SAYA tidak pernah bertemu Gus Dur secara langsung ketika beliau masih hidup. Tidak ada jabat tangan, tidak ada foto bersama, tidak ada kenangan personal yang bisa saya ceritakan secara romantik. Namun, justru dari ketiadaan perjumpaan fisik itulah saya belajar satu hal penting: bahwa pengaruh seorang tokoh tidak selalu bekerja melalui kedekatan tubuh, melainkan melalui daya hidup gagasan. Saya mengenal Gus Dur melalui buku-buku, tulisan-tulisan tentangnya, arsip wawancara, rekaman humor, dan narasi media yang merekam keberaniannya melampaui zamannya. Di Madiun, saya bertumbuh bersama Gusdurian, sebuah komunitas yang berusaha meneladani sikap-sikap Gus Dur dalam praksis sehari-hari. Maka, Haul Gus Dur bukan sekadar peringatan wafat, melainkan ruang belajar kolektif tentang bagaimana menjadi manusia Indonesia yang utuh di tengah dunia yang kian retak.
Tema optimisme tahun baru 2026 dan peneladanan sifat-sifat universal Gus Dur menjadi relevan justru karena kita hidup dalam masa yang penuh kecemasan. Optimisme hari ini sering disederhanakan menjadi motivasi dangkal, seolah cukup dengan berpikir positif maka masalah akan selesai. Gus Dur menawarkan sesuatu yang lebih dalam. Optimisme baginya bukan penyangkalan atas realitas pahit, melainkan keberanian untuk tetap memihak kemanusiaan ketika realitas terasa tidak adil. Ia memahami bahwa harapan sejati tidak lahir dari euforia, tetapi dari kesadaran etis yang jernih.
Dalam banyak tulisannya, Gus Dur menunjukkan bahwa pluralisme bukan proyek politik, melainkan konsekuensi iman yang dewasa. Ia tidak melihat perbedaan sebagai gangguan, melainkan sebagai keniscayaan sejarah. Di titik ini, pemikiran Ibnu Rusyd terasa sejalan. “Perbedaan pendapat adalah rahmat, karena melalui perbedaan itulah akal manusia bekerja.” Dalam terjemahan maknawi ini, perbedaan tidak dipahami sebagai ancaman, tetapi sebagai sarana pendewasaan bersama. Gus Dur menghidupi gagasan tersebut dengan tindakan nyata, membela kelompok minoritas, membuka ruang dialog lintas iman, dan menolak kekerasan atas nama apa pun. Optimisme yang ia wariskan adalah optimisme yang inklusif, yang tidak mensyaratkan keseragaman untuk bisa hidup berdampingan.
Namun, meneladani Gus Dur juga berarti berani bersikap kritis terhadap kondisi kontemporer. Hari ini, kita menyaksikan bagaimana agama kerap direduksi menjadi identitas politik, dan kebangsaan dipersempit menjadi slogan emosional. Di ruang digital, kebencian bergerak lebih cepat daripada empati. Dalam situasi semacam ini, humor Gus Dur bukan sekadar kelucuan, melainkan strategi kebudayaan. Ia menertawakan absolutisme, merelatifkan ego, dan mengingatkan bahwa manusia terlalu rapuh untuk merasa paling benar. Di sini, kutipan Søren Kierkegaard kembali relevan: “Hidup hanya bisa dipahami ke belakang, tetapi harus dijalani ke depan.” Gus Dur memahami sejarah konflik bangsa ini, tetapi ia memilih melangkah ke depan dengan keberanian moral, bukan dendam kolektif.
Keterlibatan saya di Gusdurian Madiun memperlihatkan bahwa warisan Gus Dur bukanlah doktrin beku, melainkan laku hidup. Spirit universal yang ia tinggalkan menjelma dalam aksi-aksi kecil: merawat dialog, menolong yang terpinggirkan, menjaga ruang aman bagi perbedaan. Optimisme tahun baru, dalam perspektif ini, tidak diukur dari target ekonomi semata, tetapi dari seberapa sungguh kita memanusiakan manusia. Gus Dur mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian untuk bersikap adil dalam lingkup yang paling dekat.
Kritik perlu diarahkan pada kecenderungan kita mengagungkan figur Gus Dur tanpa meneladani risikonya. Kita nyaman mengutip namanya, tetapi enggan mengambil posisi sulit. Kita memuji pluralisme, tetapi diam ketika diskriminasi terjadi. Optimisme yang tidak disertai keberanian etis hanya akan menjadi hiasan wacana. Gus Dur justru mengingatkan bahwa membela kemanusiaan sering kali berarti siap disalahpahami. Ia tidak mencari citra, ia merawat nurani.
Menjelang 2026, spirit universal Gus Dur menantang kita untuk merumuskan ulang makna kemajuan. Apakah kemajuan hanya soal pertumbuhan angka, ataukah tentang kedewasaan moral. Apakah optimisme berarti menutup mata dari penderitaan, atau justru keberanian untuk terlibat di dalamnya. Gus Dur telah memberi contoh bahwa iman, kebangsaan, dan kemanusiaan tidak harus saling meniadakan. Ketiganya bisa berjalan bersama, jika kita bersedia mendengarkan lebih banyak daripada menghakimi.
Haul Gus Dur akhirnya menjadi cermin bagi kita semua. Bukan untuk menanyakan seberapa jauh kita mengenalnya, tetapi seberapa dalam kita bersedia berubah karenanya. Apakah kita siap merawat harapan tanpa membenci perbedaan. Apakah kita berani menertawakan ego sendiri demi ruang hidup bersama yang lebih adil. Dan di ambang tahun baru ini, pertanyaan yang paling mendesak barangkali adalah: optimisme macam apa yang sedang kita bangun, dan apakah optimisme itu cukup manusiawi untuk diwariskan kepada generasi setelah kita.
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional. Juga aktif berkegiatan di Gusdurian Madiun.













