TERMINAL itu seperti tubuh tua yang dipaksa tetap terjaga. Ia bernapas lewat deru mesin bus yang tidak pernah benar-benar diam, lewat asap knalpot yang menggantung rendah di udara, lewat suara pengeras yang pecah dan serak ketika memanggil nama kota-kota jauh. Lampu-lampu kekuningan menggigil di langit-langit terminal seperti mata renta yang menolak terpejam meski malam telah larut. Di sudut-sudut bangunan, cat tembok mengelupas pelan dimakan hujan dan waktu, memperlihatkan lapisan semen kusam yang lembap.
Lantainya dipenuhi jejak kehidupan yang singgah sebentar lalu pergi. Bekas lumpur sandal para perantau, tetes kopi yang mengering, puntung rokok, dan genangan air hujan yang memantulkan cahaya neon seperti potongan langit pecah. Bau solar bercampur aroma gorengan dingin, mi instan, dan jas hujan basah mengendap tebal di udara. Sesekali angin malam masuk dari jalur keberangkatan, membawa hawa dingin bercampur debu jalanan dan suara klakson dari kejauhan.
Di bangku-bangku panjang dekat ruang tunggu, orang-orang duduk dengan wajah lelah: seorang ibu memeluk anaknya yang tertidur, lelaki tua bersandar sambil memegang tas lusuh, sepasang kekasih berbicara lirih seolah takut perpisahan mendengar percakapan mereka.
Sementara di luar sana, hujan menggantung di langit seperti sesuatu yang belum selesai jatuh. Terminal itu bukan sekadar tempat orang datang dan pergi. Ia lebih mirip ruang tempat kenangan transit sementara sebelum akhirnya hilang ke kota lain.
Malam merayap pelan di sela-sela lampu yang redup, pada cat tembok yang mengelupas, pada suara mesin bus yang meraung seperti napas panjang seseorang yang terlalu lama hidup. Bau solar bercampur aroma kopi sachet dan gorengan dingin mengendap di udara, sementara hujan menggantung di langit yang belum jatuh, tetapi terasa sudah membasahi dada.
Aku datang ke terminal itu pada sebuah November yang basah. Bulan ketika kota seperti kehilangan matahari. Hari-hari dipenuhi langit kelabu dan orang-orang berjalan lebih cepat daripada biasanya, seolah semua sedang berusaha pulang sebelum kenangan mengejar mereka dari belakang.
Aku baru tiba dari Bandung sore itu. Tas ransel kusam menggantung di pundak, berisi beberapa buku, dua stel pakaian, dan naskah puisi yang tidak pernah berhasil kuterbitkan. Aku duduk di bangku beton dekat jalur keberangkatan antarkota sambil memandangi genangan air di lantai terminal yang memantulkan cahaya lampu kekuningan.
Di seberang sana, seorang anak kecil menangis karena balonnya lepas. Seorang ibu memarahi suaminya karena lupa membeli susu. Seorang lelaki tua tertidur sambil memeluk kardus. Dan di antara semua keramaian yang tampak lelah itu, aku melihat perempuan itu. Ia duduk sendirian di dekat tiang besi berkarat. Di sampingnya terdapat beberapa payung hitam tersandar rapi seperti burung-burung yang kelelahan terbang.
Perempuan itu mengenakan sweater abu-abu yang terlihat kebesaran. Rambutnya panjang, sedikit bergelombang, jatuh sampai melewati bahu. Ada sesuatu pada wajahnya yang sulit dijelaskan bukan cantik seperti perempuan-perempuan dalam iklan kosmetik, melainkan wajah yang terasa akrab, seperti lagu lama yang samar-samar pernah kaudengar ketika kecil.
Ia sedang membaca buku. Sampulnya biru tua dan tampak lembap. Sesekali angin meniup halaman-halamannya. Aku tidak tahu kenapa aku terus memerhatikannya. Mungkin karena di terminal itu semua orang tampak tergesa, sementara perempuan itu duduk seperti seseorang yang tidak sedang menunggu waktu.
Ia mengangkat wajah pelan ketika aku mendekat. “Mau beli payung?” suaranya lembut, tetapi terdengar jauh. Seperti datang dari ruangan lain. Aku mendongak ke langit terminal yang bocor di beberapa bagian. “Belum hujan.” jawabku. Perempuan itu tersenyum kecil. “Hujan sering datang sebelum manusia menyadarinya.” ujarnya. Aku tertawa tipis, mengira itu hanya cara aneh untuk menjual barang. “Kalau hujannya tidak jadi turun?” aku mengajukan pertanyaan. “Berarti ada seseorang yang berhasil melupakan kenangannya hari ini.” jawabnya dengan tenang.
Aku tidak menjawab. Angin dingin berembus dari arah jalur bus malam. Plastik-plastik bekas bergerak pelan di lantai seperti ikan mati. Lalu hujan turun. Tiba-tiba saja. Rintik kecil mula-mula jatuh di atap seng, lalu semakin rapat hingga suara terminal dipenuhi gemuruh air. Orang-orang berlari mencari tempat teduh. Pedagang rokok menutup dagangannya dengan terpal. Seorang kernet mengumpat karena koper penumpang basah.
Aku memandang perempuan itu sekali lagi. Ia masih duduk tenang. Seolah hujan bukan sesuatu yang datang dari luar tubuhnya. “Mau satu?” tanyanya sambil mengangkat payung hitam. Aku mengangguk. Tangannya dingin ketika menyerahkan payung itu kepadaku. Dingin seperti air sumur saat subuh.
“Berapa?” tanyaku.
“Bayar seingatmu,” katanya.
Aku mengernyit. “Kalau saya lupa?”
“Berarti memang tidak perlu dibayar.” jawabnya tenang sambil tersenyum.
Matanya menatapku lama sekali setelah mengatakan itu. Bukan tatapan yang menuntut jawaban, melainkan seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu. Aku membuka dompet dan memberinya uang seadanya. Ia menerimanya tanpa menghitung. Lalu kembali membaca bukunya. Aku sempat melihat potongan judul di sampul biru yang mulai pudar terkena air. “…yang Lupa Pulang.” Hanya itu yang terbaca.
***
Sejak malam itu aku mulai sering datang ke terminal. Kadang sore. Kadang lewat tengah malam. Bahkan ketika aku tidak hendak bepergian ke mana pun. Aku hanya merasa terminal itu menyimpan sesuatu yang tidak bisa kutemukan di tempat lain. Mungkin kesepian. Mungkin ketenangan. Atau mungkin perempuan itu.
Namanya Ayu. Setidaknya begitu yang ia katakan ketika suatu malam aku memberanikan diri bertanya.
“Ayu siapa?” ujarku.
Ia memandang hujan di luar terminal cukup lama sebelum menjawab. “Ayu Hujan.”
“Kamu serius?” aku terkaget dengan jawabannya.
“Hujan selalu punya nama. Hanya manusia yang jarang bertanya.” katanya.
Jawabannya membuatku tertawa, tetapi juga sedikit takut. Kadang aku merasa perempuan itu tidak benar-benar berbicara kepadaku, melainkan kepada sesuatu yang tidak terlihat di sekitar kami. Malam demi malam berlalu. Aku mulai hafal kebiasaannya. Ia selalu datang sebelum hujan turun. Selalu membawa buku puisi yang sama. Selalu duduk di bangku paling ujung dekat jalur keberangkatan kota-kota jauh.
Dan anehnya, aku tidak pernah melihat siapa pun membeli payung darinya selain aku. Suatu malam listrik terminal padam. Gelap turun begitu cepat seperti kain hitam dilemparkan ke langit. Orang-orang berseru panik. Hanya suara hujan yang tetap tenang. Aku mencari perempuan itu di tengah keremangan. Ia masih duduk di tempatnya. Wajahnya samar terkena cahaya petir.
“Ayu.” kataku.
“Hm?” gumamnya.
“Kenapa selalu di terminal?” kataku penasaran. Ia menutup bukunya perlahan. Karena gelap, aku bisa mendengar suara halaman lembap saling bergesekan.
“Karena terminal adalah tempat orang-orang saling meninggalkan.” Jawabnya.
“Maksudmu?” kataku kemudian.
“Semua orang di sini sedang pergi,” katanya lirih. “Tetapi tidak semua benar-benar sampai.” ujarnya menegaskan. Aku diam. Dan entah mengapa tengkukku meremang.
“Dan kamu?” katanya menelisik.
“Aku menunggu seseorang.” jawabku sekenanya.
“Pacarmu?” perempuan itu tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia. Lebih mirip seseorang yang sedang mengingat luka lama.
“Orang yang belum sempat mengucapkan selamat tinggal.” Kataku. Petir menyala sesaat. Dalam kilatan cahaya itu, aku melihat matanya basah. Bukan karena hujan.
***
Hari-hari berikutnya menjadi aneh. Setiap kali aku memikirkan Ayu, hujan turun. Di jalan. Di kampus. Di kamar kos. Seolah langit memiliki hubungan rahasia dengan perempuan itu. Aku mulai menulis puisi. Tentang terminal. Tentang payung hitam. Tentang perempuan yang wajahnya terasa seperti kenangan yang belum pernah terjadi.
Sampai suatu sore aku datang ke terminal dan tidak menemukan siapa-siapa di bangku ujung. Payung-payung itu hilang. Buku biru itu hilang. Yang tersisa hanya bau samar tanah basah dan satu genangan air kecil di lantai. Aku menunggu sampai malam. Ayu tidak datang. Aku bertanya kepada penjual kopi tua dekat pintu masuk.
“Pak, perempuan penjual payung yang biasa di sini ke mana?” tanyaku. Lelaki tua itu mengangkat alis. “Perempuan?” tanyanya kebingungan. “Yang rambut panjang. Sering duduk dekat jalur keberangkatan.” jelasku. Ia menatapku cukup lama. Lalu tertawa kecil. “Mas sendirian dari tadi.” Katanya. Dadaku mendadak dingin. “Bukan, Pak. Yang jual payung.” aku berusaha menjelaskan. “Di terminal ini tidak ada yang jual payung.” tegas lelaki tua itu.
Suara hujan mendadak terdengar sangat jauh. Aku menelan ludah. “Tapi saya sering ngobrol sama dia.” aku masih berusaha menjelaskan. Lelaki tua itu menggeleng pelan. “Dulu memang pernah ada perempuan muda meninggal di sini,” katanya lirih. “Tertabrak bus malam waktu hujan deras.”
Aku membeku. “Kapan?” hampir tanpa suara. “Sudah lama.” kata lelaki tua itu dengan datar. Angin dingin masuk dari lorong terminal. Aku menoleh ke bangku ujung. Kosong. Tetapi entah kenapa, aku merasa seseorang masih duduk di sana. Membaca buku puisi yang basah itu.
***
Malamnya aku membuka payung hitam yang dulu kubeli. Payung itu masih sedikit lembap meski sudah berminggu-minggu kusimpan. Di bagian dalam kainnya, ada tulisan tangan dengan huruf yang begitu kecil dan hampir hilang, terhapus. “Tidak semua yang hilang benar-benar pergi.” Di bawah kalimat itu terdapat nama, “Ayu.” Dan di sudut paling bawah, samar-samar seperti cap tinta yang luntur oleh hujan, tertulis, “Kamar 13.” Di luar jendela, hujan turun perlahan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa hujan bukan lagi cuaca, melainkan seseorang yang sedang mencoba pulang.
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.













