DENPASAR, Balipolitika.com- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mulai menggeser paradigma penanganan krisis dari evakuasi fisik menuju penguatan sistem inklusif. Upaya nyata tersebut mewujud melalui lokakarya bertajuk Etika Komunikasi dengan Ragam Disabilitas yang berlangsung pada 16 hingga 17 Desember 2025. Forum strategis ini bertujuan merumuskan standar interaksi yang lebih manusiawi agar kelompok disabilitas mendapatkan perlindungan setara saat situasi darurat melanda Pulau Dewata.
“Pada saat banjir bulan September kemarin, komunikasi yang inklusif memang masih belum terjadi sehingga ke depan kita ingin menjadi lebih baik,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, saat membuka kegiatan tersebut.
Urgensi terhadap kesiapsiagaan bencana yang inklusif semakin nyata di tengah kondisi cuaca ekstrem yang melanda Bali belakangan ini. Pemerintah Provinsi Bali telah menetapkan status siaga darurat setelah curah hujan tinggi memicu banjir luas di lima kabupaten utama. Risiko besar ini memaksa otoritas terkait untuk segera mengintegrasikan kebutuhan kelompok rentan ke dalam setiap rencana mitigasi risiko yang sedang berjalan.
“Dengan mengutamakan inklusivitas, kami berharap dapat meningkatkan sistem penanganan bencana di Bali dan memastikan akses informasi yang berkeadilan,” tambahnya.
BPBD Bali menggandeng Kemitraan Australia-Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana (Program SIAP SIAGA) dalam menyusun transformasi komunikasi ini. Semangat lokakarya tersebut menyelaraskan komitmen global untuk memposisikan penyandang disabilitas sebagai subjek utama dalam penanggulangan bencana daerah. Sinergi antara pemerintah dan organisasi penyandang disabilitas (Opdis) menjadi modal krusial untuk mewujudkan Bali sebagai provinsi yang lebih responsif terhadap bencana.
“Ini adalah sebuah hal baru dan harapan saya teman-teman disabilitas terus dilibatkan sebagai subjek dalam menyampaikan etika komunikasi terkait kebencanaan,” kata Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Bali, Ni Ketut Leni Astiti.
Keterlibatan bermakna penyandang disabilitas dalam kegiatan kesiapsiagaan seperti simulasi bencana menjadi poin penting yang terus diperjuangkan oleh para aktivis. Hal ini memungkinkan tim penyelamat memahami kebutuhan spesifik tiap ragam disabilitas dengan hambatan fisik maupun sensorik yang berbeda. Kesiapan petugas lapangan dalam memberikan pertolongan maksimal sangat bergantung pada kedalaman pemahaman mereka terhadap protokol komunikasi inklusif yang telah disepakati.
“Keterlibatan bermakna menjadi sangat penting agar tim kebencanaan betul-betul bisa menolong kelompok penyandang disabilitas dengan maksimal ketika terjadi bencana,” tegasnya.
Sektor pariwisata Bali juga turut menyatakan komitmen besar untuk merombak prosedur standar operasional (SOP) penanganan bencana di hotel dan restoran. Pelaku industri menyadari bahwa selama ini aspek inklusivitas sering terlupakan dalam rencana darurat yang mereka susun secara mandiri. Para pengusaha kini mulai berkolaborasi dengan komunitas disabilitas untuk memberikan pelatihan berkelanjutan kepada seluruh karyawan mengenai teknik penyelamatan yang ramah disabilitas.
“Kami perlu meninjau kembali SOP dan melakukan pelatihan berkelanjutan kepada seluruh karyawan tentang tanggap menghadapi situasi lapangan bagi disabilitas,” ungkap Renny dari Mövenpick Resort Jimbaran Bali, mengakui adanya celah dalam sistem lama mereka.
Program kerja tahun 2026 mendatang akan memfokuskan sosialisasi intensif terkait etika interaksi disabilitas kepada ribuan pengelola usaha pariwisata di Bali. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan komunitas yang lebih aman serta saling terhubung erat untuk merespons krisis dengan cepat. Melalui kolaborasi multipihak yang solid, Bali berusaha memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang tertinggal ketika ancaman bencana melanda.
“Saya sudah menyusun program tahun 2026 untuk sosialisasi terkait disabilitas karena ada hal-hal yang kami belum ketahui sehingga perlu bekerja sama,” pungkas Direktur Eksekutif PHRI Bali, Ida Bagus Purwa Sidemen, menutup pemaparannya. (BP/CHA).










