BULELENG, Balipolitika.com– Kabupaten Buleleng memiliki beragam kuliner khas yang menjadi incaran wisatawan saat berkunjung ke Bali Utara.
Salah satunya adalah Siobak Lingga, kuliner legendaris yang bertahan selama puluhan tahun dan hingga kini ramai diburu pelanggan setiap harinya.
Warung Siobak Lingga milik Ibu Nyoman Srinten berlokasi di Jalan Lingga, Ruko Barat Pasar Banyuasri, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada Rabu, 10 Juni 2026, diperoleh informasi bahwa usaha tersebut pertama kali dirintis pada tahun 1993.
“Pertama kali buka tahun 1993, tapi awalnya buka tidak di tempat saat ini. Dulu masih ngemper, kemudian pindah ke tempat pertama, setelah itu baru menetap di tempat sekarang,” ungkap Ibu Nyoman Srinten.
Kini, usaha tersebut dibantu oleh putrinya, Putu Arianti.
Tiga tahun yang lalu, Siobak Lingga sempat memiliki dua cabang, namun karena suatu peristiwa, akhirnya hanya mempertahankan satu lokasi usaha hingga sekarang.
Menariknya, warung ini hanya menyediakan satu menu utama, yaitu siobak.
Menurut Putu Arianti, keputusan tersebut diambil karena keterbatasan tenaga memasak sehingga sulit menambah variasi menu.
Dalam proses pembuatannya, daging siobak direbus menggunakan kecap dan garam secukupnya.
Sementara kerupuk dibuat dari tepung terigu yang dicampur garam dan bawang putih, lalu digoreng hingga renyah.
Adapun bumbunya menggunakan cabai, bawang putih, garam, rempah-rempah, serta pengental dari kanji.
“Beli daging babi per kilo dari pedagang karena tidak bisa potong sendiri, hanya memerlukan daging kulit dan kepala saja,” ujar Putu Arianti.
Tingginya minat masyarakat terhadap Siobak Lingga terlihat dari ramainya pembeli yang datang silih berganti.
Saat penulis berkunjung sekitar pukul 08.00 Wita, pelanggan terus berdatangan tanpa henti untuk menikmati hidangan tersebut.
Menurut Putu Arianti, rata-rata pembeli mencapai sekitar 400 orang setiap hari dan dagangan bahkan kerap habis sebelum jam operasional berakhir.
“Setiap hari habis, kadang malah kurang,” katanya.
Untuk satu porsi siobak tanpa nasi dibanderol Rp15.000, sedangkan satu porsi lengkap dengan nasi dijual seharga Rp20.000.
Selain melayani pembelian langsung, Siobak Lingga juga tersedia melalui aplikasi Gojek yang dinilai sangat membantu menjangkau lebih banyak pelanggan.
Meski demikian, tantangan tetap dirasakan ketika kondisi penjualan sedang sepi.
Namun, menurut Putu Arianti, hal tersebut bukan alasan untuk menutup usaha.
“Walaupun sepi ya kita tetap harus bertahan. Tidak bisa kalau sepi besoknya libur, tetap harus jalan. Warung tutup hanya kalau ada acara saja,” tuturnya.
Saat ini, operasional warung hanya dijalankan oleh dua orang, yakni Putu Arianti dan seorang pegawai yang membantu melayani pembeli, mencuci piring, serta membersihkan warung.
Sementara Ibu Nyoman Srinten lebih banyak membantu proses memasak dari rumah.
Bagi masyarakat Buleleng, siobak telah menjadi salah satu kuliner khas daerah yang memiliki tempat tersendiri di hati.
“Kalau ke Buleleng orang pasti cari siobak, sama seperti kalau ke Gianyar pasti cari babi guling,” ujar Putu Arianti.
Ke depan, keluarga tersebut berharap dapat membuka cabang di berbagai daerah, namun, keterbatasan tenaga memasak yang mampu menghasilkan cita rasa yang sama masih menjadi kendala utama.
“Harapannya bisa buka cabang di setiap daerah, tetapi harus punya tukang masak yang benar-benar profesional dan bisa menciptakan rasa yang sama,” pungkasnya. (bp/Ega Nayasa Ginting/4C/PBSI/Undiksha)










