AKU DAN KAWANKU
buku yang lama tertutup, kini terbuka halamannya
lembar-lembar pun tercatat dengan tinta biru
ada tubuhku di sana, berlari-lari dekat pantai,
bergumul pasir, berenang bagai katak, menyelam
dan melompat-lompat seperti lumba-lumba
di halaman lain, aku dan kawanku mengejar
layang-layang putus hingga ke rimbun pohon
aku, terperosok dalam lumpur
kini buku yang makin lusuh terus saja membuka
halamannya, seperti mengungkapkan siapa aku!
Menteng, 2022 – 2026
BUAT ADELIN
aku mencintainya, seperti ia mencintaiku
jika aku tak mencintainya, ia tetap mencintaiku
terkadang aku bagai layang-layang, terombang-ambing
oleh angin dan tersangkut di sudut ruang remang-remang
dalam kesendirianku, ia selalu datang membawa cinta
kalau ia datang dan mendekatiku, aku pura-pura tak tahu
kalau ia pergi, mataku mencari ke mana perginya
meskipun aku tak merasa mencintainya
terkadang aku bersembunyi di antara baju-bajunya
kemudian ia melepaskan reusleting dari kutangnya
jika pagi datang, matahari tajam masuk ke ruangan dan
aku masih rebahan di sofa, sementara ia sudah tak ada
aku mencintainya, seperti ia mencintaiku
jika aku tak mencintainya, ia tetap mencintaiku
Menteng, 2022 – 2026
TENTANG USIA
yang bernama usia kelak akan telungkup juga
seperti urat nadi terakhir dan rebah seiring waktu
maka biarkan daun-daun jatuh di antara batu-batu,
serta kayu-kayu bertuliskan kata-kata
Menteng, 2022 – 2026
TAK ADA YANG KEKAL
tak ada yang kekal, ucap ruh pada tubuh
matahari dalam kilatan cahaya, di antara
angin dan kabut – dalam pusaran waktu!
kau bicara tentang burung-burung lepas
tak kau tahu perahu oleng di tengah badai
orang-orang yang gelisah
yang terpikirkan olehmu ialah bagaimana
menyelamatkan usia dari suara gaduh dunia
Menteng, 2022 – 2026
SEBUAH RUANG
hanya sebuah ruang. Buku-buku berserakkan
di atas meja, lukisan abstrak berkisah kalau
hidup ini ribet dan terkadang kusut,
seperti layangan putus, dan koyak
oleh hujan yang datang tiba-tiba
Menteng, 2022 – 2026
SEBUAH RANJANG
hanya sebuah ranjang, lengkap dengan
bantal dan selimut yang tak mampu menulis
riwayatnya sendiri, namun telah ia catat
jejak usiamu, bayang-bayang ketakutan
bahkan, tercatat juga kematianmu!
Menteng, 2022 – 2026
TERJERAT KORUPSI
: ihw
setelah menggunakan rompi
setelah borgol mendekap tangan
setelah mulut tertutup masker
pintu dan jendela pun terbuka
burung-burung pun lepas, dan
singgah ke menara-menara
tanah-tanah pun retak
pohon-pohon pun bergerak
air sungai pun beriak
langit kelam di ketinggian
langit hitam di angkasa
cuaca tampak murung
katakan berapa rupiah anggaran kau
hamburkan?
katakan berapa rupiah anggaran kau
lipat dalam kantungmu?
katakan berapa rupiah anggaran kau
sembunyikan dalam mulutmu?
katakan berapa rupiah anggaran masuk
ke brankas besi milikmu?
ada stempel bergoyang-goyang
di atas meja kerja, di laci-laci tanpa kunci
stempel-stempel tak berumah, menari-nari,
menyanyi, menyiulkan euforia, stempel-stempel
dalam lambang penuh rahasia berdiri kaku
di meja pengadilan, menunggu ketuk palu
(sementara dari balik jeruji besi ada yang
terisak dan menangis diam-diam)
“Inikah dunia baruku: sepi, tanpa kelakar?”
tanyanya di antara hembusan angin dalam
narasi yang runtuh, catatan harian yang runtuh
yang kelak membuka masa lalunya – terpuruk!
Menteng, 6 Januari 2025
RUH-RUH JAHAT
ruh-ruh jahat yang tersurat dan tersirat
pergi kau ke dalam-dalam tubuhmu
pergi kau pergi maling bertopeng
keluar kau dari persembunyianku
keluar kau dari dalam lemariku
ruh-ruh yang bikin onar
ruh-ruh yang bikin sengsara
sudah kututup pintu dan jendela
sudah kukancing baju-bajuku
sudah kukunci lubang milikku
ruh-ruh yang penuh tipu muslihat
yang selalu masuk ke dalam mimpiku
yang selalu duduk di sisi ranjangku
katakan, aku bukan kekasihmu
dan, aku pun bukan musuhmu!
Menteng, 9 Januari 2025
MONOLOG
di atas panggung tanpa pemain,
tubuhku terbaring dekat dinding
barangkali aku hanya sebongkah kayu
yang tercetak dengan kehendakNya
terasa ada yang mengangkat tubuhku
dan membaringkanku di atas gelombang
perlahan aku bangkit melepaskan
tubuhku dari bayanganku
laut serta kabut tampak kelam ketika
kusebut nama-nama dan benda-benda
tapi siapa mengetuk dari balik pintu,
menyapaku dan kemudian menghilang?
di atas panggung tanpa pemain, aku
tersesat dalam semesta yang tak kukenal
Menteng, 2022 – 2026
JALAN SESAT
pacarku menyelinap dalam gadget
menawarkan wajahnya bagai iklan
aku masuk perlahan ke tubuhnya
sebagai hantu menakutkan
kulihat wajahnya di dinding
dan menghilang dalam kegelapan
terkadang aku tersesat modernisasi
terbawa arus gonjrang ganjring dunia
pacarku kini berkeliaran di konten
mengaku sebagai kekasih setiaku
diam-diam kubunuh jalan sesat itu
dan kembali aku dalam lamunan konyol
Menteng, 2022 – 2026
BIODATA
Nanang R. Supriyatin kelahiran Jakarta, 6 Agustus. Menulis karya sastra sejak akhir tahun 1979, dan telah menerbitkan 13 kumpulan puisi tunggal. Beberapa puisinya mendapat juara Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional, serta Apresiasi 40 tahun berkarya dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, tahun 2024.













