Informasi: Rubrik Sastra Balipolitika menerima kiriman puisi, cerpen, esai, dan ulasan seni rupa. Karya terpilih (puisi) akan dibukukan tiap tahun. Kirim karya Anda ke [email protected].

Sastra

Memaknai Karma, Sumpah, Cinta, dan Kesetiaan

Catatan Peluncuran Buku Puisi Dhenok Kristianti oleh Satmoko Budi Santoso*

KARMA, SUMPAH, KESETIAAN: Penulis buku puisi Apa Sumpahmu?!, Dhenok Kristianti (kiri) membaca puisi bersama Ni Putu Putri Suastini Koster (kanan) di di Pendopo Asdrafi, Ndalem Pakuningratan, Ngasem, Yogyakarta, Sabtu, 30 Maret 2024.

 

MEMBACA buku kumpulan puisi Dhenok Kristianti berjudul Apa Sumpahmu?! (Interlude, Mei 2023) dengan segera akan menyergap pembaca untuk memaknai kembali soal karma, sumpah, cinta, dan kesetiaan.

Empat hal tersebut terpaparkan dengan baik dalam narasi puisi-puisi Dhenok yang mengadopsi gagasan dalam Ramayana, Mahabharata, dan kehidupan keseharian masyarakat di Bali.

Sejumlah kata kunci perihal karma, sumpah, cinta, dan kesetiaan tersebut sudah terhadirkan dengan jelas dalam narasi puisi yang dibangun dengan indah. Misalnya saja melalui tokoh-tokoh seperti Bima yang pernah bersumpah akan meremukkan tubuh Dursasana dan meminum darahnya. Atau Drupadi yang pernah bersumpah tidak akan menggelung rambutnya sebelum keramas dengan darah Dursasana. Dan dalam perang Bharatayudha sumpah keduanya terwujud di padang Kurusetra.

Imaji tentang karma, sumpah, cinta, dan kesetiaan tersebut memang kembali penting ditengok dalam interaksi kehidupan kita sehari-hari kini. Dengan sendirinya puisi-puisi Dhenok pun mempunyai relevansi dengan kehidupan setiap orang dan tidak tercerabut dengan aktivitas kehidupan masyarakat secara umum.

Memang, puisi-puisi Dhenok membawa pesan edukatif yang cukup kuat agar setiap orang mau mematuhi soal sumpah, cinta, dan kesetiaan agar karma kehidupan yang dijalani juga berbuah kebaikan.

Setiap harinya pula, setiap orang dihadapkan pada pilihan watak-watak yang baik, culas, penjilat, atau apa pun yang itu semua bisa merupakan diri kita sendiri, lalu Dhenok mengingatkan dalam puisi-puisinya kali ini.

Strategi narasi sangat puitik berusaha dibangun Dhenok sehingga menumbuhkan kesan kuat bahwa pembaca seperti menonton secara langsung pertunjukan Ramayana dan Mahabharata.

Saya sendiri tercengang ketika sampai pada tafsir eksploratif imajinasi dahsyat dalam adegan Drupadi yang pernah bersumpah tidak akan menggelung rambutnya sebelum keramas dengan darah Dursasana itu.

Menurut saya, itulah imajinasi terbagus dalam bangunan adegan tertentu yang bisa dinarasikan secara memikat. Bisa jadi dengan detail tafsir visual berapa liter darah Dursasana yang dipakai Drupadi untuk keramas? Lalu apakah tempat untuk menampung darah itu yang paling tepat dalam konteks kisah tersebut?

Narasi-narasi puisi yang dibangun Dhenok membawa kesegaran imajinatif dengan cara membebaskan pembaca melanjutkan tafsir visual imajinasinya sendiri.

Misalnya juga dapat dilihat dalam puisi Tragedi Dua Putra Kunti, ada narasi yang menyebutkan Padang Kurusetra panas membara/ Senjata beradu, anak panah bersiuran/ Ringkik kuda dan gedebuk kaki-kakinya,/ menguarkan debu ke angkasa/ Medan laga terpanggang di dapur neraka//.

Secara pribadi dari banyak puisi Dhenok yang mengadaptasi gagasan dalam kisah Ramayana dan Mahabharata, saya lebih tertarik dengan bab akhir dalam kumpulan puisi ini yang bertema tentang pajegan di atas kepala. Banyak puisi dalam bab ini yang merupakan refleksi atas dinamika budaya yang ada di Bali ketika berhadapan dengan perubahan zaman.

Misalnya saja disebutkan dalam salah satu paragraf di puisi berjudul Bali dalam Etalase: Senyum dan kerling penari tak lagi bagi para dewa/ Tetabuhan dan gamelan tidak mengetuk nirwana/ lenggak-lenggok mereka, gamelan yang membahana/ tertuju pada ribuan dollar/ yang terbang dalam mimpi-mimpi //.

Warga Bali sepertinya juga diuji nyalinya ketika berhadapan dengan esensi karma, sumpah, cinta, dan kesetiaan. Apakah mereka mampu membuktikan untuk menjawab tantangan zaman terkait nilai-nilai karma, sumpah, cinta, dan kesetiaan khususnya dalam mempertahankan budaya Bali? Kiranya tak berlebihan paragraf terakhir puisi Perempuan Bali dan Pajegan menjadi pantas disimak Perempuan-perempuan Bali menyunggi pajegan/ Di bawah matahari yang semakin tinggi,/di lintas-pintas para pendatang kian tak peduli,/ di silang-lintang deru zaman tak terkendali/ Setia tanpa ragu tanpa wasangka,/ pajegan itu (harus) tetap menjulang di atas kepala!

Dan akhirnya terpulang kepada kita semua mampukah memaknai kembali soal karma, sumpah, cinta, dan kesetiaan dengan secara baik-baik merawat dan meruwat serta tidak melanggarnya?

Tentu saja puisi Dhenok jauh lebih berbicara, dahsyat, dan memukau Anda jelajahi dibandingkan catatan pendek ini.

Puisi-puisi Dhenok Kristianti ini kembali aktual karena juga diluncurkan belum lama ini, tepatnya pada 30 Maret 2024 di Pendopo Asdrafi, Ndalem Pakuningratan, Ngasem, Yogyakarta. Duet bersama dengan Ni Putu Putri Suastini Koster, istri mantan Gubernur Bali Wayan Koster, penampilan Dhenok Kristianti dalam membaca puisi cukup membius publik. Bahkan keduanya mampu menghadirkan atmosfir mistis Bali dalam pembacaan puisi yang dibawakan.

Buku puisi Apa Sumpahmu?! karya Dhenok Kristianti sendiri pernah mendapatkan penghargaan Bali Jani Nugraha dari Dinas Kebudayaan Bali. ***

 

*Penulis adalah sastrawan, menetap di Yogyakarta.

Berita Terkait

Back to top button

Konten dilindungi!