Putri Malu
Cinta bersemayam di sepasang mataku
Lalu khusyuk hendak menangkap tatapanmu
Kau bagai bunga putri malu
Kuncup, ketika suaraku menggema rayu
Konon, demikian cinta perempuan tumbuh di hati
Tundukan demi tundukan seperti menyembunyikan rahasia
Namun, bagiku yang suka teka-teki rasa
Tirai lakumu tak mampu membungkam sorot mata berbicara
tentang yang sebenarnya
Padang, 2025
Hanya Ibu
Ketika aku tersesat di tengah kota padat kecemasan
Sepasang kakiku terbelingut semata tenggelam
dalam lumpur getir
Jiwa yang purna semarak lebam
Menuntun darahku berdesir merindukan peradaban
Aku terhuyung-huyung seperti peluru dari penembak yang mabuk
Sebagaimana angin adalah hidup dengan kelakar pelambat sasaran
Lantas jantung paling degup aku bersemayam
Bagai pelukan Ibu, keniscayaan penenang ledakan
Padang, 2025
Sambutan Pulang Kerja
Di ambang gerbang yang berkilau takluk
Kapal sang petualang mendaratkan jangkar sarat alamat
Sebab pasangannya adalah mercusuar dengan sepasang mata cahaya rute
Tiada paling indah ketika rambut panjang hujan terurai
Dikasai aroma embun khas sampo yang ranum
Dan hidungnya seperti bandar memelihara semerbak rindu
Lantas setangkup pukat lihai menjala gelombang helai-helai lembut
Berlabuh di hamparan sabana bening kening
Menggoda kusut penat untuk melumbungkan kecupan;
Memeram buah manis kasih sayang
Padang, 2025
Takdir yang Pernah Tertunda
Roh dan raga yang tualang, malang
Lorong panjang yang gelap tanpa ujung cahaya
Nun satu per satu harapan berserakan di tapak waktu
Cinta telah kehabisan resep percakapan-percakapan permen kapas
Segenap janji menjadi piatu ketika sepasang ego adalah pembunuh
Perayaan demi perayaan pada hati compang-camping dicakar gagak hitam
Kembang api di kepala langit angan meletup
lalu lenyap antara mata rahasia
Padang, 2025
Dini Hari
Ingatan menyebrang ke belakang waktu
Menapaki jejak hujan beraroma khas masa lampau
Angin datang membawa topeng-topeng ringkih
Lantas menyaksikan kupu-kupu bersayap badai
Tiada tempat sembunyi bagi sebatang jiwa
Sekalipun pada tubuh bayang di dinding
Sebab mata malam mengintai seperti hantu di jendela
Dan duri-duri mawar memilih ladang di dada
Padang, 2025
Bunga Dandelion
Aku adalah bunga dandelion yang bertebaran di semesta raya
Angin laksana takdir membawaku ke tanah apa pun:
Tandus menjarah atau subur semata–aku akan
tetap tumbuh sebagaimana cinta bekerja
Ketika menemukan tanah ladang hati yang bersedia menerima,
bunga liar sepertiku lantas mekar dengan indah dan terjaga
Padang, 2025
BIODATA
Zikri Amanda Hidayat dapat dipanggil secara akrab Izik. Lahir di Koto Rawang, Pesisir Selatan pada tanggal 02 Agustus 1999. Punya hobi menulis, membaca dan bulu tangkis. Buku yang telah terbit Sehimpun Rasa (Gupedia, 2021), Rentetan Tulisan Tentang Konsekuensi Cinta (Guepedia, 2021) dan Tak Benar-benar Utuh (An-Nur Media, 2022).













