DITTO DITTO
aku duduk di sebuah lorong tempat harapan pernah datang dengan terburu-buru. bersama bekas luka di lutut celana jins baru, menganga bagai stasiun tempat kemarau mulai malas menjatuhkan air mata yang beringas, tempat kau bermimpi menari-nari di sana sebagai pengungsi dari kota yang sunyi oleh wabah zombi.
ketika pintu lift terbuka, kenangan menyerobot masuk sebelum aku memutuskan beranjak dan menjumpai wajahmu yang tertunduk, sementara aku bukanlah pelepah pohon tua yang harus pandangmu hindari. aku bukan arwah jahil yang berdiri untuk mengejutkanmu dari belakang, lalu membuat ingatanmu lepas bersama halusinasi televisi yang rusak.
aku hanya ingin berbisik “aku mencintaimu” ribuan kali berulang dan menjadi alarm tanda kau dalam bahaya paling hujung, kau menutup kedua telingamu kuat-kuat dengan jerit yang kautahan-tahan.
“ditto! ditto!” begitu gumammu, telapakmu mengusir suaraku pada tarian dengan ketukan-ketukan penuh enggan, jatuhan suaramu seperti rintik pada mantel hitam yang menerobos hujan pada jam buruh bergegas pulang, pada waktu setiap kecemasan menjadi tualang.
selepas kata itu kaugamitkan, aku puas tersenyum dalam tombol-tombol lift yang menyala sendiri, membukakan pintu pada lantai tertinggi untuk aku keluar dan melambaikan lengan seragam olahraga dengan penuh ketiadaan, lantas menari-nari di tempat biasa kau merekam kekosongan di patahan tarian-tarianku.
(Pasuruan, 2025)
SYAIR DARI PERAHU
Perahu ini barangkali parau
yang melabuhkan diri
di banyak peluh dan keluh
sementara barisan pagar membelah
kusut bias-bias bulan di lautan
Deretan bambu-bambu ini menangkap
wangi laut yang terasa tengik
di karang tempat biasa ikan-ikan
menari dan beradu romansa menanti
nelayan letih lalu hanya mampu
memancing di separuh buah kelapa
Di lengkung perahu ini, hanya ada
jala dan kecemasan yang tergulung
serapi mungkin, hanya ada botol
air minum yang penyok oleh
panas mesin dengan solar
yang cepat habis, serperti terteguk
oleh kerongkongan yang tamak
lalu menguap menjadi asap hitam
yang menghuni mata dan air matanya
Dan tak ada buku
tentang pengantar ilmu perizinan
di perahu ini, sehingga kami
kelak hanya mampu mendayung
tanpa pernah mengerti
bagaimana ikan-ikan dapat pergi
sebagai pengungsi atas timbunan
semen dan rangka yang tumbuh
menggantikan bambu-bambu
yang jatuh lalu menimpa
perahu ini sehancur-hancurnya.
(2025)
TERSANDUNG DI DEPAN TAKASHIMAYA
Aku kembali ke Orchard, sekali lagi. Berjalan-jalan sendiri menyusur tepi pekat, memijaki trotoar yang melepas jejak cangkir lemonku di Mandarin Gallery. Menghitung seberapa banyak langkah-langkah sepatu yang terburu serupai riak narai yang mengalir sepanjang aku mengeja deret alis matamu yang jauh. Penunjuk atas arah yang tak pernah kautempuh.
Aku melamun di depan Takashimaya, menghidu aroma rendang dengan harga tak masuk di akal, memaksaku menoleh pada kerlip lampu papan iklan yang menayangkan model gaun di mana kami tak pernah saling mengenal, mengirimkan terik yang jatuh ke bahu-bahu wajah pejalan yang berganti dan tetap asing. Dan tanpa sadar aku tersandung, pada sapaanmu yang tanpa aba-aba menyelinap dari pelipis ingatan.
Seketika semua menjelma sebagai engkau: bus tingkat dua melintas memantulkan siluet wajahmu yang melambai di petak-petak jendelanya serta etalase memajang manekin dengan adegan-adegan romantis yang pernah kita catatkan. Hingga debu yang menyentuh wajah, menyusupkan rindu begitu halus ke pori paru-paru.
Terik memantul dari dinding kaca gedung-gedung tinggi, menayangkan langit yang pucat, menyantunkan bayangan daun palem tipis, terbelah oleh persimpangan di mana senyummu menunjukkan jalan untukku pulang. Namun hingga lampu lalu lintas berkali-kali berganti hijau, aku tak beranjak, membiarkan rindu melangkah pada suaramu di seberang, yang memanggilku dengan sebutan yang lain, yang lebih erat.
Aku akan menyeberang, mungkin tak hari ini. Sebab, setiap kembaliku adalah mengembalikan sebuah kepergian.
Dan seperti hari esok, kau adalah pertanyaan.
DEBAR DI DINDING KAMARMU
mungkin sebaiknya kau tahu
di dada ini, napasmu hidup
jika boleh kutuliskan tanda-tanda di mataku
debar ini sebenarnya sudah terpampang
sebagai lukisan yang tergantung
di dinding kamarmu
namun kau sama sekali tak pernah melihatnya
melihat debar di dinding itu, yang dingin
seperti ketidaktahuanmu bahwa di sini
aku tercenung, tengah merajut aba-aba
mungkin sebaiknya kau tahu
di dinding itu, senyummu melengkung
serupa pelangi yang menyekar warna-warna
pada tanggal-tanggal kalendarku
tempat aku mengeja
hari-hari mencintaimu tanpa pernah kau tahu
KEPADA SENYUMAN YANG PERNAH KUBERI PUISI
Barangkali, kau akan melihat puisi ini pagi-pagi sekali. Pagi di mana aku mungkin melihat matahari terbit dua kali: di sudut jendela kamar, dan di ufuk bibirmu yang paling bidadari. Kala embun sudah duduk dan menyeduh percakapan dengan debu di ketiak jendela. Kala kau masih berusaha membangunkan bulu mata, yang biasa mengisyaratkan kerinduan—entah siapa yang menanggal—dan kau mulai menerka-nerka.
Aku pernah mengukirkan senyummu pada kening puisi yang kubuat. Jika boleh, selalu ingin kusempatkan menuliskan sesuatu untuk senyummu itu. Tentang klisenya hujan, dan rindu yang menggenang diam-diam. Tentang pemandangan di luar gedung yang menayangkan awan-awan yang menumpuk setebal letih yang hinggap di pundakmu.
Senyummu begitu palung, hingga aku terperosok dan meneriakkan kebimbangan. Namamu memantul berkali-kali di sana. Seolah-olah suaramu menjelma lagu. Kemudian telingaku menjadi kaset pita yang memainkannya berulang-ulang, hingga mengendap ke irama debar yang membuatku melupakan banyak luka.
Maka, bolehkah aku jatuh cinta
pada senyummu saja?
USAI MENIUP LILIN
sesaat usai lilin itu kautiupkan,
dan melenakan nyala api
terang menjadi redup
dan redup jadi padam
menyisa asap yang bimbang
menguap seperti tarian terakhir
merayapi celah ventilasi tua yang
menyimpan banyak rahasia
sesaat usai lilin itu temaram
rindu milikku menjelma bisikan
penyap, mengapung dari napasmu
tanpa seorangpun tahu.
IRENE JADI PENYIHIR
“Zimzalabim! Zim-zimzalabim!”
Baru seminggu belajar sihir, Irene memamer-mamerkan mantranya. Mimpi Irene satu, kelak sihirnya mampu melenyakkan gundah setiap manusia terhadap omong kosong bernama rindu yang dahulu berkali-kali mencekik dan melangkah-langkahi tubuhnya berulang.
“Zimzalabim! Zim-zimzalabim!”
Keajaiban-keajaiban mulai terjadi: seseorang mendapati rindu menjadi gitar yang berdenting merdu tanpa dipetik. Di tempat lain, seseorang merasakan rindu di dadanya menjelma cekikan ikat pinggang di celana kesempitan. Sementara jauh di pelupuk tawanya, Irene juga mengubah rindu menjadi aliran sungai di dalam labirin dengan muara yang patah.
Irene tak berhenti, terus-menerus mengubah rindu jadi pelbagai rupa, berbagai pelampiasan tanpa menyadari rindu miliknya terus memohon bangkit kembali, tercerabut dari makamnya demi menghuni berabad-abad kegelisahan.
“Zimzalabim! Zim-zimzalabim!”
Tak mempan mantra itu untuk rindu milik Irene sendiri, kebal, seolah serangga dengan resistansi ramuan pestisida. Irene gemetar lalu terisak, menangis berpuluh musim. Rindu itu kian liar, layak dinobatkan sebagai rindu paling tidak sopan yang sesuka hati datang, membiarkan Irene untuk membiarkannya melakukan apapun dan terus-menerus terbiarkan.
Sudah, Irene,
Cabut mantramu dan lakukan saja apa yang rindu mau.
BIODATA
Andi Wirambara, lahir 24 September di Ambon dan berdomisili di Malang. Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014).













