BANDARA selalu punya cara sendiri untuk mempermainkan waktu. Detik terasa lebih panjang, napas menjadi lebih berat, dan setiap langkah orang lain seperti membawa kabar yang bukan untuk kita.
Lie berlari kecil memasuki ruang tunggu kedatangan. Napasnya tersengal, kemeja yang ia pakai sedikit basah di bagian punggung. Keringat bukan hanya karena panas sore itu, tapi juga karena kemacetan yang seperti sengaja menguji kesabarannya. Jalanan kota Bandung sejak pukul tiga sore sudah seperti simpul yang tak bisa diurai. Klakson bersahutan, sopir angkot saling memaki, dan Lie hanya bisa menatap jam tangannya berulang-ulang. Pukul 17.52. Ia terlambat.
Seharusnya ia sudah berdiri di sini sejak lima belas menit lalu atau bahkan setengah jam lebih awal, seperti rencananya semula. Ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat kekasihnya saat keluar dari pintu kedatangan. Ia sudah membayangkan itu berkali-kali: senyum, lambaian tangan, mungkin pelukan kecil yang canggung karena terlalu lama tidak bertemu.
Tapi sekarang, yang ada hanya napasnya yang belum kembali teratur dan jantung yang masih berdegup terlalu cepat. Lie menatap papan informasi. Penerbangan dari Batam sudah landed. Artinya, pesawat itu sudah mendarat. Artinya… dia mungkin sudah keluar. Atau pikiran itu datang tiba-tiba, mungkin dia sudah menunggu.
Perasaan Lie mulai bergeser. Dari tergesa menjadi cemas. Dari cemas menjadi sesuatu yang lebih gelap, yang tidak bisa ia beri nama. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel kecil berwarna abu-abu. Ia menekan tombol dengan cepat, jari-jarinya sedikit gemetar.
Nomor itu ia hafal di luar kepala.
Beep.
Beep.
Beep.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi…” Suara itu terasa dingin. Mekanis. Tidak peduli. Lie menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama, seolah berharap pesan itu berubah. Tapi tidak ada yang berubah. Hanya tulisan kecil, “Call Ended.”
Ia mencoba lagi. Dan lagi. Hasilnya sama. Perasaannya mulai bercabang. Di satu sisi, ia mencoba rasional: Mungkin baterai habis. Mungkin sinyal buruk. Mungkin pesawat baru saja mendarat dan ponselnya belum dinyalakan.
Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang lebih liar. “Bagaimana kalau dia tidak jadi datang? Bagaimana kalau ada yang berubah? Bagaimana kalau…” selama ini, ia hanya menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah selesai.
Lie menggeleng pelan, mencoba menyingkirkan pikiran itu. Ia melangkah menuju deretan kursi di bandara, duduk, lalu berdiri lagi. Duduk kembali, lalu berdiri lagi. Tubuhnya tidak bisa diam, seperti pikirannya.
Senja mulai turun perlahan di luar kaca besar bandara. Cahaya jingga merayap masuk, membelah lantai menjadi garis-garis panjang yang hangat tapi juga terasa sepi. Lie memandang ke arah pintu kedatangan. Orang-orang mulai keluar. Seorang pria membawa koper besar. Seorang ibu memeluk anaknya. Dua remaja tertawa sambil menyeret tas. Setiap wajah tampak punya tujuan. Setiap langkah seperti menuju seseorang.
Kecuali Lie. Ia hanya berdiri di situ, menunggu satu wajah yang belum juga muncul.
***
Ia datang terlalu awal. Pukul 16.05, ia sudah berdiri di ruang tunggu keberangkatan. Padahal pesawatnya baru akan lepas landas pukul 16.30. Ia sengaja datang lebih cepat, takut sesuatu menghalangi, takut waktu berkhianat.
Ia ingin tiba tepat waktu. Tidak hanya waktu, lebih dari itu, ia ingin lebih dulu sampai, agar Lie tidak perlu menunggu. Ia duduk, lalu berdiri. Membuka tas, menutupnya lagi. Mengeluarkan tiket, memeriksanya berulang-ulang, meski ia tahu tidak ada yang berubah di sana: nama, nomor kursi, dan tujuan, Bandung, Tempat Lie menunggunya.
Ia tersenyum kecil saat mengingat itu. Sudah berbulan-bulan mereka hanya saling mengirim pesan. Kata-kata menggantikan tatapan, suara digantikan teks singkat. Ia membayangkan wajah Lie saat bertemu nanti. Apakah akan sama seperti terakhir kali, atau ada sesuatu yang berubah yang tidak bisa ditangkap lewat tulisan?
Ia mengeluarkan ponselnya. Layar kecil itu menyala redup. Ia mengetik pesan, “Aku sudah di bandara. Sebentar lagi berangkat.” Ia menatap tulisan itu beberapa detik, lalu menekan send. Pesan terkirim.
Tidak lama kemudian, balasan masuk, “Hati-hati ya. Aku tunggu di sana.” Kalimat sederhana itu membuat dadanya hangat. Ia ingin membalas lagi, tapi pengumuman terdengar. Panggilan untuk penumpang mulai dilakukan. Ia berdiri, memasukkan ponsel ke saku, lalu berjalan menuju pintu keberangkatan. Dalam langkahnya, ada sesuatu yang ringan, seperti seseorang yang sedang menuju kepastian.
***
Pukul 18.07.
Lie menggigit bibirnya. Ia kembali menyalakan ponsel, mencoba menelepon lagi. Hasilnya sama. Kosong. Sunyi. Tidak terjangkau. Kali ini, kegelisahan itu berubah menjadi tindakan.
Ia berjalan cepat menuju pojok bandara, tempat telepon umum berdiri. Telepon koin berwarna biru itu tampak kusam, dengan goresan-goresan kecil di permukaannya, seperti menyimpan terlalu banyak cerita orang-orang yang pernah menunggu seperti dirinya.
Lie merogoh saku, mencari koin receh. Tangannya gemetar saat memasukkan koin ke dalam mesin. Ia menekan nomor itu lagi, kali ini dengan lebih hati-hati, seolah ketelitian bisa mengubah hasil.
Nada sambung.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu, hening.
Tidak ada jawaban.
Lie menutup matanya sejenak, dahinya menempel pada kaca kecil telepon. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian di tengah keramaian itu. Suaranya sendiri terdengar asing saat ia berbisik, “Kamu di mana…?”
***
Pesawat itu melaju stabil di atas awan. Lampu kabin redup. Beberapa penumpang tertidur, sebagian membaca, sebagian hanya menatap kosong ke depan. Ia duduk di dekat jendela.
Di luar, langit berubah warna. Dari biru menjadi jingga, lalu perlahan menggelap. Senja terlihat lebih dekat dari sini, seperti sesuatu yang bisa disentuh, tapi tetap tidak bisa dimiliki.
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mengingat bahwa perangkat itu harus tetap dimatikan. Ia tersenyum kecil. Ia membayangkan Lie sedang menunggu, mungkin sudah tiba di bandara, mungkin sedang melihat ke arah pintu kedatangan. “Sebentar lagi,” gumamnya pelan. Ia tidak tahu bahwa di darat, waktu tidak bergerak dengan cara yang sama.
***
Pukul 18.26.
Lie kembali ke ruang tunggu. Langkahnya kali ini lebih pelan. Tidak lagi tergesa, tapi juga tidak sepenuhnya tenang. Ia berdiri di tempat yang sama, menatap pintu kedatangan yang kini mulai sepi.
Orang-orang sudah berkurang. Petugas bandara mulai terlihat santai. Suara pengumuman terdengar sayup, seperti berasal dari dunia lain. Lie memeluk dirinya sendiri, meski udara tidak dingin. Ada ruang kosong di dadanya yang semakin terasa nyata. Ia mencoba mengingat suara kekasihnya. Tawa kecilnya. Cara ia menyebut nama “Lie” dengan nada yang sedikit naik di akhir.
“Sebentar lagi ya…” Kalimat itu tiba-tiba terngiang. Janji sederhana. Yang kini terasa begitu jauh.
***
Sabuk pengaman dinyalakan. Lampu kabin kembali terang. Suara pramugari terdengar menjelaskan bahwa mereka akan segera mendarat. Ia menatap ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai terlihat berkelip, seperti bintang yang jatuh ke bumi. Bandung.
Ia menarik napas dalam. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya campuran antara rindu dan harap. Ia membayangkan satu hal dengan sangat jelas. Lie berdiri di sana. Menunggunya.
***
Lie masih berdiri. Masih menunggu. Sementara seseorang yang ia tunggu, sedang mendekat tanpa tahu bahwa setiap menit keterlambatan telah mengubah sesuatu di dalam diri Lie. Senja telah hampir habis. Dan seperti cinta yang bergantung pada waktu, pertemuan itu tidak lagi hanya soal datang atau tidak, tetapi tentang apakah keduanya masih berada di perasaan yang sama, ketika akhirnya saling melihat nanti.
Dan ketika pengumuman terakhir bergema, menyapu sisa-sisa keramaian yang perlahan surut, Lie masih berdiri di tempatnya hingga akhirnya ia mengerti sesuatu yang sederhana, tetapi terlambat ia sadari. Bukan keterlambatan yang memisahkan mereka, melainkan arah yang tak pernah benar-benar disepakati.
Di bandara lain, pada waktu yang hampir bersamaan, seseorang yang ia tunggu juga berdiri di bawah langit yang sama, menatap senja yang serupa, dengan warna yang perlahan tenggelam ke dalam gelap. Mereka tidak pernah benar-benar salah waktu. Mereka hanya berada di ruang yang berbeda. Sementara waktu diam-diam mempertemukan mereka dalam satu peristiwa yang tak kasatmata.
Dan di sanalah, tanpa saling melihat, tanpa saling menyentuh, mereka akhirnya bertemu bukan sebagai tubuh, melainkan sebagai rindu yang mencapai bentuknya masing-masing. Sebab ada pertemuan yang tidak membutuhkan tempat, cukup kesadaran bahwa di ujung hari yang sama, ada dua hati yang saling mengerti bahwa menunggu pun bisa menjadi cara paling jujur untuk saling hadir.
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.













