DENPASAR, Balipolitika.com– Anggota MPR/DPD RI B-67, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik menyosialisasikan empat pilar kebangsaan dalam aksi sosial dan kepemimpinan mahasiswa di Universitas Ngurah Rai, Jumat, 6 Februari 2026.
Memiliki pandangan progresif bahwa mahasiswa sebagai generasi intelektual berperan strategis dalam membentuk masa depan bangsa, tidak hanya melalui penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga melalui kepemimpinan sosial, kepekaan terhadap persoalan masyarakat, dan kemampuan berkolaborasi lintas disiplin, Niluh Djelantik menggaet narasumber lain, yakni Ananda D. Priantara, seorang akademisi, wirausahawan muda, aktivis sosial, da Pendiri Gerakan Nasional Satupadu Indonesia.
Ungkap Niluh Djelantik di tengah dinamika globalisasi, disrupsi teknologi, serta meningkatnya kompleksitas persoalan sosial, mahasiswa dituntut untuk mampu berpikir kritis namun tetap berlandaskan nilai kebangsaan.
“Empat Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai tersebut tidak hanya relevan dalam konteks kenegaraan, tetapi juga menjadi pedoman etik dalam kehidupan akademik, aktivitas sosial, serta praktik profesional generasi muda,” ucap Niluh Djelantik.
Bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan, imbuhnya Empat Pilar Kebangsaan memiliki relevansi yang kontekstual dalam membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Nilai-nilai kebangsaan tersebut menjadi pedoman etis dalam menjalani kehidupan akademik, berinteraksi di ruang sosial, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan profesional dan kemasyarakatan di masa depan.
“Dengan landasan Empat Pilar Kebangsaan, mahasiswa Universitas Ngurah Rai diharapkan mampu mengembangkan keilmuan dan perannya masing-masing secara bertanggung jawab, berintegritas, serta selaras dengan kepentingan bangsa dan negara,” tegasnya.
Namun demikian, pemahaman terhadap nilai kebangsaan tidak cukup berhenti pada tataran konseptual.
Diperlukan ruang aktualisasi yang memungkinkan mahasiswa menghidupi dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut secara nyata.
Dalam konteks inilah, gerakan sosial dan kepemimpinan mahasiswa menjadi medium penting untuk mengaktualisasikan Empat Pilar Kebangsaan melalui aksi nyata, kolaborasi lintas komunitas, serta keterlibatan langsung dalam persoalan masyarakat.
“Melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini, mahasiswa Universitas Ngurah Rai Denpasar diharapkan mampu memaknai Empat Pilar bukan hanya sebagai konsep normatif, tetapi sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan kampus, aktivitas sosial, serta peran profesional di masa depan,” tandas Niluh Djelantik.
Lebih jauh, melalui sosialisasi tersebut Niluh Djelantik menyasar sejumlah tujuan, yakni (1) meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai Empat Pilar Kebangsaan sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara; (2) mengaitkan nilai Empat Pilar Kebangsaan dengan kepemimpinan sosial dan peran mahasiswa lintas disiplin; (3) menumbuhkan kesadaran etika, tanggung jawab sosial, dan semangat kolaborasi di kalangan mahasiswa; (4) mendorong mahasiswa menjadi agen perubahan yang berkarakter, inklusif, dan berwawasan kebangsaan; dan (5) memperkuat dialog akademik dan sosial mengenai kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi.
Niluh Djelantik juga memaparkan materi tentang “Empat Pilar Kebangsaan sebagai Fondasi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”, termasuk makna serta kedudukan Pancasila sebagai dasar ideologi dan nilai moral bangsa.
Perancang sepatu, politikus, dan pengusaha berkebangsaan Indonesia juga membahas Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai landasan konstitusional dalam menjamin hak dan kewajiban warga negara.
Diulas pula posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai kesepakatan nasional dan kerangka persatuan bangsa.
“Bhinneka Tunggal Ika sebagai prinsip hidup bersama dalam keberagaman sosial, budaya, dan pemikiran. Relevansi Empat Pilar Kebangsaan harus ditanamkan agar mahasiswa menyadari posisinya sebagai generasi intelektual, agen perubahan, dan calon pemimpin masa depan Bali serta Indonesia,” tegas Niluh Djelantik.
Sementara itu, Ananda D. Priantara menyampaikan materi bertajuk “Empat Pilar Kebangsaan dalam Aksi Sosial dan Kepemimpinan Mahasiswa”.
Ananda D. Priantara mengulas kepemimpinan sosial generasi muda yang inklusif, beretika, dan berorientasi pada kebermanfaatan publik.
Penekanan lain yang disampaikan ke audiens adalah kontribusi mahasiswa dalam membangun masyarakat yang adil, partisipatif, dan berkelanjutan sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan yang kini dihadapkan pada tantangan global dan digital. (bp/ayu/ken)













