.
Bram menatap foto itu lama sekali sampai napasnya terasa berat. Ia yakin tidak ada orang kedua saat memotret tadi. Tetapi sosok samar itu nyata di dalam foto. Sangat nyata.
Hari-hari berikutnya Bram mulai terobsesi mencari perempuan tersebut. Ia mendatangi halte yang sama setiap malam. Memotret setiap orang yang lewat. Menunggu hujan turun. Tetapi perempuan itu tidak pernah muncul lagi. Sebaliknya, sesuatu yang lain mulai terjadi. Semua bayangan dalam foto-fotonya perlahan berubah.
Di sudut-sudut gambar, mulai muncul siluet perempuan yang sama. Kadang berdiri jauh di belakang. Kadang duduk di bangku taman. Kadang hanya berupa pantulan samar di genangan air. Semakin lama, sosok itu semakin jelas. Sweater abu-abu. Rambut panjang. Payung hitam. Dan selalu dengan tatapan yang tampak seperti sedang menunggu seseorang mengingatnya.
Setelah itu, Bram mulai sulit tidur. Ia merasa studio fotonya dipenuhi seseorang. Kadang tengah malam ia mendengar suara langkah kecil di lantai kayu. Kadang suara halaman buku dibalik perlahan. Kadang aroma melati muncul tiba-tiba dari sudut ruangan yang gelap.
Suatu malam ia terbangun karena mendengar suara kamera jatuh. Ketika keluar kamar, ia melihat satu foto tergantung miring di dinding. Foto halte itu. Tetapi kini ada tulisan kecil muncul di bagian bawah cetakan yang sebelumnya tidak pernah ada. Tulisan tangan. Basah seperti tinta yang terkena hujan. “Tidak semua yang hilang benar-benar pergi.” Membaca tulisan itu tangan Bram langsung gemetar. Di bawah tulisan itu terdapat cap samar, “Kamar 13”. Lampu studio berkedip pelan. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup bersama bayangan, Bram merasa, mungkin ada sesuatu yang sedang memotretnya dari balik kegelapan.
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.













