BADUNG, Balipolitika.com- Bersatunya Lukluk, Sading, dan Kwanji. Setiap wilayah pasti memiliki kisah historisnya. Kisah ini menjadi latar belakang berdirinya sebuah nama. Begitu juga dengan Sejarah Kelurahan Sempidi yang unik. Dulu, Sempidi mewilayahi Sading, Lukluk, dan Sempidi. Awalnya, wilayah ini hanya dikenal sebagai Perbekel Sempidi.
Meskipun sulit diungkap, kita mencoba mencari jejaknya. Kami mengumpulkan cerita dari lontar dan tokoh masyarakat. Kisah ini membawa kita kembali ke masa pemerintahan kerajaan.
Tukad Ara dan Batas Kerajaan Kuno
Pada masa pemerintahan Sang Ratu Sri Gunapriyadharma Patni. Beliau memimpin bersama kakaknya, Sri Dharma Dayana Warmadewa. Wilayah Desa Sempidi saat itu masih berupa hutan. Hutan itu dikenal sebagai Alas Ara atau Hutan Ara.
Menurut Prasasti Sading A, sungai di timur Sempidi dinamakan Er Ara. Tukad Ara (Sungai Ara) ini punya peran penting. Sungai ini dijadikan batas selatan Kerajaan Bantiran. Hal ini termuat dalam Prasasti Sading A, Bab Ib.
Prasasti itu mencatat pengumuman raja pada Saka 923. Batas selatan Kerajaan Bantiran adalah Tukad Ara. Tukad Ara yang Cangkupan dan Batu Makaem. Batasan ini mencirikan daerah tersebut. Di sekitar Tukad Ara banyak ditumbuhi Pohon Ara. Pohon inilah yang memberi nama Alas Ara.
Pemukiman Sampidi yang Menyatu
Setelah Sri Jaya Sakti menjadi Raja Bali. Wilayah Bantiran kemudian dirusak oleh “semut.” Peristiwa ini tercatat dalam Prasasti Sading B. Pada masa itu, wilayah Sempidi sudah menjadi pemukiman.
Namun, pemukiman itu masih terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah separuh utara Tukad Aungan. Ini termasuk wilayah Bantiran Lama. Bagian kedua adalah separuh selatan Tukad Aungan. Wilayah ini merupakan Bantiran Baru.
Saat Dalem yang berpusat di Gelgel memerintah Bali. Seluruh pemukiman itu kemudian dijadikan satu. Pemukiman tersebut menjadi satu Desa Pakraman. Desa ini dinamakan Desa Sampidi berdasarkan mufakat.
Makna Kata “Papupul”
Kata “Sampidi” ini lama kelamaan menjadi Sempidi. Sejarah Kelurahan Sempidi mengandung makna yang mendalam. Kebijaksanaan tokoh masyarakat kala itu terbukti nyata.
Dalam Lontar Aji Krakah tertulis makna kata itu. Kata “Sampidi” ternyata berarti papupul atau penyatuan. Hal serupa disebutkan dalam Kidung Paban Cangah. Di sana, kata Sanghara berarti papupul. Kata Sanghara juga berarti rereg dalam bahasa Kawi. Rereg adalah bahasa Sansekerta dari Alas Ara. Jadi, kata Sanghara berarti penyatuan Hutan Ara. Ini memperkuat bahwa Sampidi berarti papupul atau penyatuan.
Kelurahan Sempidi kemudian berkembang pesat. Desa di selatannya, Kwanji, ikut menyatukan diri. Mereka bergabung bersama Sading, Lukluk, dan Anggungan. Kelompok ini membentuk Perbekel Sempidi.
Pada 25 November 1997, Kelurahan Sempidi dimekarkan. Pemekaran ini membentuk tiga wilayah baru. Kelurahan Sempidi kini hanya meliputi Desa Adat Sempidi dan Kwanji. Kelurahan Lukluk dan Kelurahan Sading berdiri sendiri. Kelurahan Sempidi adalah simbol penyatuan wilayah. Apakah Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang tokoh raja-raja Bali?. (BP/CHA).
Sumber artikel: https://kelurahansempidi.badungkab.go.id













