MOMENTUM: Jauhi Kerasnya Hati di Hari yang Fitri Sholat Idul Fitri di Lapangan SMP Cipta Dharma Gianyar Penuh Khidmat dan Haru
Sukawati. (Sumber: SGP)
GIANYAR, Balipolitika.com — Pagi yang cerah menyelimuti Lapangan SMP Cipta Dharma di kawasan Perumahan BTN Chandra Asri, Sukawati, saat ratusan jamaah Muslim berkumpul untuk menunaikan Sholat Idul Fitri. Dengan balutan pakaian terbaik, wajah-wajah penuh harap dan keikhlasan tampak menyatu dalam satu tujuan: kembali kepada fitrah, menyucikan hati setelah sebulan, penuh menjalani ibadah Ramadan.
Takbir, tahmid, dan tahlil menggema sejak fajar menyingsing, menciptakan suasana yang syahdu dan menggugah batin.
Anak-anak, orang tua, hingga lansia berbaur tanpa sekat, memperlihatkan indahnya kebersamaan dalam keberagaman yang hidup di tengah masyarakat Gianyar.
Dalam khutbahnya khatib Ustadz Drs H, Rosyid Ridho mengangkat tema tentang pentingnya menjauhi kerasnya hati di hari yang fitri.
Ia mengingatkan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk melembutkan hati, memperbaiki hubungan antarsesama, dan memperkuat keimanan kepada Allah SWT.
“Jangan biarkan hati kita kembali mengeras setelah Ramadan berlalu. Hati yang keras akan menjauhkan kita dari rahmat dan hidayah Allah,” ujar khatib di hadapan jamaah.
Pesan tersebut diperkuat dengan firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Az-Zumar ayat 22:
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang keras hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah keras hatinya untuk mengingat Allah…”
Ayat ini menjadi pengingat bahwa hati yang lembut adalah pintu masuk bagi cahaya petunjuk, sementara hati yang keras hanya akan membawa manusia pada kesesatan dan kehampaan spiritual.
Selain itu, khatib juga mengajak jamaah untuk menjadikan Idul Fitri sebagai titik balik kehidupan.
Saling memaafkan bukan hanya sebatas ucapan, tetapi harus lahir dari ketulusan hati yang bersih dari dendam dan prasangka.
Suasana haru semakin terasa ketika jamaah saling bersalaman usai sholat.
Tangis bahagia pecah di antara pelukan hangat, seolah melebur segala kesalahan dan luka yang pernah ada. Momen ini menjadi bukti bahwa Idul Fitri adalah perayaan kemenangan—bukan hanya atas hawa nafsu, tetapi juga atas ego dan kerasnya hati.
Pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Lapangan SMP Cipta Dharma tahun ini berjalan dengan tertib dan penuh kekhusyukan.
Warga setempat bersama panitia telah mempersiapkan kegiatan dengan baik, menciptakan ruang ibadah yang nyaman dan aman bagi seluruh jamaah.
Hari yang fitri ini pun menjadi pengingat bagi setiap insan untuk terus menjaga kelembutan hati dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sebab, sejatinya kemenangan bukan hanya dirayakan satu hari, tetapi diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Ramadan sepanjang waktu.













