BALI, Balipolitika.com – Sabtu (4/4/2026) atau Saniscara Umanis Watugunung, adalah hari bertepatan dengan hari suci Saraswati.
Hari suci jatuh enam bulan sekali ini, merupakan salah satu hari suci umat Hindu di Bali dan Indonesia. Sebab merupakan pemujaan ke hadapan Dewi Saraswati, sebagai perlambang ilmu pengetahuan.
Dalam kitab Sundarigama, bahwa sesajen paling nista terdiri atas suci, peras, daksina, penek, ajuman, sasayut saraswati, sagara gunung, parangkatan putih kuning, canang wangi-wangi, daging itik, daksina palinggihan Saraswati, kembang pahes, sekar cane, canang yasa, dan perlengkapan lainnya.
Kemudian seluruh pustaka yang menggunakan aksara, sebagai tempat bersemayam Dewi Saraswati berisi sesajen.
Serta dengan bunga harum, mohon air suci ke hadapan Dewa Matahari. Umat melakukan pemujaan atas kebesaran dan kemuliaan Bhatari Saraswati.
Pula upacara pemujaan Bhatari Saraswati yang tergolong utama, adalah jenis upacara yang menggunakan sarana upakara berupa sanggar tutwan, suci muka 2, daksina agung sarwa 4, catur rebah, ardhanareswari dewi.
Lengkap sesuai dengan tata aturan sesajen catur, lalu memakai penek satu parangbakat dan penek kuning satu parangbakat. Serta daging serba suci.
Kemudian sesajen untuk di bawah kepada bhuta kala. Terdiri atas pabangkit satu soroh, daging itik, sasayut 7 swahan, prayascita lwih, dilengkapi dengan pangambean agung alit, tumpeng guru satu buah, daging itik putih jambul. Semua sesajen ini persembahan kepada Dewi Saraswati.
Sejatinya, sebelum turunnya ilmu pengetahuan Weda, ada kegelapan yang musnah yaitu dengan runtuhnya Watugunung, sebagai lambang kekuasaan dan kesombongan, serta kesesatan. Sebab anak menikahi ibu kandungnya sendiri.
Saat kegelapan ini runtuh, baru muncul kesucian ilmu pengetahuan. Kemudian dengan banyupinaruh harapannya ilmu pengetahuan bisa mengalir bagai air tanpa henti dan tiada batas. Makanya banyak umat Hindu memilih mandi ke mata air seperti laut, sungai dan sebagainya. (BP/OKA)













