KINTAMANI, Balipolitika.com– Di tengah anggapan bahwa profesi petani identik dengan pekerjaan yang kotor dan kurang menjanjikan, seorang lulusan pendidikan tinggi negeri (Undiksha) I Komang Sukarsana memilih jalan yang berbeda.
Ia memutuskan menekuni usaha Kopi Kintamani, yakni kopi arabika unggulan dari dataran tinggi vulkanik Gunung Batur sejak tahun 2014 silam.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, kopi menjadi komoditas dunia yang memiliki peluang pasar sangat luas.
Terlebih lagi, Kopi Kintamani dikenal memiliki karakteristik unik berupa cita rasa jeruk dan telah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis.
Reputasi tersebut menjadikan Kopi Kintamani memiliki daya saing tinggi dan membuka akses menuju pasar global.
“Kopi menjadi komoditas dunia. Kopi Kintamani memiliki karakter unik dengan cita rasa jeruk dan sudah bersertifikat Indikasi Geografis. Melalui reputasi tersebut, akses ke pasar nasional maupun internasional menjadi semakin terbuka,” ujar I Komang Sukarsana.
Upaya mengembangkan Kopi Kintamani tidak hanya dilakukan melalui proses budidaya dan pemasaran di dalam negeri.
Untuk memperluas jaringan dan memperkenalkan kopi lokal ke pasar dunia, ia aktif mengikuti berbagai pameran dan kegiatan promosi kopi di tingkat internasional.
Ia pernah berpartisipasi dalam pameran kopi dan produk pertanian di beberapa negara, seperti Inggris, Russia, Japan, Thailand, Singapore, United Arab Emirates (Dubai), USA, dan China.
Melalui kegiatan tersebut, ia memperoleh wawasan mengenai tren industri kopi global sekaligus memperkenalkan keunggulan Kopi Kintamani kepada calon mitra dan pembeli dari berbagai negara.
Keberhasilannya menekuni usaha kopi tidak terlepas dari cara pandangnya terhadap pendidikan.
Bagi I Komang Sukarsana, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan menjadi bekal untuk melihat peluang dan mengembangkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.
“Esensi pendidikan sebenarnya bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi untuk mengubah pola pikir. Dengan berwirausaha, kita dapat mengembangkan kemampuan berpikir, menciptakan lapangan kerja bagi orang lain, serta membantu mengembangkan potensi lokal yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat pedesaan,” jelasnya.
Meski demikian, perjalanan menjadi petani dan pengusaha kopi tidak terlepas dari berbagai kendala.
Dari sisi internal, tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan lahan, modal usaha, serta pengetahuan mengenai budidaya dan pengolahan kopi.
Sementara dari sisi eksternal yakni perubahan cuaca yang tidak menentu, harga pasar, serta pemasaran dan inovasi pengolahan kopi yang dinamis alias cepat mengalami perubahan.
Di balik berbagai tantangan tersebut, ia tetap memiliki harapan besar terhadap masa depan kopi lokal.
Ia berharap Kopi Kintamani tetap lestari, kesejahteraan petani meningkat, dan kelestarian alam tetap terjaga.
Ia berharap generasi muda tidak ragu untuk terjun ke dunia pertanian. Baginya, sektor pertanian bukan hanya tentang bercocok tanam, tetapi juga tentang menciptakan inovasi, mengembangkan potensi daerah, serta membangun masa depan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
“Ubah pola pikir bahwa bertani tidak identik dengan kotor dan miskin. Kembangkan potensi pertanian yang memiliki prospek cerah di masa depan. Jagalah alam dengan bertani agar kita bisa bermanfaat bagi banyak orang. Berani bermimpi, berinovasi, dan mencoba hal-hal baru agar kita bisa survive dan hidup lebih layak,” pesannya. (bp/Ni Luh Priyanti Dewi/4C/Basindo/Undiksha)










