PAMERAN “Katarsis” menampilkan karya-karya Ni Nyoman Sani dalam spektrum ekspresi yang lebih luas dari yang pernah dia buat sebelumnya. Sani, yang awalnya dikenal melalui karya–karya dengan subject matter figur perempuan modis dan dunia urban yang penuh dinamika, kini menghadirkan bahasa visual yang tidak lagi terikat pada representasi literal. Perjalanan estetiknya mendorongnya menuju wilayah di mana intuisi bekerja lebih dominan daripada bentuk, dan di mana emosi menemukan tubuh visualnya sendiri.
Menariknya, transformasi ini tidak berlangsung secara linier. Jika menelusuri praktik Sani dari awal karier hingga kini, kita menemukan pola pergeseran yang organik, sering kali terjalin antara spontanitas dengan hasil perenungan yang panjang. Pada satu sisi, dia menghadirkan bentuk figuratif bergaya ilustratif sementara pada sisi lain dia bergerak ke abstraksi (penyederhanaan bentuk) yang murni emosional. Dua kutub ini tidak saling meniadakan, namun justru saling memperkaya dan membuka ruang bagi pembacaan yang lebih dalam.
Ni Nyoman Sani lahir di Sanur, Bali, 10 Agustus 1975. Dia menamatkan pendidikan seni rupa di ISI Denpasar tahun 2001. Dia pernah menjadi ketua Seniwati Art by Womens (2012-2014) dan menjadi pendiri MotherArt Space. Sebagai pelukis, Sani telah terlibat dalam banyak pameran bersama, baik di dalam maupun luar negeri. Dan, sejak 1997, dia telah menggelar sejumlah pameran tunggal, antara lain: Perempuan di Curiocity of NafaMe Fashion Gallery, Singapura (2008), Osteria Delle Donne di Modena, Itali (2009), Reunion di Hans Jutte Residence Haarlem, Belanda (2009), Beauty di Lestari Grill and Pasta, Seminyak, Kuta, Bali (2015). Pada 2009, Sani pernah residensi seni di Haarlem, Belanda dan Modena, Itali. Dan pada 2015, dia terlibat dalam artist camp di Darwin (Australia). Tahun 2000, lukisannya masuk dalam “100 Finalis Philip Moris”, Jakarta, Indonesia. Tahun 2023, dia meraih Juara Pertama UOB Painting of the Year – Indonesia.
Karya-karya dalam pameran tunggal “Katarsis” yang digelar di Sanur Arthub sejak tanggal 7 hingga 15 Desember 2025 ini menampilkan fase menarik dalam proses kreatif Sani. Kita bisa melihat bentuk-bentuk hibrid yang menggabungkan humor visual, karakter satir, kenaifan, dan struktur anatomis yang sengaja dibuat ganjil. Sosok-sosok yang dia tampilkan merupakan entitas simbolik. Garisnya spontan, tetapi sekaligus tajam. Pilihan warna seperti merah dan hitam menunjukkan kecenderungan dramatis yang sudah sejak lama menjadi bagian dari ekspresi Sani.
Dalam pameran yang dikelola dan dikurasi oleh Ni Wayan Ugi Gayali Sugantika ini, Sani menggeser fokus dari subjek eksternal ke medan internal. Abstraksinya tidak terikat pada pola geometris maupun sistem komposisi formal. Namun Sani bekerja dengan alunan emosi, membiarkan tangan mengikuti alur intuisi. Sapuan-sapuan warna yang dia bangun sering tampil seperti kabut yang bergerak dan penuh misteri. Sementara garis-garis yang muncul tampak seperti jejak batin, bergerak liar, kadang terpatah, atau berputar. Semua itu menunjukkan kegelisahan personal yang ingin disuarakan Sani.
Transformasi tersebut berakar kuat dari masa pandemi covid, ketika ruang fisik menyempit namun ruang batin justru melebar. Dalam berbagai keterbatasan saat itu, Sani menemukan intensitas baru. Dia membiarkan dirinya mengalami, meresapi, dan melepaskan seluruh spektrum emosional yang selama ini terbungkus dalam rutinitas. Karya-karya dalam pameran ini lahir dari pengalaman itu. Suatu pengalaman bertemu dengan diri sendiri dalam jarak yang sangat dekat dan intim. Suatu pengalaman menggali-gali diri sendiri.
Ketertarikan Sani pada puisi memberikan kedalaman tersendiri pada karya-karya terkininya. Sani telah melahirkan sebuah buku puisi berjudul Melodia Rasa (Pustaka Ekspresi, 2023), yang menghimpun puisi-puisi 2010 hingga 2022. Puisi mengajarkan perhitungan bahasa, namun membiarkan makna bergerak bebas. Dalam “Katarsis”, hal ini tampak jelas. Pada karya-karyanya kita melihat abstraksinya seperti fragmen lirik yang terputus, sapuan-sapuan warnanya bagai kata-kata yang diredam, garis-garisnya ibarat jeda untuk memperkuat momen puitik.
Meskipun tidak lagi menghadirkan figur-figur perempuan modis seperti pada karya-karya terdahulu, kini Sani justru memperluas ranah ekspresinya. Kehadiran figur-figur simbolik pada karya-karya mutakhirnya yang menggunakan teknik screen print ini menunjukkan bahwa dia masih membawa kepekaan naratif. Narasi-narasi itu kini bergerak lebih dalam ke wilayah metaforis.
Misalnya bentuk burung pada beberapa karya Sani bisa dibaca sebagai metafora tentang kebebasan, bahkan absurditas hidup. Bentuk itu juga memancarkan keganjilan eksistensial yang sejalan dengan kegelisahan-kegelisahan Sani dalam proses berkeseniannya. Dalam konteks pameran ini, bentuk semacam itu menjadi titik penghubung antara karya masa lalu yang penuh figur modis dan karya masa kini yang banyak bermain di wilayah intuisi.
Dari karya figuratif yang penuh karakter hingga abstraksi yang meditatif, perjalanan berkesenian Sani memperlihatkan keberanian untuk terus berubah. Dan di dalam perubahan itu, dia menemukan kekuatan baru. Kekuatan untuk menyuarakan emosi sebagai sumber energi kreatif yang tak pernah habis.
Pameran ini membuka ruang bagi apresian untuk berdialog dengan warna, dengan garis-garis ritmis, dengan bentuk-bentuk yang ganjil. Setiap karya dalam “Katarsis” adalah medan resonansi. Apresian dapat merasakan ketegangan, ketenangan, atau bahkan absurditas yang terpampang pada karya. Namun, makna karya pada akhirnya selalu kembali pada pengalaman personal masing-masing apresian.
Melalui pameran ini, Sani memperlihatkan bahwa transformasi artistik adalah bagian tak terpisahkan dari transformasi personal. Selain sebagai dokumentasi visual dari pergulatan batinnya, pameran ini membuktikan bahwa seni dapat menjadi sarana untuk mengurai, memahami, dan merangkul kerapuhan diri. Melalui “Katarsis”, kita menyimak suara jiwa Sani.***
*penulis adalah sastrawan dan penyuka seni rupa.













