BADUNG, Balipolitika.com– Tidak diunggulkan alias underdog, ratusan pasang mata menyaksikan pembuktian bahwa usia hanya angka di partai puncak No Drama Fight Reborn di Sunset Beach Bar, Seminyak, Badung, Bali, Minggu, 24 Agustus 2025.
Tahun lalu, keberingasan petinju asli Ambon, Bram Hendra Betaubun alias The Killer merontokkan keperkasaan petinju Papua Barat, Fredy Yakop Purai di Final Kelas 75-80 kg Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024, tepatnya Kamis, 19 September 2024.
Tak main-main, turun di kelas 81 kg, Bram The Killer juga merebut medali emas PON XX Papua 2021 usai mengalahkan petinju Sulawesi Utara, Toar Sompotan.
Di atas kertas, De Gadjah “Big Daddy” bukanlah lawan sepadan bagi Bram “The Killer” yang menargetkan TKO alias technical knockout di ronde 2.
Bram “The Killer” makin sesumbar akan menang mudah karena usianya terpaut jauh lebih muda dibandingkan De Gadjah, yakni 33 tahun versus 44 tahun.
Posisi underdog inilah yang membuat Ketua Pertina Bali sekaligus Dewan Penasihat Pengurus Besar Tinju Indonesia (Perbati) Pusat sekaligus Ketua DPD Partai Gerindra Bali bernama lengkap Made Muliawan Arya, S.E., M.H. itu berlatih siang-malam selama 3 bulan terakhir.
Endingnya, semula menargetkan tidak jadi bulan-bulanan Bram “The Killer” dan hanya defense hingga ronde berakhir, De Gadjah mampu membalikkan keadaan hingga dinyatakan menang TKO di ronde ke-4.
Memanfaatkan keunggulan bobot tubuh 106 kg, kombinasi jab, straight, hook, dan uppercut yang dilancarkan ke lawannya yang 11 tahun lebih muda berbuah manis.
Jual beli pukulan di ronde 4, memaksa Bram “The Killer” menyudahi pertarungan karena mengalami cedera keras pada lengan kirinya.
“Terima kasih semua atas support-nya, kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, keluarga saya, anak, istri saya yang complain selama 3 bulan karena tidak nyenyak tidur. Dia berpikir saya akan kenapa-kenapa. Saya juga berpikir tidak akan bertanding lagi, cukup sekali saja,” ucap De Gadjah di atas ring usai pertandingan sembari mengucapkan terima kasih kepada sejumlah pihak.
“(Melawan, red) Adik Bram ini, saya sebenarnya pesimis. Kita saling kenal. Cuma karena dia psywar (di medsos, akhirnya pertandingan ini terwujud, red). Cuma saya tahu, selama ini dia tidak pernah latihan. Apalagi sampai di Bali, party terus. Jadi strategi saya berjalan. Dengan (Bram) menargetkan KO 2 ronde, pelatih saya selalu mengingatkan saya untuk main tenang dan jangan grasa-grusu, jangan terpengaruh euforia, cukup bertahan 4 ronde saja,” tandas De Gadjah sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
Di sisi lain, Bram “The Killer” secara jantan menyerahkan uang sebanyak 200 Dollar Amerika karena gagal mengandaskan De Gadjah di ronde ke-2.
Sebagaimana diketahui, pada sesi press conference dan face off di Pamela, Denpasar, Jumat, 22 Agustus 2025 lalu, ia dengan sesumbar mengatakan hanya cukup 2 ronde untuk meng-KO De Gadjah.
“Saya nonton live-nya De Gadjah seperti tinju profesional gitu. Saya penasaran yang saya hadapi legend Bali, makanya saya tantang itu,” ujarnya sembari berani bertaruh uang 200 USD jika De Gadjah mampu bertahan lebih dari dua ronde. (bp/ken)













