BALI, Balipolitika.com – Tampaknya bule nakal bukan lagi sekadar isapan jempol semata, khususnya bagi Bali saat ini. Kelakuan bule atau warga negara asing (WNA) kali ini benar-benar di luar nalar dan jauh dari kata bermoral.
Belum lama geger, masalah mutilasi WNA, yang ironinya pelaku sesama WNA dari Ukraina dan juga Rusia. Kemudian pelaku kini masih DPO. Terbaru muncul kasus video asusila, film dewasa yang jauh dari konteks Pulau Dewata.
Bule seakan-akan lepas kendali, dan merasa bisa melakukan apa saja di Bali, sampai hal maksiat dan melanggar hukum. Dengan dalih, masyarakatnya ramah dan open minded, WNA kali ini benar-benar lepas kontrol.
Tanpa menyalahkan siapapun, semua stakeholder memang harus berbenah. Mulai dari Imigrasi di pintu masuk, pengusaha pariwisata seperti hotel, vila, homestay. Aparat kepolisian dan keamanan. Pemerintah dan para pemangku kebijakan di DPR.
Serta tentu saja aparat paling bawah dan vital seperti desa dan desa adat, dalam mengontrol warganya, usaha mereka, siapa saja yang masuk dan berbisnis. Bukan cuek bebek lalu membiarkan begitu saja, dengan alasan urusan pribadi masing-masing.
Masalahnya, kalau terjadi apa-apa semua akan merembet kemana-mana. Seperti kasus bule yang meninggal dunia di beberapa penginapan, penemuan dalam keadaan membusuk, tentu akan mencoreng citra penginapan, lalu menyeret aparat desa setempat dan meluas kemana-mana.
Alhasil belakangan lebih sering menngklarifikasi daripada mengatasi sejak awal. Semua saling lempar handuk, tidak ada yang mau jadi tersangka, semua mengaku korban padahal punya kuasa untuk mengecek sedetail mungkin pendatang dari luar negeri itu tatkala datang ke Bali.
Belum lagi, kasus sampai ada laboratorium narkoba, dan ini sudah 2 kali penemuannya di Badung dan Gianyar. Fakta ini sungguh mengerikan, dan sangat berlawanan dengan narasi Generasi Emas Indonesia. Sementara obat terlarang itu, produksinya saja ada di Bali dan lama sekali terendus.
Entah sudah berapa anak yang mencicipi barang haram itu, atau bahkan beberapa sudah ketagihan sampai lupa akan dirinya sendiri. Perang yang kian memanas, akan membuat banyak orang asing memilih pindah tinggal. Sayangnya Indonesia dan Bali masuk ke dalam salah satu pilihan terbaik.
Dengan biaya murah dan keamanan yang nyata, turis asing ini bisa hidup enak dan layak sampai terkadang lupa diri sedang berada di negeri orang. Membuat onar lalu kemudian merasa diri korban dan berlaku seenaknya, tak jarang bahkan membahayakan warga lokal. Untuk itu, mari segera berbenah demi masa depan Bali. (BP/OKA)









