SURAT SINGKAT
Sorang Karib sejak jaman Ganyang Malaysia
Menulis keluhnya
Dalam Surat Singkat lewat layar kaca
“Mas, makin hari makin nelongso rasanya
Jadi WNI,
Tak lagi berani berharap,
Tak lagi berani bermimpi……”
“Tapi dik, kan kamu belum putus asa,
Seperti membasmi rayap di dalam rumah.
Pohon yang kurus jangan ditebang,
Bersihkan saja benalunya.”
“Nasehat klasik mas.
Sudah susah membedakan,
Mana pohon,mana benalu.”
“Ada yang bilang, akar benalu
Bisa untuk mengobati kanker.”
“OOO begitu mas,
Negeri kita sudah kena kanker?
Sudah stadium berapa mas?”
Aku terdiam :
Memikirkan cara mengobatinya.*
Rmangun,12.02.26
HUJAN CURAH AIR MATA
Januari hujan curah air mata
Bah lumpur dan pepohonan
Menggerus kampung dan harapan
Perampokan hutan
Di Sumatera dan lain lain.
Perampoknya masih berkeliaran.
Hujan dimana-mana
Air tumpah ruah
menuntut manusia.
Perampok belum diadili
Pemiskinan kian menjadi.*
Rmangun,31.01.26
BOLA MATA
Saya punya dua bola mata
Seperti saudara-saudara
Kecuali yang matanya
Banyak
Sebanyak mata keranjang
Atau yang matanya selalu
Mengarah ke Ranjang
Kedua bola mata saya
Terperangkap di dalam kelambu
Abu-abu
Berkabut
Lembut
Terasa diterangi hanya
Sinar bulan
Kedua bola mata saya
Baru saja merayakan
Hari kelahirannya
Ke delapan puluh enam
Penuh riang senyum tawa
bersama bola mata-bola mata
Bening bercahaya
Anak cucu.
Bola mata saya
Dalam cahaya rembulan
Masih menuntun jemari
Menuliskan suara hati*
Rmangun, 26.1025
PERCAKAPAN 5
Cakap cakap ringan
Ketahanan Pangan
Dimulai dari meja makan?
Atau dari gubug kelaparan?
Membuka pagi
Rebus ubi
Mengunyah pisang
Melewatkan siang
Ubi kayu
Menutup waktu
Cakap cakap Ketahanan Pangan
Sebelum makan mencuci tangan
Petinggi korupsi
Rakyat gigit jari.
Cakap cakap
Cakap cakap
Cakap cakap
Tikus bersorak sorai
Di lumbung padi.*
Rmangun,27.06.25
PERCAKAPAN 8
Luar biasa
Tapi biasa biasa saja
Dipandang mata
Lewat sekejap
Hilang:
Selembar kain lebar
Merah putih
Dibentang
Di kerek ke puncak tiang
Di depan rumah
Megah.
Angin bertiup kencang
Bendera diperkosa
Bocah Pemulung telanjang
Memanjat tiang
Membebaskan bendera
Dililit, dibelit kabel dan kawat
Rentang merentang
Milik BUMN
Yang selalu melaporkan kerugian.
Bendera bendera merah putih,
Mungil riang menari
Di kepala Bajai
Di tanduk Truk
Di dada perahu Nelayan
Bercakap tentang Agustusan,
Aku menyimpan Cintamu.
12.08.25
PERCAKAPAN 10
Kami bercakap tentang janji
Sore tadi
Bertemu dalam mimpi
Aku bersiap diri
Menuju Mimpi
Akan kubawa notes
Dengan beberapa pensil
Alat perekam
Dan pengambil gambar
Takut kehilangan gagasan cemerlang
Percik terang dalam kelam
Tanah air,
Dan Rakyat Jelata dijual orang kaya.
Kami, sore tadi membuat janji
Bertemu dalam mimpi
Menebus kangen yang tak terjembatani
Oleh ruang dan waktu
Maka aku persiapkan alat bantu
Supaya tidak ada yang hilang
Kecuali Mimpi itu sendiri
Yang tidak datang sampai hari pagi. *
Rmangun,16.10.25
MAKNA PERSAHABATAN
(Buat RB)
Ketika kita mencari makna
Persahabatan itu apa,
Aku menatap Jembatan
Kakinya kukuh menelentangkan tubuh
Tangannya saling bertaut
Menyalurkan gagasan
Penuh gejolak tentang masa depan
Kemanusiaan
Dalam penistaan.
Kita mencari makna Persahabatan
Seperti Bianglala
Jembatan berbagai jiwa
Beraneka warna
Dari berbagai sungai dan samudra.*
Rmangun 05.10.25
GADIS MENULIS GELISAH
(Untuk D,A)
Matanya sibuk
Nutup buka pintu
Gelisah
Lincah jemari
Menari
Di atas lantai huruf
Huruf
Memindah Rasa
Jadi terbaca
Mengurai kesendirian
Ke dalam hiruk pikuk
Dunia.
Gelisah itu bagai oase
Tidak kering ditimba
Menghidupkan jemari
Terus menari
Di atas lantai huruf
Huruf
Gadis itu.*
Rmangun, 18.09.25
BIODATA
Putu Oka Sukanta lahir di Singaraja, Bali, 29 Juli 1939. Dia mulai menulis sejak di bangku SMP. Buku-bukunya yang telah terbit antara lain Selat Bali (kumpulan puisi, 1982), Luh Galuh (kumpulan cerpen, 1988), Keringat Mutiara (kumpulan cerpen, 1991), Matahari, Tembok Berlin (kumpulan puisi, 1992), Kelakar Air, Air Berkelakar (novel, 1999), Merajut Harkat (novel, 1999), Kerlap Kerlip Mozaik (novel, 2000), Di Atas Siang Di Bawah Malam (novel, 2004), Rindu Terluka (kumpulan cerpen, 2005), Keringat Mutiara (kumpulan cerpen, 2006), Lobakan (Cerita Seputar Tragedi 1965/1966 di Bali, 2009), Istana Jiwa (novel, 2012).













