Balipolitika.com- Bagaimana kans Argentina menjuarai Piala Dunia 2026 ini. Mampukah Tim berjuluk Tango itu back to back alias berturut-turut mengangkat trofi paling bergengsi di dunia tersebut.
Tim nasional Argentina menempati urutan paling bawah peta probabilitas juara Piala Dunia 2026 berdasarkan data simulasi terbaru superkomputer Opta. Angka persentase sang juara bertahan tertahan di level 20,55 persen saja. Penilaian buruk itu dirilis menjelang laga semifinal di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Amerika Serikat, Kamis (16/7/2026) pukul 02:00 WIB.
Inggris sedikit lebih unggul. Peluang kelolosan Tiga Singa menuju partai puncak diberi angka 52,9 persen oleh komputer analitik. Argentina hanya mengantongi 47,1 persen.
Merosotnya angka sang juara bertahan dipengaruhi oleh performa kurang meyakinkan Lionel Messi dkk. Singkatnya, mereka harus bersusah payah melewati babak knockout sebelumnya melalui babak perpanjangan waktu. Prancis memimpin daftar terfavorit bursa dengan 34,05 persen diikuti Spanyol 24,16 persen dan Inggris 21,97 persen.
“Kami ditempatkan di posisi underdog,” ujar sebuah laporan pasar taruhan global Sportsbook FanDuel. Koefisien taruhan Argentina berada pada angka +440 saat ini.
Rekor total pertemuan kedua negara resmi mencatat 14 pertandingan. Statistik berpihak ke kubu Inggris lewat enam kemenangan. Berimbang lima laga. Argentina hanya menang tiga kali.
Sejarah Piala Dunia mencatat lima bentrokan ikonik antarkedua tim nasional. Tiga kemenangan diraih Inggris. Dua kali milik Albiceleste. Memori perempat final 1986 melahirkan gol kontroversial “Tangan Tuhan” Diego Maradona. Balas dendam tersaji tahun 2002 via penalti David Beckham.
Pendekatan taktis bertolak belakang dibawa oleh kedua pelatih menuju lapangan hijau. Proyeksi formasi 4-4-2 akan diandalkan pelatih Argentina Lionel Scaloni. Ketergantungan penuh pada sosok Messi masih menjadi senjata utama penyerangan. Messi memuncaki top skor bersama Kylian Mbappe lewat torehan delapan gol. Tajam.
Tetapi, analisis media asing menyoroti celah lebar lapangan tengah skuad Tango. Sektor sentral padat namun kurang kecepatan transisi bertahan. Kerap kekurangan lebar lapangan. Ini bisa dieksploitasi.
Thomas Tuchel diprediksi memakai pakem 4-2-3-1 untuk sistem kolektivitas permainan Inggris. Jude Bellingham diplot tepat di belakang striker murni Harry Kane. Bellingham sedang on-fire mengemas enam gol.
Celah pertahanan menganga. Lini belakang Inggris kebobolan pada tiga laga beruntun turnamen. Lagipula, mereka dipastikan kehilangan bek Jarell Quansah akibat hukuman akumulasi kartu kuning. Duet John Stones dan Marc Guehi akan diuji langsung oleh kecepatan serangan balik lawan.
Kondisi fisik kedua kubu terkuras habis pascalaga babak perempat final yang melelahkan. Cedera otot sempat menimpa Cristian Romero dan Leandro Paredes saat menghadapi perlawanan Swiss. Namun, keduanya sudah dalam kondisi siap bermain kembali. Facundo Medina absen akibat cedera betis.
Inggris dilanda krisis kebugaran pemain tengah. Gelandang Declan Rice diragukan tampil akibat kehabisan energi pascasedikit demam tinggi. Ketegangan hamstring juga membuat kondisi Guehi masih dipantau ketat tim medis. Sebaliknya, Reece James dipastikan pulih.
Jordan Henderson mengalami patah tulang lengan yang aneh saat merayakan kemenangan lalu. Namun, ia memilih tetap terdaftar di bangku cadangan. Duel panas ini akan disiarkan secara langsung. Pembuktian mental di Atlanta bagi kedua tim. (BP/CHA).













