DALAM dunia seni rupa, kita terbiasa mencari “ciri khas” seorang seniman. Kita mencoba mengenali pola warna, komposisi, aliran, atau tema tertentu sebagai penanda identitas. Ketika gaya itu konsisten dan mudah dikenali, kita merasa nyaman, seolah-olah kita telah memahami sang seniman. Namun, kenyamanan itu justru sering kali menyederhanakan kenyataan bahwa proses kreatif tidak pernah benar-benar stabil. Ia bergerak, berubah, dan kadang melompat jauh dari titik sebelumnya.
I Made Romi Sukadana memperlihatkan dengan jelas bahwa identitas artistik tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang tunggal dan ajeg, melainkan sebagai perjalanan yang terus berlangsung. Hal itu bisa kita lihat pada pameran tunggal bertajuk “Divergent Mind” yang digelar di Santrian Gallery, Sanur, dari tanggal 9 Januari hingga 28 Februari 2026.
Pada pameran tunggalnya kali ini, Romi menampilkan sejumlah karya yang dikerjakannya dari tahun 2011 hingga 2025. Dalam rentang waktu 14 tahun itu kita bisa melihat proses kreatif Romi yang tidak stagnan. Pada pameran ini, kita disuguhi karya-karya Romi yang bernada realis, surealis, figuratif, hingga abstrak.
Romi tentu bukan pendatang baru dalam dunia seni rupa. Seniman kelahiran Denpasar, 22 Januari 1973 ini, menamatkan studi seni lukisnya di STSI Denpasar (kini ISI Bali). Ia telah banyak terlibat dalam pameran bersama, baik di dalam maupun luar negeri. Dan, sejak 2001, ia telah enam kali menggelar pameran tunggal di Bali dan Jakarta. “Divergent Mind” adalah pameran tunggalnya yang keenam.
Secara umum, divergent mind adalah pola pikir kreatif dan terbuka untuk menghasilkan banyak ide, solusi unik, atau berbagai kemungkinan jawaban atas satu masalah secara spontan. Ini adalah proses kognitif yang tidak terstruktur, bebas, dan sering kali menghasilkan pemikiran out of the box untuk mengeksplorasi banyak perspektif.
Poin-poin penting mengenai divergent mind adalah spontan, fleksibel, orisinal, dan berani mengambil risiko. Selain itu, berani melepaskan diri dari pola mapan untuk mencari banyak jalur alternatif. Orang yang menerapkan divergent mind berusaha menghasilkan ide sebanyak-banyaknya sebelum akhirnya dievaluasi. Hal itu, misalnya, tampak pada proses kreatif Romi.
Sejak awal karirnya, Romi menunjukkan kecenderungan untuk tidak berhenti dalam satu gaya seni lukis. Kegelisahan kreatif Romi dengan gamblang bisa kita lihat pada pameran tunggalnya kali ini. Karya seperti “Kira-kira Superman (Thinker)” buatan tahun 2011 sudah memberi sinyal tentang ketertarikannya pada simbol dan ironi. Figur Superman, yang identik dengan kekuatan dan kepastian, dihadirkan dalam posisi berpikir. Ada kesan reflektif, bahkan paradoksal. Sosok yang biasanya tampil sebagai penyelamat justru tampak merenung, seakan mempertanyakan perannya sendiri. Dalam karya ini, Romi memadukan ikon populer dengan perenungan personal, menciptakan jarak antara citra dan makna.
Berbeda dengan itu, seri “Morning I & II” (2015) menghadirkan suasana yang lebih intim. Ukurannya lebih kecil, pendekatannya lebih tenang. Di sini, perhatian seakan diarahkan pada gestur, suasana batin, dan momen-momen sederhana. Perubahan skala dan pendekatan ini tidak terasa sebagai perpindahan fase yang kaku, melainkan sebagai bagian dari eksplorasi yang wajar. Romi seperti membiarkan setiap gagasan menemukan bentuknya sendiri, tanpa harus memaksanya masuk dalam kerangka gaya tertentu.
Tahun 2016 menjadi periode yang menarik dengan munculnya karya-karya seperti “Welcome to Paradise”, “Rajanya Disambut”, dan “What Do You Think”. Judul-judul ini terasa provokatif, bahkan sedikit satir. “Paradise” dan “raja” adalah kata-kata yang sarat makna, terutama jika dikaitkan dengan konteks Bali yang selama ini dipromosikan sebagai surga wisata. Melalui lukisan-lukisan ini, Romi seakan mengajak kita melihat ulang gambaran ideal tersebut. Ada nuansa kritik sosial yang muncul, namun tidak disampaikan secara gamblang. Ia membiarkan visual berbicara melalui komposisi yang dinamis, figur-figur yang ekspresif, dan atmosfer yang kadang terasa ganjil.
Dalam “What Do You Think”, pertanyaan yang diajukan terasa personal sekaligus terbuka. Lukisan itu seperti cermin yang memantulkan kembali pikiran apresian. Romi tidak memaksakan jawaban; ia hanya membuka ruang dialog. Di titik ini, seni tidak lagi sekadar menyampaikan pesan, tetapi menjadi ruang pertemuan antara pengalaman seniman dan pengalaman pemirsa.
Karya-karya tahun 2018 seperti “With the Dog” dan “The Winner” memperlihatkan ketertarikan Romi pada relasi dan situasi yang ambigu. Ada unsur naratif yang kuat, namun tidak sepenuhnya jelas. Siapa yang menjadi pemenang? Apa makna kebersamaan dengan seekor anjing? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung, memberi ruang tafsir yang luas. Romi tampaknya menikmati ketidakpastian makna, membiarkan setiap orang menemukan ceritanya sendiri di dalam lukisan.
Memasuki 2021, terjadi pergeseran suasana dalam karya seperti “Irama Alam” dan “Harmony”. Alam menjadi sumber inspirasi yang dominan. Warna-warna terasa lebih mengalir, komposisi lebih ritmis. Jika sebelumnya kita melihat kritik sosial dan permainan simbol, kini yang muncul adalah perenungan yang lebih kontemplatif. Alam tidak digambarkan secara realistis, tetapi sebagai ruang rasa, tempat di mana warna dan gerak menjadi bahasa utama. Lukisan-lukisan ini menghadirkan ketenangan sekaligus energi, seperti napas panjang setelah perjalanan yang padat.
Kecenderungan ini berlanjut dalam seri 2024 seperti “Blue Sky”, “About Nature”, dan “Mountain”. Ukurannya relatif kecil, namun menghadirkan kesan lapang. Langit biru, gunung, dan elemen alam lainnya tidak hanya menjadi objek visual, tetapi simbol kebebasan dan refleksi. Ada kesederhanaan yang terasa matang. Romi tidak lagi sibuk dengan detail naratif; ia memberi ruang pada warna dan komposisi untuk berbicara lebih jernih.
Tahun 2025 menunjukkan eksplorasi yang semakin berani. “Imagination I & II” hadir dalam ukuran besar dengan energi visual yang kuat. Imajinasi di sini tidak dibatasi oleh satu tema. Ia seperti ledakan gagasan yang dituangkan ke dalam kanvas. Dalam “Black White and Green” serta “After Rain”, kontras warna dan tekstur menciptakan ketegangan yang menarik. Ada dialog antara gelap dan terang, antara padat dan lapang. Lukisan-lukisan ini terasa lebih bebas, seakan Romi semakin percaya pada instingnya sendiri.
Karya “Wisdom” dan “Authority” menghadirkan refleksi tentang nilai dan kuasa dalam format yang lebih kecil dan intim. Sementara itu, “Exotic Bali” dan “The Lost Exoticism of Bali” secara langsung menyentuh isu identitas lokal. Bali sering dipandang sebagai tempat yang eksotis dan romantis. Namun Romi seolah mempertanyakan: apakah eksotisme itu masih utuh? Ataukah ia telah berubah, bahkan hilang? Lukisan-lukisan ini tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi memunculkan kesadaran bahwa identitas budaya selalu bergerak mengikuti zaman.
Salah satu karya yang paling personal adalah “Myself” (2025), yang menggunakan teknik body stamp. Di sini, tubuh seniman menjadi bagian langsung dari medium. Jejak fisik yang tertinggal di kanvas bukan sekadar efek visual, tetapi pernyataan kehadiran. Melukis menjadi tindakan yang melibatkan seluruh tubuh, bukan hanya tangan atau pikiran. Karya ini terasa seperti pengakuan bahwa di balik semua eksplorasi tema dan gaya, ada individu yang terus mencari dan memahami dirinya sendiri.
Jika kita melihat keseluruhan proses kreatif Romi, jelas bahwa “Divergent Mind” bukan tentang keragaman semata. Hal ini adalah gambaran tentang keberanian untuk tidak terpaku pada satu gaya visual. Romi tidak membiarkan dirinya terjebak dalam satu pola yang nyaman. Ia bergerak dari figuratif ke lanskap, dari kritik sosial ke refleksi personal, dari simbol populer ke gestur abstrak. Setiap karya adalah percobaan baru, sekaligus kelanjutan dari pencarian sebelumnya.
Sebagai apresian, kita diajak untuk melepaskan keinginan menemukan satu label yang pasti. Identitas dalam karya-karya Romi justru terletak pada geraknya. Perubahan bukanlah tanda inkonsistensi, melainkan bukti bahwa proses kreatif terus hidup. Dalam dunia yang sering menuntut kepastian dan pengelompokan, sikap ini terasa penting. Hal ini mengingatkan bahwa seni adalah ruang kebebasan, tempat pikiran dapat menyimpang, bertanya, dan menjelajah tanpa takut salah.
Pada akhirnya, “Divergent Mind” memperlihatkan bahwa melukis bagi I Made Romi Sukadana adalah cara berpikir sekaligus cara hidup. Ia tidak berhenti pada satu jawaban. Setiap kanvas adalah jejak perjalanan, setiap warna adalah keputusan yang lahir dari keberanian untuk mencoba. Dalam gerak yang terus berubah itulah identitasnya terbentuk, bukan sebagai sesuatu yang tetap, tetapi sebagai proses yang selalu menjadi.***
BIODATA
Wayan Jengki Sunarta lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Selain menulis karya sastra, ia juga kerap menjadi kurator, pembicara, dan pengulas seni rupa sejak 2001. Tulisan-tulisan seni rupanya dimuat di Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Bali Post, The Jakarta Post, Majalah Arti, Majalah Seni Sarasvati, dan juga tersebar dalam puluhan katalog seni rupa. Ia pernah menjadi pembicara dalam seminar “Membangun Dinamika Seni Rupa Indonesia” di Galeri Nasional Jakarta (2007), “Membangun Jejaring dan Mediasi Seni Rupa” yang diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia di Bentara Budaya Bali (2011), “Art Making: Potensi dan Tantangan Seni Rupa Bali Kini” di Bentara Budaya Bali (2013). Tahun 2017, ia menjadi salah satu peneliti dan pengkaji “Seni lukis Gaya Batuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda”, program Dinas Kebudayaan Bali. Tahun 2020, ia terlibat sebagai peneliti dan pengkaji “Museum Le Mayeur”, program Dinas Kebudayaan Bali.













