TABANAN, Balipolitika.com– Dalam tempo dua hari pasca aksi massa yang merenggut nyawa S, lima orang warga Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, yakni MJ, WS, KB, MK, dan ND ditetapkan sebagai tersangka.
Tak berakhir pada penetapan tersangka dan simpati deras yang mengalir kepada keluarga S, khususnya sang anak, ternyata ada cerita mencekam di balik insiden tragis ini terjadi pada Jumat, 24 Juli 2026 dini hari sekitar pukul 01.00 Wita.
Sebelum S tertangkap tangan saat diduga menggasak dua ekor ayam jantan milik warga setempat bernama WA, ternyata pelaku sekaligus korban diduga sempat mengancam akan membunuh salah seorang warga setempat.
Kondisi inilah sang menyulut emosi warga selain akumulasi keresahan atas kasus pencurian yang berulang kali terjadi di desa tersebut.
Hal mengejutkan itu disampaikan oleh Ni Putu Aya (24 tahun) yang kini tak hanya kehilangan sang suami, tetapi juga mertuanya sekaligus karena ditahan pihak kepolisian.
Keduanya kini mendekam di tahanan Polres Tabanan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengeroyokan yang menewaskan seorang terduga pelaku pencurian di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti.
Ni Putu Aya kini harus tegar merawat dua anaknya yang masih balita sembari menunggu kepulangan ayah mereka.
Sang istri menuturkan bahwa suaminya, MJ dan mertuanya, MK, ditahan bermula ketika iparnya mendengar suara sepeda motor di depan rumah mereka sekitar pukul 00.30 Wita.
Saat keluar untuk memeriksa, iparnya mengaku mendapati seseorang yang diduga hendak mencuri.
Saat itu, warga yang dilanda kecemasan kemudian berdatangan setelah kulkul adat setempat dibunyikan bertalu-talu.
Terang Ni Putu Aya, situasi berubah ketika pria yang diduga sebagai pelaku pencurian itu disebut mengancam iparnya menggunakan senjata tajam.
“Malah malingnya yang balik menantang ipar saya mau membunuh,” ujar istri MJ, Selasa, 28 Juli 2026 diwawancarai awak media.
Sembari mengaku tidak secara langsung mengetahui apa yang terjadi di lokasi kejadian, Ni Putu Aya menyebut sebelum ditahan sang suami sempat mengeluh lantaran foto-fotonya viral beredar di media sosial.
Meski sementara, diakuinya kondisi kehilangan suami dan mertua sekaligus sangat berat.
Lebih-lebih selama ini yang menjadi tulang punggung keluarga adalah sang suami meski hanya berstatus petani.
Sementara, mertuanya yang ikut ditahan sudah sakit-sakitan dan tidak mampu lagi bekerja mencari nafkah.
Yang paling berat, imbuhnya adalah memenuhi keinginan anak sulungnya yang baru berusia empat tahun.
Hampir setiap hari anak itu memanggil ayahnya dan bertanya ke mana sang ayah pergi.
Untuk menenangkan putranya, Ni Putu Aya hanya bisa mengatakan ayahnya sedang bekerja.
Namun, penjelasan itu tak mampu menghapus kerinduan sang anak hingga putranya beberapa kali menangis hingga tertidur sambil terus memanggil sang ayah.
Lebih jauh, Ni Putu Aya menuturkan bahwa keluarga mereka juga terpaksa menghentikan rencana membangun rumah karena musibah tersebut.
Ni Putu Aya berharap suami dan mertuanya memperoleh keringanan hukuman sehingga dapat segera kembali berkumpul bersama keluarga,
Kehadiran keduanya sangat dibutuhkan untuk membesarkan kedua buah hatinya. (bp/ken)













