Tandaskan Tubuhku di Terang Tubuhmu
Tandaskan tubuhku di terang tubuhmu
berkali-kali
meskipun beberapa hal terus ditahankan
meskipun beberapa wujud mengunci ketiadaanku
Tandaskan tubuhku di terang tubuhmu
berkali-kali
sekalipun setiap dusta berbaris santun
Mengisi semua usaha tercela
yang terus musnah di lambungku
Tandaskan tubuhku di terang tubuhmu
berkali-kali
sekalipun hanya satu hal yang menggoyangku
Pada sepenggal bual-bual
tanpa jalan keluar terpancar
Pada seranting bencana
yang diam-diam memberi hidup baru.
2023
Pagi, Stasiun Kereta
Lampau meluruh diri ketika jadi nama
bagi parau-parau yang terkosongkan
sesuatu rindu, membawa gas air mata
mengembalikan kecemasan-kecemasan yang sirna
Aku pegang kepayang yang menyiarkan ketenangan
selepas sang wayang gugup mencari lubang lakon
di jalan-jalan kenangan, tanpa gebukan mega-mega
penuh bias yang melias
Kemarin, segerbong kereta membawa penumpang
seperti biasa
seperti biasa
rel-rel menyapa mesin bising
kesibukan-kesibukan mencaci jalur-jalur
kita terus ikuti
kita terus ikut
kita terus—
itu lagi?
2023
Empat Belas Detik
empat belas detik seseorang menghibur diri
pada sebuah pentas
yang dijanjikan sebagai pemutilasian
pernikahan tiba di pekarangan
dadaku ditangkap tentara
markas militer hidup di hati
yang tidak pernah menjadi Kodir Sapriyan
yang tidak pernah menjadi Adul Dulkacino
berburung-burung penuh di kandang
mendinginkan dadaku
di kulkas rusakmu
ke token listrik mimpiku
yang berbunyi selalu
datanglah serupa lelah di sisipan kasur
segar membangunkanku
ketika menyaksikanmu selalu ada
sebelum ke dompet
guna memeluk tubuhku yang tertambat
sebelum ke ruko kosong
guna menunggu hiasan ciuman terbongkar
sebelum ke vas raga
tempat bunga-bunga membatin-batin
ada misteri masa depan
tidak pernah kita lengungkan
di zaman kanak
walau kejelasan hidup yang menolak keluputan
selalu berdering
cinta yang kurang diajar
merayakan ledakan rumah sakit
sesekali melindungi anak orangkaya
yang menabrak seorang yatim
seorang lelaki berangkali perempuan
di sebuah jalan tol. mungkin jakun
pernah meminta bayaran.
2024
BIODATA
Giffari Arief. Lahir di Padang. Sekarang berkegiatan sebagai pedagang ikan di Nunukan, Kalimantan Utara. Beberapa puisinya pernah terbit di publikasi sastra independen berbahasa asing seperti Unlesbar: Zeitschrift für Verweigerte Poesie, De Dode Dichterkrant, La Boca Cerrada, Neizlasāmai; serta sejumlah media di Indonesia seperti Koran Singgalang, Majalah Mata Puisi, dan Zine Rakyat Bicara.













