ANAK-ANAK membuat sebuah api unggun ketika hari mulai gelap dan udara dingin bergerak dari lautan. Pohon cemara di atas mereka bergerak di tengah angin laut yang menyegarkan. Anak-anak itu berbaring di balik daun-daun cemara yang seperti jarum dan menatap keheningan langit melalui cabang-cabang pohon.
Di antara mereka ada Hansel, Mira, dan Dani, dan beberapa orang dewasa yang dahulu pernah datang sebagai murid. Mereka tidak lagi benar-benar anak-anak. Usia mereka telah bertambah, rambut beberapa di antaranya telah memutih. Tetapi malam itu, di tempat yang sama, mereka merasa seperti kembali menjadi anak-anak.
Tempat itu pernah menjadi tempat berkumpul bersama guru mereka, seorang guru spiritual yang sederhana, yang selalu mereka panggil hanya dengan satu nama: Guru Elias.
Kini guru itu telah tiada.
Api kecil di depan mereka berderak perlahan. Percikan api naik sebentar lalu hilang dalam kegelapan. Tidak ada yang berbicara cukup lama, seolah setiap orang menunggu seseorang lain memulai.
Akhirnya Mira berkata pelan, “Aneh sekali. Rasanya seperti dia masih akan datang dari balik pohon.”
Habel tersenyum tipis, tetapi matanya basah.
“Dulu dia selalu datang paling terakhir,” katanya. “Seolah ingin memastikan semua orang sudah duduk sebelum dia bergabung.”
Angin laut meniup cabang-cabang cemara. Malam terasa luas dan sepi.
Dani mengaduk panci kecil yang mereka gantung di atas api.
Harum rebusan ayam menggoda mereka. Hansel sudah memetik selembar daun salam segar dari pohon di atas air dan menjatuhkannya ke dalam rebusan. Wortel sekarang dimasukkan. Kopi di kaleng mendidih di atas tungku batu.
Mereka memasak seperti yang dulu selalu diajarkan Guru Elias: sederhana, bersama-sama, tanpa terburu-buru.
“Dia selalu bilang,” Mira mengingat, “bahwa orang belajar paling baik ketika hati mereka hangat dan perut mereka kenyang.”
Habel mengangguk.
“Dan hati paling mudah hangat,” tambahnya, “dengan api kecil dan teman yang tulus.” Beberapa dari mereka tertawa pelan.
Namun tawa itu cepat berubah menjadi keheningan yang panjang. Kerinduan datang seperti kabut dari laut.
***
Bertahun-tahun lalu, ketika mereka pertama kali mengenal Guru Elias, mereka datang dengan berbagai luka.
Habel datang karena kehilangan ayahnya.
Mira datang karena hatinya penuh kemarahan.
Dani datang karena merasa hidupnya kosong meskipun ia telah sukses dalam pekerjaannya.
Guru Elias tidak pernah berbicra panjang. Ia jarang memberi ceramah atau nasihat seperti para guru lain. Sebaliknya, ia berjalan bersama mereka, bekerja bersama mereka, makan bersama mereka.
Suatu pagi Pak Herman tua sedang berjalan dari rumahnya di atas bukit turun ke arah Alvocado Street. Lelaki tua itu mendatangi Guru Elias untuk berbincang tentang rasa takutnya dalam menghadapi kematian yang sebentar lagi menimpanya.
Itulah yang mereka lihat hampir setiap hari. Kemudian Guru Elias berjalan menyusuri jalan kecil menuju desa, membawa keranjang berisi sayur untuk orang-orang yang sakit atau miskin.
Mereka dulu tidak mengerti mengapa seorang guru spiritual lebih sering terlihat membawa kayu bakar atau memperbaiki pagar daripada berbicara tentang kitab-kitab suci dan keselamatan manusia.
Suatu hari Dani pernah bertanya langsung.
“Guru,” katanya, “mengapa Anda tidak banyak mengajar?”
Guru Elias tertawa kecil.
“Bukankah hidup ini sudah terlalu banyak kata-kata?”
Ia menunjuk ke arah laut.
Ada suatu pemandangan cantik dari tanjakan desa, lengkungan teluk dengan gelombang berbuih di atas pasir, rumah-rumah di atas bukit-bukit kecil dan tempat di bawah bukit adalah kehangatan yang menentramkan.
“Jika seseorang bisa melihat itu dengan sungguh-sungguh,” kata Elias, “Ia sudah belajar setengah dari kebijaksanaan.”
***
Api unggun di malam itu mulai mengecil.
Habel menuangkan rebusan ayam ke mangkuk logam. Mereka makan perlahan, seperti dulu.
Sungguh waktu yang menyenangkan. Kopi dalam kaleng berkeliling dan menghangatkan tubuh mereka.
Namun kenangan datang satu per satu, seperti bintang yang muncul di langit.
“Apakah kalian ingat musim dingin terakhirnya?” tanya Mira.
Semua orang langsung diam.
Mereka tentu ingat.
Musim dingin itu sangat keras. Banyak orang di desa sakit. Jalan menuju kota tertutup kabut dan angin kencang. Persediaan makanan menipis.
Guru Elias berjalan dari rumah ke rumah hampir setiap hari, membawa bahan makanan, kayu bakar, dan obat-obatan sederhana.
“Dia hampir tidak pernah tidur,” kata Dani pelan.
Habel mengangguk untuk kesekian kalinya.
“Dan ketika kita memintanya berhenti, dia berkata: ‘Jika seseorang mengetuk pintu di tengah malam, apakah kita akan pura-pura tidak mendengar?’”
Pada akhirnya tubuhnya tidak kuat. Ia jatuh sakit.
Tetapi bahkan ketika demam, ia masih meminta mereka membawa makanan ke rumah-rumah lain.
Beberpa minggu kemudian, ia meninggal dengan tenang di rumah kecilnya di atas bukit.
Tanpa pidato terakhir.
Tanpa pesan khusus.
Hanya satu kalimat yang ia bisikan kepada Mira yang saat itu menjaganya.
“Jangan mencari saya,” katanya lemah. “Carilah kebaikan.”
***
Angin malam semakin dingin.
Dan di sekitar mereka senja merangkak selembut musik. Burung puyuh yang saling memanggil satu sama lain mencebur ke dalam air. Ikan mujair berlompatan di kolam. Dan ngengat datang serta terbang di sekitar kolam ketika cahaya matahari berbaur ke dalam kegelapan.
Langit perlahan berubah menjadi hitam pekat.
Malam telah datang sekarang dan bintang-bintang berwarna putih di langit. Di atas bukit seekor rubah menyalak dengan tajam.
Tidak ada yang berbicara cukup lama.
Akhirnya Dani berkata dengan suara hampir berbisik, “Sejak dia pergi, aku merasa seperti kehilangan arah.”
Habel menatap api yang hampir padam.
“Aku juga.”
Mira memeluk lututnya.
“Aku sering berharap dia muncul lagi dan berkata apa yang harus kita lakukan.”
Angin meniup abu kecil dari api unggun.
Tetapi tiba-tiba Habel tertawa pelan.
“Kalian tahu,” katanya, “kalau dia mendengar kita sekarang, dia mungkin akan menggelengkan kepala.”
“Kenapa?” tanya Mira.
Hansel menatap teman-temannya satu per satu.
“Karena kita terus merindukan suaranya,” katanya, “padahal selama ini dia sudah mengajarkan kita untuk mendengar kehidupan.”
Ia menunjuk ke arah laut yang gelap.
“Kalian dengar ombak?”
Semua orang diam.
Ombak terdengar perlahan memukul pantai.
“Dia pernah bilang,” lanjut Habel, “bahwa langit mengingat semua kebaikan manusia.”
Mira menatap bintang-bintang.
“Langit mengingatnya,” katanya pelan.
Dani menarik napas panjang.
“Dan mungkin,” katanya, “tugas kita sekarang adalah membuat langit mengingat lebih banyak lagi.”
Mereka saling memandang.
Untuk pertama kalinya malam itu, keheningan tidak terasa kosong.
Api unggung hampir padam ketika mereka mulai membereskan panci dan kaleng.
Tidak ada guru yang duduk bersama mereka malam itu.
Tetapi ketika mereka berjalan turun dari bukit menuju desa, membawa sisa makanan untuk seorang tetangga yang sakit, mereka merasakan sesuatu yang dulu sering dikatakan oleh Guru Elias.
Bahwa bimbingan sejati tidak selalu datang dari suara seorang guru.
Kadang-kadang ia datang dari langkah kecil yang kita lakukan untuk orang lain.
Dan jauh di atas mereka, langit yang luas tetap diam, namun seolah mengingat segalanya.
BIODATA
Pitrus Puspito adalah guru dan penulis. Karyanya berupa puisi, cerpen dan esai pernah dimuat di media cetak maupun digital. Buku tunggalnya yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018) dan Menyiasati Kejenuhan (2026). Dapat disapa lewat akun instagram: @pitruspiet.













