Pagi dan Asap Knalpot
pagi dan asap knalpot
menyambar jendela bus
seperti isyarat menembus
benak penghuni kota rakus
pagi lalu lintas rumit
mematut nafsu manusia
tanpa limit
menjangkau asa
jalan yang dilindas jutaan roda
sudah lama ingin duduk satu meja
dengan bocah lelah penjaja
botol minum dan pena
awan menggayuti pencakar langit
hujan jatuh walau sekelumit
aku tak mampu berkelit
jadi pemeran gembira
tak henti
terjepit
2025
Pengantar Surat
ia bukan tukang pos luar biasa
hanya pengantar pesan penting
dikirim dari seseorang
yang yakin hidupnya genting
ia mengantar harapan yang harus ditanggapi
dengan hati seluas hening
diwanti-wanti agar jangan gampang pusing
jika tak ingin takdirnya miring
ia digiring kecemasan kala surat itu belum sampai
jantungnya berdebar, menghantam depan-belakang
sibuk membayangkan yang bukan-bukan
ia bukan mengirim penentu kehidupan
namun masa depannya diatur makna
yang akan diterjemahkan entah seperti apa
oleh penerima
2025
Pikiran Nakal Tukang Tambal Ban
ban yang bocor atau tertusuk paku
bukan peristiwa luar biasa
bagi diri yang merindukanmu
kalaupun ada yang mengantar motornya
untuk kuganti benennya
bukan hal yang membuatku terharu
karena berita di mana-mana
tentang orang-orang menggelepar dibunuh impiannya
lebih menamparku
kibasan angin mobil pejabat
yang lewat tanpa hormat
memekatkan amarahku
apakah di surga ada
tukang tambal dosa
para maling dan mafia
setia merawat kompresor angin
yang melusuh dan cemas
tak ingin diganti
dengan yang baru
2026
Hidup yang (Selalu) Dilanda Prank
segudang harapan tiba-tiba tumbuh di meja sarapan
membelit hari-hari yang teramat sibuk
hasil dan target ingin segera kupeluk
semangat meraksasa tak berbentuk
kumulai beringsut mengeja jalan yang tetap kusut
berharap detik, menit, jam menyarang
menghadiahi jiwa yang semakin gersang
dengan teriakan kemenangan
namun yang hinggap adalah jebakan dan perjudian
serta kekalahan yang membungkam impian
namun yang bertamu di senja menjelang
adalah umpat dan kecewa menjulang
walau tiada yang sudi mendengar
lenguh dan rintih terpendam
tak sesiapa membujuk
luka dan lara berkepanjangan
2026
BIODATA
Mohammad Isa Gautama, kelahiran 1976, mengajar di Universitas Negeri Padang. Menulis puisi sejak remaja, dimuat di kompas.id, Media Indonesia, Republika, Bali Post, Lampung Post, Jurnal Puisi, Indo Pos, Majalah Sastra Horison, bacapetra.co, borobudurwriters.id, balipolitika.com, ompiompi.co.id, dan basabasi.co serta seluruh media cetak Sumatra Barat. Puisinya juga dimuat di belasan antologi bersama, yang terbaru “Share” (Puisi-puisi Pilihan Bali Politika 2024). Empat buku puisi tunggalnya, Jalan Menangis Menuju Surga, (Basabasi, 2018), Bunga yang Bersemi Kala Aku Sunyi, (Bitread, 2019) dan Syair Cinta tanpa Kopi (hyangpustaka, 2022), dan Nyanyian Batu (Prenadamedia, 2025). Buku kumpulan cerpennya, Pada Sebuah Khuldi (basabasi, 2023). Emerging writer dalam ajang Ubud Writers and Readers Festival, 2017, terpilih pada Borobudur Writers and Culural Festival, 2019. Dapat disapa di IG @mohammadisagautama.










