SORE itu, suasana sebuah kafe salah satu mall di daerah Bekasi dipenuhi aroma kopi yang hangat dan percakapan pengunjung. Cahaya matahari yang mulai merendah menembus kaca-kaca besar, memantul lembut di meja-meja kayu. Di sudut kafe itulah saya bergabung dengan sahabat-sahabat Jagat Sastra Milenia (JSM). Awalnya pertemuan ini saya bayangkan sebagai agenda santai semata, menyeruput kopi, berbincang ringan, dan melepas lelah setelah rutinitas harian. Namun, seiring waktu berjalan dan obrolan mengalir, pertemuan ini menjelma menjadi ruang belajar yang hangat dan bermakna.
Percakapan mulai menemukan fokus ketika Riri Satria (ketua JSM) mengambil peran sebagai pemandu diskusi. Dengan gaya bertutur yang tenang dan cair, ia mengarahkan obrolan pada topik penulisan esai tanpa kesan menggurui. Tidak ada jarak antara yang “mengajar” dan “belajar”. Semua terasa setara, seolah kami sedang bertukar pengalaman di antara sahabat, bukan mengikuti kelas formal. Padahal beliau adalah seorang dosen di Universitas Indonesia.
Riri membuka diskusi dengan mengajak kami memahami esai sebagai tulisan yang berangkat dari gagasan dan sudut pandang personal penulis. Dari penjelasannya, saya menangkap bahwa esai bukanlah ruang untuk mencari benar atau salah. Justru yang lebih penting adalah kejelasan cara berpikir dan ketajaman sudut pandang.
Esai menjadi medium untuk menyampaikan pandangan atas pengalaman, peristiwa, atau isu tertentu dengan bahasa yang jernih dan komunikatif. Pada titik ini, saya mulai melihat esai bukan sekadar hasil tulisan, melainkan proses merapikan pikiran dan menguji pemahaman diri.
Pembahasan kemudian bergerak ke jenis-jenis esai. Beliau menjelaskan secara ringkas namun padat tentang esai deskriptif, argumentatif, reflektif, hingga postmodernis, sekaligus membedakannya dengan reportase serta tulisan ilmiah atau saintifik. Dari beragam jenis itu, jenis esai reflektif terasa paling dekat dengan pengalaman saya dan beberapa peserta lain. Esai reflektif memberi ruang bagi pengalaman pribadi untuk diolah menjadi pemahaman yang lebih luas. Peristiwa sehari-hari yang sering kali kita anggap biasa, ternyata dapat menjadi bahan tulisan yang bermakna jika direnungkan dan disusun secara runtut.
Satu poin penting yang saya tangkap adalah makna refleksi itu sendiri. Refleksi berarti memberi jarak pada pengalaman. Dalam esai reflektif, penulis tidak berhenti pada kisah atau kronologi peristiwa, tetapi melangkah lebih jauh dengan menafsirkan maknanya. Apa yang dipelajari dari pengalaman itu? Apa yang berubah dalam cara pandang kita? Mengapa pengalaman tersebut layak dibagikan kepada orang lain? Dari sini saya menyadari bahwa refleksi menuntut kejujuran dan keberanian untuk menatap pengalaman secara lebih jernih, tanpa menutup-nutupi keraguan atau ketidaksempurnaan.
Diskusi kemudian berlanjut pada standar penulisan agar esai dapat dimuat di media. Riri menekankan bahwa media membutuhkan tulisan yang fokus, memiliki sudut pandang jelas, serta relevan dengan pembaca. Bahasa yang digunakan sebaiknya sederhana, mengalir, dan tidak berbelit-belit. Struktur tulisan pun menjadi perhatian penting: pembuka harus mampu menarik perhatian, bagian isi menyajikan gagasan utama secara runtut, dan penutup memberi penegasan atau simpulan yang meninggalkan kesan.
Dari bagian ini, saya semakin menyadari bahwa esai reflektif tetap menuntut disiplin berpikir. Meski berangkat dari pengalaman pribadi, tulisan tidak bisa dibiarkan mengalir tanpa arah. Media tidak mencari curahan perasaan semata, melainkan refleksi yang memberi nilai, wawasan, atau perspektif baru bagi pembaca. Kesadaran ini membantu saya membedakan antara menulis untuk konsumsi pribadi dan menulis untuk ruang publik.
Bagi saya, yang membuat pertemuan ini terasa begitu berkesan adalah suasananya. Diskusi berlangsung dengan santai namun serius. Di sela-sela tawa ringan, bunyi sendok yang beradu dengan cangkir, dan aroma kopi yang terus mengepul, gagasan tentang menulis justru terasa lebih mudah dicerna. Saya menyadari bahwa ruang belajar tidak selalu harus kaku dan formal. Percakapan santai pun dapat menjadi lahan subur bagi pertumbuhan pemahaman, selama ada keterbukaan untuk mendengar dan berbagi.
Pertemuan dengan para sahabat JSM di kafe Metropolitan Mall sore itu memberi saya sudut pandang baru tentang menulis esai. Esai reflektif ternyata sangat dekat dengan keseharian dan dapat dimulai dari pengalaman sederhana. Dari diskusi yang singkat namun padat tersebut, saya membawa pulang satu kesadaran penting bahwa menulis adalah proses memahami diri dan lingkungan. Secangkir kopi sore itu menjadi saksi bahwa gagasan dapat tumbuh dari ruang yang hangat, melalui refleksi yang jujur, pelan, dan terarah.
Jakarta, 20 Januari 2026
BIODATA
Khairani Piliang. Penulis aktif dalam dunia sastra Indonesia, khususnya di bidang cerpen dan puisi. Merupakan penulis buku kumpulan cerpen Suatu Pagi di Dermaga, serta telah berkontribusi dalam lebih dari 50 buku antologi bersama, baik cerpen maupun puisi. Karya-karyanya tersebar di berbagai media cetak dan daring nasional, menunjukkan konsistensi dan kekuatan gaung suara dalam lanskap kesusastraan kontemporer. Selain menulis, juga terlibat dalam berbagai kegiatan literasi dan juga juri di sejumlah lomba penulisan. Ia juga pernah menorehkan prestasi sebagai pemenang dalam lomba penulisan kreatif buku, semakin menegaskan reputasinya sebagai penulis yang produktif dan berpengaruh. Melalui karya dan aktivitasnya, Ia terus berkontribusi dalam membangun ekosistem sastra yang inklusif dan berdaya, menjadikan setiap perjumpaan sastra sebagai ruang bertumbuh bersama.













