BANYUWANGI, Balipolitika.com– Sebuah sudut tersembunyi di kawasan Pantai Watu Dodol, Kabupaten Banyuwangi belakangan ini mendadak viral di berbagai platform media sosial.
Lokasi yang terletak di antara Grand Watudodol (GWD) dan Patung Gandrung tersebut mencuri perhatian warganet karena tempatnya yang bersih, rapi, serta dihiasi bunga, susunan batu, hingga ornamen bambu yang tertata di tepi pantai.
Keindahan spot alternatif ini pertama kali viral di media sosial setelah diunggah oleh akun TikTok @triaakusuma.
Dalam unggahan tersebut, pesona matahari terbit (sunrise) yang berpadu dengan ketenangan ombak membuat banyak masyarakat penasaran.
Apabila beruntung, pengunjung yang datang pada pagi hari juga disuguhkan panorama eksotis berupa kapal yang melintasi Selat Bali.
Untuk menuju ke lokasi, pengunjung harus melewati jalan setapak yang hanya bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua.
Jalur menuju ke wisata ini sebelumnya sempat ditutup oleh pihak pengelola resmi GWD karena suasananya yang terlalu sepi, namun sejak tempat ini viral, akses tersebut kini telah dibuka kembali secara normal.
Bagi pengunjung yang membawa kendaraan roda empat, mereka harus memarkirkan kendaraannya di area parkir resmi GWD dan berjalan kaki menuju lokasi.
Karena jalurnya yang bersebelahan, beberapa pengunjung sempat dimintai tiket masuk oleh pengurus resmi GWD saat melintasi jalan tersebut.
Di balik pesona estetik pantai tersebut, terdapat kisah yang menyentuh hati. Sosok di balik rapi dan bersihnya kawasan pesisir itu ternyata bukanlah pengelola wisata resmi dari wisata GWD, melainkan seorang pria paruh baya tunawisma asal Demak, Jawa Tengah bernama Mbah Siman (50 tahun).
Mbah Siman yang sudah merantau di Banyuwangi selama 1,5 tahun dan ia tidak tinggal sendiri, ia dibantu oleh rekan setianya, Pak Saini (50-an tahun), warga asli Rogojampi, Banyuwangi.
Keduanya sehari-hari tinggal di sebuah gubuk sederhana di sekitar kawasan pantai tersebut untuk berteduh sekaligus merawat area pesisir secara sukarela.
Saat dihubungi melalui sambungan telepon, Mbah Siman menceritakan bahwa sebelum ditata, sudut pantai ini dikenal sangat angker, menyeramkan, dipenuhi semak-semak liar, dan tumpukan sampah.
Aksi bersih-bersih ini ia lakukan murni karena keinginan pribadinya agar lingkungan tempat tinggalnya terasa bersih dan nyaman dipandang.
“Awalnya saya tata pelan-pelan. Semua ide menata batu, menanam bunga, dan membersihkan sampah ini muncul begitu saja dari pikiran saya. Saya kumpulkan batu-batu yang terbawa ombak ke pinggir pantai, lalu saya susun satu demi satu untuk dijadikan jalan dan tempat duduk pengunjung. Ternyata sekarang malah ramai anak muda yang datang untuk foto-foto,” ujar Mbah Siman, Minggu, 7 Juni 2026.
Perjuangan Mbah Siman dan Pak Saini merawat area pesisir pantai ini juga terbantu oleh fenomena alam yang unik.
Tepat di dekat gubuk mereka, terdapat sumber air tawar dan dapat langsung diminum, meski letaknya berada sangat dekat dengan air laut yang asin.
Air tawar inilah yang mereka gunakan untuk bertahan hidup sekaligus menyiram tanaman bunga setiap hari.
Beliau juga menambahkan bahwa pemandangan kapal di Selat Bali menjadi salah satu alasan mengapa sudut pantai ini begitu menenangkan bagi dirinya.
”Di sini pemandangannya memang bagus. Kalau pagi bisa lihat matahari terbit, terus biasanya kelihatan kapal-kapal feri maupun kapal barang yang mau menyeberang ke Bali. Makanya saya betah di sini dan ingin tempat ini selalu bersih supaya yang datang juga nyaman menikmati pemandangan,” ungkapnya.
Meski rakitan tangan mereka kini bertransformasi menjadi hidden gem baru yang ramai dikunjungi wisatawan untuk berburu sunrise, Mbah Siman menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah berniat memungut biaya tiket masuk ataupun uang parkir dari para pengunjung.
Di akhir obrolan, Mbah Siman asal Demak ini menitipkan sebuah pesan mendalam bagi para generasi muda yang berkunjung ke sudut pantai yang telah ia rawat dengan ketulusan hati tersebut.
”Saya tidak minta uang tiket atau apa, silahkan kalau mau foto-foto sepuasnya di sini. Saya cuma minta satu saja, tolong anak-anak muda jangan suka membuang sampah sembarangan. Kasihan pantainya, sampah-sampah itu bikin jelek pemandangan yang sudah bagus,” pungkas Mbah Siman.
Melalui kepedulian mandiri dari dua pria paruh baya ini, para pengunjung diharapkan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan, tetapi juga ikut menjaga kelestarian sudut tersembunyi Pantai Watudodol agar tetap asri dan bebas dari sampah. (bp/Naeila Awaliyatul Mahgfiroh/4C/Basindo/Undiksha)













