HOTEL tua itu berdiri di ujung kota seperti seseorang yang terlalu lama menyimpan rahasia. Bangunannya tinggi, bercat krem pucat yang mulai kusam dimakan hujan dan waktu. Lumut tumbuh di sela-sela dinding. Beberapa jendelanya retak. Lampu papan namanya berkedip pelan setiap malam, huruf-hurufnya menyala tidak utuh seperti ingatan yang separuh hilang entah di mana.
HOTEL SURYA. Huruf “A”-nya mati sejak lama. Orang-orang jarang menginap di sana sekarang. Selain karena letaknya jauh dari pusat kota, hotel itu juga menyimpan terlalu banyak cerita yang tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan. Sebagian tamu mengatakan mereka mendengar suara perempuan menangis dari lorong lantai tiga. Sebagian lagi bersumpah pernah melihat seseorang berdiri di balkon kamar kosong saat hujan turun.
Tetapi seperti semua cerita aneh di kota kecil, rumor-rumor itu akhirnya hanya menjadi bahan obrolan warung kopi. Kecuali bagi Damar. Karena malam itu, ia mendengarnya sendiri.
Damar datang ke hotel itu menjelang tengah malam pada awal musim hujan. Langit menggantung rendah seperti kain basah. Jalanan licin oleh gerimis yang turun sejak sore. Sesekali petir menyala jauh di balik gedung-gedung tua, memperlihatkan kota yang tampak murung dan kelelahan.
Ia baru tiba dari luar kota setelah menghadiri pemakaman ibunya. Tubuhnya penat.
Kepalanya penuh. Dadanya seperti dipenuhi sesuatu yang belum sempat ia tangisi. Ia sebenarnya tidak berniat menginap di hotel tua itu. Tetapi semua penginapan dekat terminal penuh karena ada acara politik daerah. Sopir taksi yang mengantarnya menunjuk bangunan tua di ujung jalan. “Masih buka kalau yang itu,” katanya. Damar memandang hotel tersebut dengan ragu. Lampunya redup. Di balkon lantai dua tampak jemuran handuk bergerak pelan tertiup angin seperti tubuh seseorang yang digantung.
“Kamar masih ada?” tanyanya pada resepsionis tua yang duduk di balik meja kayu kusam. Lelaki tua itu mengangguk lambat. “Lantai tiga kosong.” Nada suaranya terdengar aneh. Seperti seseorang yang sebenarnya ingin mengatakan sesuatu tetapi mengurungkannya.
Damar menerima kunci kamar bernomor 14. Kuncinya masih menggunakan gantungan kayu besar, bukan kartu elektronik seperti hotel modern.
“Kalau malam jangan terlalu sering keluar kamar,” kata resepsionis itu sebelum Damar naik tangga. “Kenapa?” tanya Damar penasaran. “Lantai tiga suka dingin.” jawab lelaki tua itu.
Damar mengira lelaki tua itu hanya bercanda.
Lorong lantai tiga panjang dan remang. Lampu-lampu dinding memancarkan cahaya kekuningan yang membuat cat kusam hotel tampak semakin pucat. Karpet merah tua membentang di sepanjang lorong, lembap dan sedikit berbau jamur. Di ujung lorong terdapat jendela besar yang menghadap jalan raya. Hujan terlihat turun pelan di luar sana.
Damar berjalan sambil menyeret koper kecilnya. Suara roda koper bergesekan dengan karpet terdengar seperti bisikan yang diseret-seret. Kamar nomor 14 berada paling ujung. Tepat di sebelah kamar kosong yang pintunya ditutup rantai besi. Damar sempat melirik nomor di pintu itu. Nomor 13.
Ia membuka kamar 14 perlahan. Ruangan itu sempit tetapi bersih. Lampu tidur redup menyala di dekat ranjang. Dindingnya dipenuhi motif bunga yang mulai pudar. Ada lemari kayu tua di sudut ruangan dan sebuah jendela besar yang kacanya dipenuhi titik-titik hujan. Entah kenapa udara kamar terasa lebih dingin daripada di luar.
Damar meletakkan tasnya lalu duduk di tepi ranjang. Sunyi. Hanya suara hujan dan sesekali bunyi pipa air dari dalam dinding. Ia mengusap wajahnya pelan. Sejak ibunya meninggal tiga hari lalu, ia belum benar-benar tidur. Di kepalanya masih terngiang suara perempuan tua itu ketika terakhir kali menggenggam tangannya di rumah sakit. “Kalau nanti hujan turun, jangan pulang terlalu malam.” Kalimat sederhana. Tetapi kini terasa seperti sesuatu yang belum selesai.
Sekitar pukul satu malam, Damar terbangun. Awalnya ia mengira suara hujan membuat tidurnya terganggu. Namun setelah beberapa detik, ia sadar ada suara lain. Pelan. Samar. Seperti seseorang sedang melantunkan ayat suci. Damar menahan napas. Suara itu datang dari balik dinding kamar. Suara seorang perempuan. Suaranya lirih dan sangat sendu.
Ia bangkit perlahan dari ranjang. Suara mengaji itu terdengar seperti datang dari kamar sebelah. Kamar nomor 13. Padahal kamar itu dirantai dari luar. Damar mendekat ke dinding. Semakin dekat ia mendengar, semakin jelas suara perempuan itu. Nadanya tenang, tetapi ada kesedihan panjang mengendap di setiap ayat yang dilantunkan.
Bulu kuduknya meremang. Ia membuka pintu kamar perlahan dan melongok ke lorong. Kosong. Lampu lorong berkedip kecil. Suara hujan menggema dari luar jendela ujung koridor. Dan suara mengaji itu masih terdengar. Damar berjalan pelan menuju kamar 13. Rantai besi di pintu bergoyang kecil seperti baru disentuh seseorang.
“Ada orang di dalam?” tanyanya pelan. Tidak ada jawaban. Hanya suara ayat-ayat yang terus mengalun pelan. Damar menempelkan telinga ke pintu. Mendadak suara itu berhenti. Sunyi. Dan sangat sunyi. Lalu, “Gedubrak!” Sesuatu jatuh di dalam kamar. Damar mundur selangkah. Tangannya mulai dingin. “Hallo?” ujar Damar setengah berteriak. Tetap tidak ada jawaban.
Tetapi tiba-tiba aroma melati menyeruak dari bawah pintu. Harumnya lembut dan basah. Seperti bunga yang habis terkena hujan. Jantung Damar berdetak lebih cepat. Dan tanpa alasan jelas, ia merasa seseorang sedang berdiri tepat di balik pintu itu. Mengawasinya. Damar mematung.
***
Keesokan paginya Damar turun ke lobi dengan wajah pucat. Resepsionis tua itu sedang menyeduh kopi. “Pak,” kata Damar pelan. “Semalam ada orang di kamar sebelah?”
Lelaki tua itu diam cukup lama. “Mas dengar suara perempuan?” kata lelaki tua itu
Damar membeku. “Jadi memang ada?” tanya Damar.
Resepsionis itu menghela napas panjang. “Sudah lama kosong.” ujarnya.
“Kosong bagaimana? Saya dengar orang mengaji.” tegas Damar tidak percaya.
Lelaki tua itu menatap hujan di luar kaca lobi. “Dulu ada perempuan muda menginap di kamar itu,” katanya perlahan. “Datang sendirian waktu musim hujan.”
“Apa yang terjadi?” tanya Damar makin penasaran.
“Tidak ada yang tahu pasti.” Jawab lelaki tua itu. Ia berhenti sejenak.
“Hanya ditemukan buku puisi basah di dalam kamarnya.” jelas lelaki tua itu. Angin dingin masuk dari pintu hotel yang terbuka sedikit. Lelaki tua itu kemudian melanjutkan perkataanya, “Ada yang bilang perempuan itu hilang.” “Ada yang bilang bunuh diri.”
“Ada juga yang bilang dia tidak pernah check-out.”
Damar menelan ludah. “Namanya siapa?” tanya Damar hampir tidak terdengar. Resepsionis itu menggeleng pelan. “Tidak jelas.” “Tapi?” “Terkadang tamu mendengar dia mengaji kalau hujan turun.” Jelasnya.
Malam kedua Damar belum bisa tidur. Hujan kembali turun. Dan sekitar pukul satu tepat, suara itu muncul lagi. Lebih dekat kali ini. Lebih sedih. Damar memberanikan diri keluar kamar sambil membawa senter kecil. Lorong tampak lebih gelap dari malam sebelumnya. Lampu dinding mati separuh. Suara perempuan itu mengalun pelan dari kamar 13.
Damar mendekat. Rantai di pintu kini terbuka. Pintu kamar sedikit menganga. Dadanya terasa sesak. Dengan tangan gemetar ia mendorong pintu perlahan. “Krieeet….” Ruangan itu gelap. Lembap. Dan sangat dingin. Senter di tangannya bergetar kecil ketika cahaya menyapu isi kamar.
Kosong. Hanya ada ranjang tua tanpa kasur dan tanpa sprei. Kursi kayu patah. Dan jendela terbuka yang membuat tirai putih bergerak perlahan tertiup angin malam. Tetapi di atas lantai dekat jendela, terdapat sebuah buku. Sampulnya biru tua. Basah. Damar mendekat perlahan. Tangannya gemetar ketika mengambil buku itu.
Judul buku itu nyaris hilang dimakan air. Yang tersisa hanya potongan kalimat, “…yang Lupa Pulang.” Mendadak suara perempuan itu terdengar tepat di belakangnya. “Tidak semua yang hilang benar-benar pergi.” Damar membalikkan tubuh cepat. Tidak ada siapa-siapa. Tetapi aroma melati memenuhi ruangan. Dan di kaca jendela yang dipenuhi embun hujan, muncul tulisan samar seperti ditorehkan jari basah, “Ayu.”
Lampu senter berkedip, lalu mati. Dan di tengah gelap yang menggigil itu, Damar merasa seseorang sedang berdiri sangat dekat di sampingnya membawa hujan,
membawa kesepian, dan sesuatu yang belum berhasil pulang sejak bertahun-tahun lalu.
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.













