SUATU hari KPK dengan gagah berani menangkap seorang pejabat daerah. Saat itu kita semua bersorak, “Akhirnya! Keadilan!” di media sosial. Tapi, baru hendak memesan kopi Liberika untuk merayakan, muncul berita baru: skandal lain yang melibatkan orang yang berada di pusaran elit. Rasanya seperti bermain game. Melelahkan, capek, dan kadang memaki sembari merapal mantra buruk yang dialamatkan kepada si pelaku saat layarnya sedang menampilkan kasus (lagi-lagi) korupsi beserta turunannya.
Seperti juga kasus yang menerpa Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer (Noel). Yang bersangkutan tertangkap tangan oleh KPK dalam OTT terkait dugaan pemerasan sertifikat K3. Istana Kepresidenan menyatakan bahwa penangkapan ini menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia telah mencapai tahap yang sangat parah, sehingga dianggap sebagai penyakit stadium akhir.
Absurditas dan Pemberontakan
Sejatinya kita baru saja merasakan apa yang disebut sebagai “absurditas”! Perasaan jengkel inilah jantung dari perjuangan melawan korupsi di negeri ini. Para aktivis, jurnalis investigasi, hingga staf KPK itu sendiri barangkali adalah para pahlawan kita yang setiap hari mendorong batu raksasa ke puncak gunung. Batu itu adalah tumpukan berbagai kasus korupsi, proyek mangkrak, dan anggaran siluman. Mereka mendorong dengan sekuat tenaga, keringat bercucuran, sampai di puncak… eh, batunya menggelinding lagi ke bawah. Besok? Ulangi lagi. Gila, kan?
Nah, seorang filsuf Prancis yang (kemungkinan) bau rokok bernama Albert Camus masuk ke perbincangan ini. Camus bilang, hidup ini memang absurd. Absurditas adalah benturan antara keinginan kita akan dunia yang adil dan masuk akal, dengan realitas dunia yang “bodo amat” dan sering kali brutal. Kita berteriak minta keadilan, tapi alam semesta (dan birokrasi yang korup) seolah budek dan cuma diam membisu.
Jadi, “pemberontakan” inilah pilihan yang paling mungkin. Pemberontakan, bagi Camus, bukan cuma soal turun ke jalan membawa spanduk (meskipun itu juga bagian darinya). Pemberontakan adalah menatap tajam mata absurditas itu lekat-lekat, mengakui bahwa masa depan perjuangan ini pekat, mungkin sia-sia, lalu dengan sadar berkata, “Oke, terus kenapa? Aku lawan!”
Para pejuang antikorupsi adalah pemberontak sejati dalam drama absurd ini. Ketika seorang jurnalis tetap menulis laporan investigasi meski diintimidasi, ketika seorang pendidik tetap mengajarkan nilai-nilai integritas di tengah sistem yang bobrok, ketika KPK terus melakukan OTT meski kewenangannya coba untuk dipreteli—mereka semua sedang melakukan pemberontakan. Mereka menemukan makna bukan pada “kemenangan akhir” yang mungkin tak akan pernah diraih, melainkan pada tindakan perlawanan itu sendiri.
Ini seperti Sisyphus, tokoh mitologi Yunani yang dihukum mendorong batu selamanya. Camus menyuruh kita membayangkan Sisyphus tersenyum. Kenapa? Karena saat batu itu menggelinding ke bawah dan ia berjalan santai untuk mengambilnya lagi, pada momen itulah ia menjadi bos atas takdirnya sendiri. Ia menertawakan para dewa. Ia menemukan kebahagiaan justru dalam perjuangannya yang tanpa akhir.
Melihat kasus korupsi yang seolah tak terkalahkan memang benar-benar memuakkan. Rasanya seperti menyaksikan penyakit kronis yang tanpa henti menggerogoti kepercayaan publik, merusak sendi-sendi keadilan, dan bahkan menghancurkan fondasi masyarakat kita. Kondisi ini sering kali membuat banyak orang merasa tidak berdaya, bahkan hingga pada titik putus asa, seolah perjuangan melawan korupsi merupakan upaya yang sia-sia. Korupsi menjelma menjadi bayangan Indonesia gelap yang menghalangi kemajuan, menghambat pemerataan, dan memperlebar jurang ketimpangan, menjadikan masa depan terasa suram bagi banyak kalangan.
Di tengah ‘suasana keputusasaan’ itu, kita juga menyaksikan mereka yang dengan keras kepala, tanpa henti, dan dengan tekad tak tergoyahkan terus melawannya. Mereka adalah individu-individu, kelompok masyarakat sipil, atau bahkan institusi yang menolak menyerah pada realitas getir ini. Dengan gigih, mereka menyuarakan kebenaran, membongkar praktik-praktik busuk (dan pembusukan), meskipun seringkali harus bersua dengan risiko dan tekanan yang besar.
Dalam keberanian untuk ‘berdiri tetap tegak melawan arus deras’, dalam keteguhan hati untuk memperjuangkan kebenaran meskipun tantangan begitu besar, mereka menemukan esensi dari kemanusiaan: semangat untuk tidak menyerah, harapan yang tak padam, dan keyakinan bahwa perubahan masih mungkin terjadi. Perjuangan mereka adalah pengingat bahwa meskipun korupsi adalah ancaman besar, kekuatan integritas dan keberanian kolektif jauh lebih dahsyat.
Segenap ikhtiar yang telah diupayakan tersebut merupakan kebanggaan luar biasa, yang berasal dari integritas, komitmen teguh terhadap keadilan, dan penolakan mereka untuk menyerah pada keputusasaan. Setiap laporan yang diajukan, setiap protes yang diorganisasi, setiap kebenaran yang diungkapkan adalah tindakan perlawanan. Itu adalah bukti ketabahan moral dan keyakinan akan masa depan yang lebih baik, betapapun nun jauh di sana.
Tarian Melawan Absurditas Korupsi
Perang melawan korupsi barangkali bukanlah pertandingan yang mudah atau bahkan mampu dimenangkan, melainkan sebuah tarian. Lebih tepatnya, ini adalah ‘tarian pemberontakan’ melawan absurditas yang terus-menerus mencoba menjerat kita. Melelahkan? Pasti. Menguras energi dan emosi adalah bagian tak terpisahkan dari setiap gerakan. Melihat bagaimana korupsi kerap kali bersembunyi di balik jubah kekuasaan atau tampil tanpa malu, dapat memicu amarah dan keputusasaan sosial.
Namun, justru dalam kelelahan dan frustrasi itulah esensi tarian ini ditemukan. Dengan terus menari, dengan terus melawan, kita menunjukkan bahwa kita menolak untuk diam dan menyerah begitu saja. Setiap langkah kecil, setiap suara yang digaungkan, setiap upaya untuk membongkar praktik tersebut, adalah sebuah penegasan bahwa kita tidak akan membiarkan ‘kegelapan’ merajalela.
Gerakan tarian ini tidak selalu terlihat besar dan heroik. Terkadang, ia hanya berupa bisikan-bisikan kecil di sela-sela obrolan tentang isu-isu yang sedang ramai. Ia juga bisa terwujud dalam sebuah komunitas kecil yang bertekad untuk transparan dalam pengelolaan dana. Semuanya adalah langkah-langkah koreografi yang menantang arus, sebuah pernyataan bahwa kebenaran masih menjadi kompas moral kita.
Namun, seperti tarian lainnya, tarian ini juga membutuhkan ritme dan harmoni. Ritme itu adalah konsistensi—keteguhan kita untuk terus menolak korupsi, bahkan saat tidak ada yang melihat. Harmoni itu tercipta saat berbagai elemen masyarakat—dari aktivis, jurnalis, penegak hukum yang jujur, hingga warga biasa—bergerak bersama. Mereka saling melengkapi, menciptakan sebuah pertunjukan yang lebih kuat dan beresonansi luas. Kita mungkin merasa sendirian saat melangkah, tetapi sebenarnya ada ribuan atau bahkan jutaan orang yang menari bersama kita, di bawah langit yang sama, melawan awan kegelapan yang sama.
Pada akhirnya, tarian ini bukanlah tentang akhir yang bahagia di mana korupsi benar-benar musnah. Sebaliknya, tarian ini adalah tentang proses itu sendiri—proses untuk terus memelihara integritas, untuk terus menyuarakan kebenaran, dan untuk terus berjuang demi masa depan yang lebih adil. Selama ada yang mau menari, selama ada yang mau menolak absurditas, maka ‘cahaya perlawanan’ akan terus menyala.
*Penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.













