GIANYAR, Balipolitika.com– Tradisi unik kembali digelar di Desa Sanding, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar bertepatan dengan hari suci Galungan, Rabu, 17 Juni 2026.
Melibatkan delapan banjar adat setempat, setiap enam bulan (210 hari) sekali sesuai hitungan kalender Bali, Desa Sanding menggelar iring-iringan sesuhunan sebagai salah satu tradisi yang berlangsung selama 81 tahun atau sejak 1945.
Satu dari delapan banjar adat yang ikut dalam prosesi sakral ini, yakni Banjar Sembuwuk berasal dari luar Desa Adat Sanding, tepatnya Desa Adat Pejeng Kaja.
Pada hajatan perdana, Banjar Sanding Gianyar, mengawali kegiatan ngiring dengan rute mengelilingi wilayah banjar.
Antusiasme warga adat dalam mengikuti kegiatan ini terlihat dari tingginya jumlah peserta atau pamedek yang ikut ngiring.
Kelian Adat Banjar Sanding Gianyar, I Ketut Darta berharap selama enam hari tradisi ini berlangsung partisipasi warga tetap antusias seperti di hari pertama.
Adapun rangkaian tradisi ngiring ini berlangsung selama tujuh hari berturut-turut, yakni pada Galungan, Rabu 17 Juni 2026, Banjar Sanding Gianyar membuka rangkaian dengan ngiring mengelilingi wilayah banjar setempat.
Keesokan harinya, Kamis, 18 Juni 2026, giliran Banjar Sanding Bitra yang mengelilingi seluruh desa.
Tradisi dilanjutkan pada Jumat, 19 Juni 2026 oleh Banjar Sanding Abianbase, kemudian Sabtu, 20 Juni 2026 oleh Banjar Mancawarna.
Pada hari Minggu, 21 Juni 2026 Banjar Sanding Gianyar kembali turun dengan rute yang lebih panjang, yakni mengelilingi seluruh banjar yang ada di Desa Sanding.
Pada Senin, 22 Juni 2026 oleh Banjar Mancawarna yang sekali lagi mengelilingi desa.
Rangkaian tujuh hari ini ditutup pada Selasa, 23 Juni 2026 oleh Banjar Sembuwuk, Pejeng.
Iringan sesuhunan dilakukan ke beberapa banjar yakni Banjar Sanding Abianbase, Sanding Serongga, Sanding Bitra, dan Sanding Gianyar.
Pada ritual sebelum-sebelumnya, Darta menyebutkan bahwa meskipun kegiatan ngiring berlangsung hampir seminggu penuh, tidak satu pun warga yang menyampaikan keluhan.
Ia juga menyampaikan harapannya agar generasi muda turut melestarikan adat dan budaya dengan aktif berpartisipasi dalam melanjutkan tradisi yang telah diwariskan oleh para tetua.
“Jika bukan kita yang melestarikan, siapa lagi kan nggak mungkin orang luar?” tandas Darta.
Terkait ritual ngiring 7 hari, salah seorang warga adat setempat, I Nyoman Rika mengatakan sesuhunan yang disungsung berupa Barong, meskipun di beberapa banjar terdapat sesuhunan yang berwujud Rangda.
“Hari ini, prosesi mengelilingi satu banjar menempuh jarak kuran lebih 2 km, sedangkan keliling seluruh desa bisa mencapai 8 km. Dari waktu ke waktu, seluruh warga adat turut berpartisipasi dalam prosesi ngiring ini di mana yang tidak ikut biasanya ketika ada kedukaan atau orang meninggal di rumahnya,” ungkap Rika.
Soal keyakinan masyarakat terkait tradisi ini menurut Rika ngiring menunjukkan kebersamaan dalam masyarakat serta merupakan warisan dari para leluhur terdahulu yang tidak meninggalkan kearifan lokal.
“Secara niskala, tradisi ini merupakan permohonan keselamatan. Secara sekala, tradisi ini mempererat kerja sama dan kerukunan antarwarga,” ujarnya sembari menyebut tradisi ini diperkirakan berlangsung sejak tahun 1945.
“Namun tidak semua sesuhunan mulai ngiring pada tahun yang sama,” ungkapnya. (Ni Kadek Juli Artini/4C/PBSI/Undiksha)










