DENPASAR, Balipolitika.com- Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seorang pelajar untuk terus berlatih, menghadapi kegagalan, dan menjaga konsistensi di tengah padatnya aktivitas sekolah.
Namun, proses panjang itulah yang akhirnya mengantarkan Kadek Jyoti Laksmi Dewi, siswi SMA Negeri 4 Denpasar, meraih juara 1 cabang tolak peluru pada Walikota Cup Atletik XVI Tahun 2026 se-Kota Denpasar.
Jyoti –demikian ia akrab disapa– membukukan lemparan sejauh 7 meter menggunakan peluru seberat 4 kilogram.
Di balik medali yang berhasil diraihnya, terdapat perjalanan yang penuh kerja keras, disiplin, serta dukungan dari banyak pihak.
Bagi Jyoti, kemenangan tersebut bukan sekadar hasil dari satu hari pertandingan, melainkan akumulasi dari latihan dan perjuangan yang telah dijalani selama bertahun-tahun.
“Saat pertama diumumkan menjadi juara satu, yang saya rasakan adalah rasa syukur yang sangat besar. Kemenangan ini bukan hanya tentang satu hari pertandingan, tetapi tentang seluruh proses yang sudah saya jalani selama ini,” ujar Jyoti.
Perasaan haru juga muncul karena ia teringat kepada orang-orang yang selama ini mendampinginya: orang tua, pelatih, guru, dan teman-teman menjadi bagian penting dalam perjalanan yang mengantarkannya menuju podium juara.
“Kemenangan ini bukan hanya milik saya sendiri, tetapi juga milik semua orang yang telah membantu dan percaya kepada saya selama perjalanan menjadi atlet,” tambahnya.
Perjalanan Jyoti di dunia tolak peluru bermula dari kegiatan atletik yang diadakan di sekolah di mana awalnya ia hanya mencoba berbagai cabang olahraga yang tersedia.
Namun, dari berbagai pilihan tersebut, tolak peluru justru menjadi cabang yang paling menarik perhatiannya.
Menurutnya, olahraga tolak peluru memiliki tantangan tersendiri karena tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga memerlukan teknik, koordinasi tubuh, keseimbangan, dan konsentrasi yang baik.
Ketertarikan itu semakin besar ketika ia mulai melihat perkembangan dalam kemampuannya setelah menjalani latihan secara rutin.
Sejak saat itu, Jyoti memutuskan untuk lebih serius menekuni cabang olahraga tersebut dan ia mulai mengikuti berbagai kompetisi dan terus mengasah kemampuan yang dimilikinya.
Dari pengalaman itulah ia memahami bahwa prestasi tidak pernah datang secara instan.
“Semakin sering mengikuti perlombaan, saya semakin memahami bahwa prestasi membutuhkan latihan yang konsisten, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar,” katanya.
Meski kini berhasil meraih juara, perjalanan Jyoti tidak selalu berjalan mulus.
Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah menjaga konsistensi latihan di tengah berbagai kesibukan sebagai pelajar.
Ia harus membagi waktu antara kegiatan akademik, organisasi, persiapan kuliah, dan latihan atletik; tidak jarang rasa lelah datang menghampiri.
Selain harus mengikuti kegiatan sekolah, ia juga dituntut menjaga kondisi fisik melalui pola makan, waktu istirahat, dan latihan yang teratur.
Di samping itu, tekanan mental juga menjadi tantangan tersendiri. Jyoti mengaku pernah menghadapi keraguan ketika melihat kemampuan lawan yang kuat atau ketika hasil latihan tidak sesuai dengan harapan.
“Ketika melihat kemampuan lawan yang kuat atau hasil latihan tidak sesuai harapan, saya harus belajar mengendalikan pikiran agar tetap percaya pada proses yang sudah saya jalani,” ujar Jyoti.
Selama tiga tahun berlatih, kegagalan juga pernah menjadi bagian dari perjalanannya. Beberapa kompetisi tidak menghasilkan pencapaian sesuai target yang diharapkan.
Rasa kecewa tentu pernah dirasakan, tetapi ia memilih menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk terus berkembang menjadi lebih baik.
“Saya percaya bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan,” ungkapnya.
Baginya, keberhasilan meraih juara 1 pada Walikota Cup Atletik XVI Tahun 2026 merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Mulai dari latihan fisik, memperbaiki teknik, menjaga kesehatan, hingga membangun mental yang kuat untuk menghadapi tekanan saat bertanding.
Sebagai seorang pelajar, Jyoti juga harus pandai mengatur waktu. Ia berusaha menyelesaikan tugas sekolah tepat waktu dan mengatur jadwal belajar agar tidak berbenturan dengan latihan.
Menurutnya, pendidikan dan olahraga merupakan dua hal yang sama-sama penting dan dapat berjalan berdampingan jika dikelola dengan baik.
Saat berada di arena pertandingan, rasa gugup tetap dirasakan sebagaimana atlet pada umumnya, namun, Jyoti memiliki cara tersendiri untuk menjaga fokus dan kepercayaan dirinya.
Ia memilih mengingat kembali seluruh latihan yang telah dijalani dan meyakinkan dirinya bahwa ia telah melakukan persiapan yang maksimal.
“Saya berusaha untuk tidak terlalu memikirkan lawan, fokus utama saya adalah memberikan performa terbaik yang saya miliki,” ujar Jyoti.
Prestasi yang diraih pada Walikota Cup Atletik XVI Tahun 2026 menjadi motivasi baru bagi Jyoti untuk terus berkembang.
Ia berharap dapat mengikuti kompetisi dengan tingkat yang lebih tinggi dan memperoleh pengalaman yang lebih luas.
Di sisi lain, ia juga ingin tetap mempertahankan prestasi akademiknya sebagai pelajar.
Selain berbagi pengalaman, Jyoti juga menyampaikan pesan kepada para pelajar yang masih ragu untuk mengejar impian karena takut gagal.
Menurutnya, keberhasilan tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dijalani dengan konsisten dan penuh semangat.
“Jangan takut untuk mencoba dan jangan takut gagal. Saya membutuhkan waktu tiga tahun latihan dan mengikuti banyak perlombaan hingga akhirnya bisa meraih prestasi seperti sekarang. Keberhasilan bukan ditentukan oleh siapa yang paling berbakat, tetapi oleh siapa yang mampu bertahan, terus belajar, dan tidak menyerah ketika menghadapi tantangan,” pesannya.
Prestasi yang diraih Jyoti menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk bangkit dari kegagalan dapat mengantarkan seseorang menuju pencapaian yang diimpikan. (bp/Luh Nadia Budarini/4A/Basindo/Undiksha)













