PERTANYAAN AWAL TAHUN
Adakah ledakan kembang api
Dan terompet larut malam itu
Menggetarkan hati katak dan kunang-kunang?
Lalu katak melompat
Lampaui dirinya
Kemudian kunang-kunang jelma gemintang
Yang diakui angkasa
Memaknai resolusi
Pesan perubahan
Yang bergema dari celah antar tahun
Ataukah ada makhluk paling ringkih dari ceruk nokturnal
Yang terkesima
Namun tak mau angannya terbakar
Menjadi pekak oleh riuh lengking suara-suara sepi?
Aku sedang mengawali cerita
Yang kuharap benar-benar dimulai nyala baru, irama baru, semangat baru, obsesi baru
Dan alangkah indah
Jika kelak, di ujung tahun berikutnya
Tak sekadar kembali menjadi pembungkus abu
Dari ruh
Dari nyawa
Yang hancur sendiri karena mencoba hidup
Di langit bumi tuli
Sumbawa Timur, 3 Januari 2026
TEMAN
Ledakan-ledakan sunyi kembang api
Lengking sepi terompet
Di kejauhan
Membuntutiku, sebagai cacian
Hujamannya serupa tahun-tahun lampau
Saat aku memilih merayakan dengan bayang sendiri
Sebab ia lebih pandai
Mengingatkan bagaimana memburu cahaya
Bahkan mengobarkan api
Dan kami tetap bersama
Di manakah sumber cahaya mereka yang kutinggalkan?
Setelah dentum dan riuh
Kota pun letih
Semua terusir ke mimpi masing-masing
Yang dibangun dari percikan cahaya kembang api dan irama terompet
Aku tetap di jalan penuh cahaya
Menyorot dari mata lelaki yang meringkuk kedinginan di emper toko
Yang membaca namanya dalam tatapanku
Terang pula dari wajah kusut perempuan kutang merah
Yang tak beroleh satu pun pelukan
Tapi sapaanku merangkul takdirnya
Ledakan-ledakan sunyi kembang api
Lengking sepi terompet
Samar-samar
Dalam puisi
Membuntutiku
Hendak pula menjadi teman
Sumbawa Timur, 3 Januari 2026
KOPI, ANGGUR DAN AIR PUTIH
Lelaki itu menyelami perjalanannya di cangkir kopi
Hitam
Diaduknya berulang kali
Ia letih
Ketika buih putih menerangkan risih
Alih-alih menyeka sunyi
Perempuan itu menenggak lukanya di gelas anggur
Merah
Dicelupkan jemarinya
Menekan wajah suaminya yang selingkuh
Dan anak gadisnya yang minggat
Ia tersenyum
Mendapati diri menari di riak anggurnya
Aku, terus damai dengan bening air putih
Wajah jernih saat bercermin
Sebelum datang anak kecil
Berdiri untuk semua orang di pintu café
Tapi dari wajah laparnya, ia muncul cuma bagiku
Aku geram
Menatapi air putihku merembes genangi meja
Karena kembali
Dadaku retak
Sumbawa Timur, 3 Januari 2026
DALAM KAMAR
Ah
Sukarnya jadi penyair
Dalam kamar sendiri
Masih dilindas deru zaman
Bahkan untuk bermusik
Tak bebas hening dipetik
Sebab buah-buah perjalanan
Berjatuhan
Melubangi atap rasa
Melekatkan selalu kepala dengan terik dan dingin luruhan embun
Sumbawa Timur, 3 Januari 2026
DI LUAR KAMAR
Selalu rindu pelukan hujan
Setidaknya ciuman gerimis yang buat puisi selalu basah
Tapi kemarau juga dihimbau
Janganlah jauh
Sebab penyair itu ingin berpeluh
Begitulah ia di luar kamar
Selalu damai dengan cuaca di luar kamar
Saat kembali ke meja kerjanya, ke tumpukan kata-katanya
Dadanya tak sesak lagi
Oleh kekosongan
Sumbawa Timur, 3 Januari 2026
BIODATA
Yin Ude bernama lengkap Muhammad Thamrin, penulis Sumbawa Timur, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Menulis sejak 1997. Karyanya berupa puisi, cerpen, novel, artikel, resensi dan cerita anak. Puisi, cerpen, artikel dan resensinya terpublikasi di media cetak dan online dalam dan luar daerah Sumbawa, antara lain Lombok Pos, Suara NTB, Sastra Media, Bali Politika, Elipsis, Suara Merdeka, Solo Pos, Kompas, Republika dan Tempo. Memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Buku tunggalnya adalah Sepilihan Puisi dan Cerita Sajak Merah Putih (Rehal Mataram, 2021), Novel Benteng (CV Prabu Dua Satu Batu Malang, Mei 2021), antologi puisi Jejak (Penerbit Lutfi Gilang Banyumas, 2022) dan Kumpulan Cerpen Emas (Penerbit Lutfi Gilang Banyumas, 2025). Puisinya termuat pula dalam belasan antologi bersama para penyair Indonesia. Sehari-hari Yin Ude adalah guru ASN PPPK di SMP Negeri 2 Plampang, Sumbawa.













