KLUNGKUNG, Balipolitika.com– Di tengah derasnya arus modernisasi, usaha kuliner tradisional laklak di Kota Klungkung tetap bertahan dengan semangat para pedagangnya yang pantang menyerah.
Dalam wawancara eksklusif dengan salah seorang pedagang laklak di Kota Klungkung, terungkap bagaimana usaha warisan leluhur ini masih menjadi tumpuan hidup hingga kini.
I Nengah Gini (61 tahun) telah berjualan laklak selama sekitar 20 tahun di lokasi yang sama.
“Saya mulai jualan laklak sejak dulu, warisan dari keluarga. Awalnya hanya untuk tambahan penghasilan, tapi sekarang sudah jadi mata pencaharian utama,” ujarnya sambil tersenyum ramah saat diwawancarai, Sabtu, 6 Juni 2026.
Suaminya, I Wayan Nitra, turut membantu dalam pengelolaan usaha sederhana ini.
Laklak sendiri adalah kue tradisional Bali berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula merah yang bertekstur lembut dan gurih-manis.
Kue ini biasanya disajikan hangat dengan parutan kelapa di atasnya dan menjadi favorit warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Klungkung.
I Nengah Gini menjelaskan bahwa meski menghadapi persaingan dengan kuliner modern, penjualan laklaknya tetap stabil.
“Pelanggan utama saya tetap masyarakat Klungkung dan sekitarnya, terutama untuk sarapan atau oleh-oleh. Wisatawan juga mulai banyak yang penasaran dengan rasa autentik laklak Bali,” katanya.
Keistimewaan laklak yang dijual I Nengah Gini tidak hanya terletak pada rasanya yang khas, tetapi juga pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional.
Setiap hari, ia bangun dini hari untuk menyiapkan adonan dan memasak laklak agar dapat disajikan dalam keadaan hangat kepada para pelanggan.
Aroma harum santan dan gula merah yang memenuhi area jualannya sering kali menarik perhatian masyarakat yang melintas.
Selama bertahun-tahun berjualan, I Nengah Gini telah memiliki banyak pelanggan setia.
Sebagian besar pembeli mengaku menyukai cita rasa laklak yang tetap konsisten dari waktu ke waktu.
Bahkan, beberapa pelanggan datang kembali karena merasa rindu akan rasa tradisional yang mengingatkan mereka pada masa kecil.
Hal ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat meskipun berbagai makanan modern terus bermunculan.
Yang paling I Nengah Gini syukuri adalah dukungan keluarga.
“Anak-anak saya sudah pada besar, tapi mereka tetap membantu. Kalau saya sakit, mereka yang menggantikan jualan. Ini memang sudah jadi warisan keluarga,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia juga menyampaikan harapannya agar generasi muda Bali tetap tertarik melestarikan kuliner tradisional.
“Saya ingin anak cucu saya tetap bisa jualan laklak seperti saya. Jangan sampai kita kehilangan warisan kuliner ini karena terlalu banyak makan makanan modern,” pesannya.
Menurutnya, menjaga keberlangsungan kuliner tradisional bukan hanya soal mempertahankan usaha, tetapi juga menjaga identitas budaya Bali.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari cara membuat dan memasarkan makanan tradisional sehingga warisan kuliner daerah tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Untuk saat ini, I Nengah Gini menjual laklak dengan harga mulai dari Rp3.000 sampai Rp10.000 per porsi (5–6 buah), harga yang relatif terjangkau dibandingkan dengan kuliner serupa di destinasi wisata populer lainnya di Bali.
Klungkung sendiri dikenal sebagai salah satu pusat kuliner tradisional Bali yang masih mempertahankan keaslian rasa dan cara pembuatan.
Keberadaan pedagang seperti I Nengah Gini dan dukungan I Wayan Nitra menjadi bukti bahwa warisan kuliner nusantara masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Dengan semangat, ketekunan, dan kecintaan terhadap budaya lokal, para pedagang kuliner tradisional terus berupaya menjaga agar cita rasa khas Bali tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang. (bp/Ni Komang Ayu Belani/4C/Basindo/Undiksha)













