PADA era agraris, Bali mengenal dua ruang sosial. Ruang desa adat dan ruang subak, termasuk ruang abian (sering disebut subak abian). Kedua ruang ini mandiri sebagai republik kuno. Sumber daya yang menopang adalah sumber air danau dan hutan serta musim hujan. Mata air adalah sumber hidup. Ini dikelola untuk mengairi sawah. Desa-desa di pegunungan lebih beruntung karena dekat dengan sumber mata air.
Keberadaan mata air memicu warga desa membangun empelan (bendungan), aungan (terowongan), telabah (saluran air). Perhitungannya sangat akurat sehingga saluran air buatan dipastikan berada di posisi yang paling tinggi sehingga bisa mengaliri areal tanah yang luas.
Setelah saluran air dibuat, leluhur Bali mulai mencetak sawah (ngebet) dengan membongkar tanah hutan, semak, dan bebatuan. Semua peralatan sederhana, seperti linggis dari kayu dan cangkul. Proses ini lebih mudah dilakukan pada musim hujan. Pada saat itu, air hujan dimanfaatkan untuk menghanyutkan tanah galian yang tidak diperlukan.
Entah berapa musim hujan, sawah selesai dicetak. Namun demikian masih perlu waktu lama untuk terbentuknya ekosistem subak (lumpur, tanah lapang, air). Sawah baru, mulai ditanami padi tetapi tidak menghasilkan. Tanah masih terlalu subur. Padi puyung (kosong). Untuk mengurangi kesuburan tanah, sawah ditanami palawija. Seiring waktu, lapisan lumpur terbentuk sehingga sawah semakin hemat air. Air yang tidak digunakan sawah di bagian hulu dialirkan ke pangkung atau tukad sehingga dimanfaatkan oleh petani-petani di hilir.
Ketika sawah sudah menghasilkan padi, budaya pertanian dan kehidupan sosial baru dimulai di desa tersebut. Perayaan kuno dipilih dengan membangun pura subak dan menyusun aturan kerta masa. Jenis bibit padi yang ditanam. Giliran menanam. Pembagian air yang adil. Harga tenaga kerja (diukur dengan padi dan beras), dan lain lain.
Tenaga kerja, air, bibit, dan musim adalah urat nadi pertanian subak. Pada masa jayanya (hanya 250 tahun, saat ini subak di Bali telah memasuki dan ada yang sudah punah, red) subak dijamin oleh suatu keluarga yang menyediakan antara 3-5 tenaga kerja. Mereka bekerja sepanjang tahun. Kompak. Pagi hari ke sawah dan pulang saat senja. Sepanjang hari dan sepanjang musim, mereka kerja tiada putus. Sawah tidak bergantung pada tenaga upahan. Kecuali untuk satu kali waktu, saat panen (manyi) atau menanam (mula, nandur). Kebutuhan tenaga kerja yang banyak dengan terbentuknya seka manyi (gotong royong).
Para leluhur Bali membangun subak dalam keadaan perut lapar. Nyawa dipertaruhkan. Mereka tidak pernah bercita-cita agar subak mereka kelak untuk pariwisata atau untuk mendapat pengakuan UNESCO. Pariwisatalah yang ”menjual” subak. Lahan, air, dan pemandangannya dirampas oleh industri pariwisata (Ruben Rosenberg Colorni, 2018). UNESCO datang melabeli dengan daftar aturan dan promosi.
Pariwisata memang dituding sebagai penghancur subak, seperti penelitian Ruben Rosenberg Colorni. Ini ada benarnya, sebagai faktor luar (perampasan lahan dan air). Subak hancur karena faktor dalam. Orang Bali memiliki pilihan sektor baru pekerjaan. Lebih mudah dan mendapat upah cepat. Sawah di desa-desa di subak ditinggalkan ke kota atau ke sektor lain. Struktur tenaga kerja subak yang menyediakan tenaga kerja permanen berbasis keluarga, tidak ada lagi. Lalu di masa awal periode ini, subak dicoba disuplai oleh tenaga kerja harian. Mahal! Petani tidak sanggup membayar. Subak terbengkalai.
Kerja di sawah sangat berat. Pekerjaan memlihara padi adalah pekerjaan sepanjang tahun. Rumput dan gulma tumbuh sangat cepat. Lebih cepat dari pertumbuhan padi. Sawah harus dalam keadaan rapi. Air mengalir tiada henti. Longsor-longsor di pematang dan saluran air harus dijaga. Petani harus siap kerja di bawah hujan angin dan suhu dingin, sayong, sambaran halilintar. Jika menunggu hujan reda maka waktu habis dan rumput semakin tinggi. Untuk ini, pola kerjanya rutin sepanjang tahun dan harus ada tenaga yang konsisten (3-5 orang). Mereka tidak memiliki kesibukan atau pekerjaan lain. Karena kerja rutin sehingga kerja di sawah tidak terasa berat. Kerja di sawah seperti kerja pekebun. Padi yang dihasilkan dinikmati bersama oleh keluarga pemilik atau penggarap.
Menjadi keluarga petani, saya dapat merasakan betapa berat kerja di sawah. Jika ada sawah terbengkalai jangan salahkan si pemilik (petani). Mereka tidak memiliki tenaga kerja tetap. Sanak saudara mereka kerja di sektor lain. Mencari penyakap juga sulit. Nyakap tidak menguntungkan. Akhirnya sawah tidak digarap. Satu periode tanam saja lewat, maka sawah akan lenyap di balik tumbuhan ilalang dan glagah. Sawah pun dijual. Lalu dibangun villa.
Membawa orang Bali ke luar dan sebaliknya Bali tetap terbuka bagi pendatang adalah tidak masuk akal. Ini pandangan yang sangat dengkul. Mencetak sawah baru juga pandangan dengkul. Asal keluar dari mulut pejabat.
Pada saat yang bersamaan petani di Subak Jatiluwih menuntut keadilan. Ini wajar. Mereka menyaksikan dirinya jadi sapi perah dan tontonan wisatawan. Yang untung biro perjalan, pemandu wisata, pengusaha hotel, restoran. Petani terusik oleh pariwisata karena mereka dijual habis. Tapi mereka tidak menerima hasilnya.
Saat nanti semua sawah dijual. Dijadikan hotel, restoran, villa. Dan pada saat itu juga pariwisata Bali hancur karena tidak ada roh subak lagi. Mirip akhir pertarungan singa (Canda Pinggala) dan lembu (Nandaka) dalam Candapinggala. Subak dan pariwisata tidak ada lagi!













